Wali Kota dan Pemuda Tallo–Bontoala Sepakat: Capek Berkelahi, Saatnya Cari Masa Depan

Makmur Idrus, Makmur Idrus, penulis opini.
Makmur Idrus, Makmur Idrus, penulis opini.

Oleh Makmur Idrus

“Capek berkelahi. Tidak ada yang menang, yang ada hanya luka dan penjara. Sekarang saatnya cari kerja, cari masa depan.”

Kalimat sederhana itu diucapkan seorang tokoh pemuda dalam momentum rekonsiliasi Tallo–Bontoala. Namun, kekuatannya jauh melebihi ribuan imbauan resmi. Di balik kata-kata itu tersimpan jeritan generasi yang lelah hidup dalam lingkaran konflik turun-temurun.

Kita semua tahu, Tallo dan Bontoala sudah lama menjadi episentrum perang kelompok di Makassar. Bentrokan demi bentrokan diwariskan dari kakak ke adik, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Lorong-lorong sempit di dua kecamatan ini lebih sering menjadi arena perang daripada ruang bermain. Batu, busur, dan parang terasa lebih akrab dibanding buku sekolah dan peralatan kerja. Potret ini bukan sekadar persoalan kriminal, melainkan luka sosial yang mencoreng wajah kota.

Karena itu, langkah Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin patut diapresiasi. Ia tidak hanya memimpin rekonsiliasi simbolik, tetapi juga menawarkan jalan keluar yang lebih konkret: pelatihan keterampilan seperti barista, mekanik, dan menjahit; kegiatan olahraga untuk menyalurkan energi muda; pemberdayaan ibu rumah tangga; hingga rencana pembentukan Creative Hub sebagai wadah kreatif anak muda Tallo dan Bontoala.

Datangi Kediaman JK untuk Silaturahmi, Wali Kota Makassar Appi: Penting Kami Mendengar Nasihat

Rekonsiliasi yang melibatkan tokoh pemuda dari kedua belah pihak merupakan terobosan penting. Mereka adalah aktor utama di lapangan, yang mampu menggerakkan teman-temannya. Ketika pemuda bersedia duduk bersama, berbicara dari hati ke hati, dan mulai merancang masa depan bersama, api permusuhan perlahan bisa dipadamkan dari dalam. Suara “capek berkelahi” adalah tanda jelas bahwa generasi muda ingin keluar dari lingkaran dendam, asalkan tersedia ruang dan peluang baru.

Dalam teori konflik, Johan Galtung membedakan negative peace—damai semu, sekadar berhenti berkelahi—dengan positive peace—damai sejati yang ditopang keadilan sosial. Selama ini, perdamaian di Makassar cenderung berhenti pada negative peace: jabat tangan, foto bersama, lalu seminggu kemudian bentrokan kembali pecah. Yang dibutuhkan Tallo dan Bontoala adalah positive peace melalui transformasi sosial: membuka lapangan kerja, memperkuat pendidikan, membangun jembatan sosial, dan menghadirkan masa depan bagi pemuda.

Wali Kota sudah menyalakan api awal transformasi itu. Namun, api hanya akan bertahan bila dijaga bersama: pemerintah, aparat, tokoh agama, keluarga, hingga masyarakat. Program yang dijanjikan tak boleh berhenti di atas kertas. Ia harus benar-benar hadir di lorong-lorong, menyentuh langsung kehidupan pemuda yang selama ini terjebak dalam budaya konflik.

Makassar terlalu besar untuk terus dipenjara stigma sebagai “kota tawuran.” Jika Tallo dan Bontoala—selama ini pusat konflik—berhasil ditransformasi, maka seluruh wajah kota akan ikut berubah. Rekonsiliasi ini harus tercatat bukan sebagai seremoni sesaat, melainkan sebagai titik balik sejarah: dari lorong konflik menuju lorong harapan, dari energi destruktif menjadi energi kreatif, dari dendam menjadi peradaban.

Wali Kota Munafri Bersama Ketua TP PKK Makassar Sambut Warga Bersilaturahmi di Rujab

Berita Terbaru

Berita Terpopuler

01

Khamenei Gugur dalam Serangan Militer AS–Israel di Teheran

02

Pererat Silaturahmi Alumni, IKA Teknik Sipil Unhas Gelar Halal Bi Halal 2026

03

Buka Puasa Penuh Inovasi! RT 08 Permata Hijau Lestari Resmi Luncurkan Gerakan Wanita Tani 08

04

Bareng Daeng Guard, Story Gym Makassar Bagikan 1.000 Paket Takjil Ramadhan ke Masyarakat

05

KKG PJOK Tallo Jajaki Kolaborasi Program dengan Pemerintah Kecamatan

HUT Kabupaten Enrekang Ke-66
PEMKOT MAKASSAR - MANYALA.CO
Manyala.co

Olahraga

KKG PJOK KEC.TALLO Kolaborasi Dengan Fobi Makassar dan KKG UJUNG TANAH SANGKARANG

KKG PJOK Tallo, Tamalate, Panakkukang Gelar Pelatihan Deep Learning

Erick Thohir Bantah Laporkan FAM ke FIFA

PSSI: Tak Ada Naturalisasi Baru di FIFA Series

Olahraga Saat Puasa Aman dengan Penyesuaian Intensitas

KNPI Makassar Bersama KKG PJOK Tallo Gelar Kompetisi Futsal dan Voli Pelajar

Indonesia Ajukan Diri Tuan Rumah Piala Asia 2031

Indonesia ke Final Piala Asia Futsal Usai Kalahkan Jepang

Indonesia Lolos Perempat Final Piala Asia Futsal 2026

Indonesia Juara Grup A Usai Imbang Lawan Irak

Alwi Farhan Lolos Final Indonesia Masters 2026

Timnas Indonesia Hadapi Bulgaria, Solomon dan Saint Kitts di FIFA Series

Leo/Bagas Lolos Babak Kedua Indonesia Masters 2026

PSM Makassar Tambah Dua Pemain Asing Hadapi Putaran Kedua

Jonatan Christie Runner-up India Open 2026

PSM Makassar Hadirkan Bus Tim dan Rilis Jersey Khusus Suporter

Prabowo Realisasikan Bonus Atlet SEA Games 2025

Mental Juang PSM Makassar Diuji Jelang Laga Kontra Bali United

Malaysia Open 2026: Lima Wakil Indonesia Tampil di Babak 16 Besar

PSM Makassar Uji Pertahanan Hadapi Trisula Borneo FC

Kolom