Manyala.co – Kasus kematian pasien dengan komorbid akibat superflu di Bandung kembali menyoroti pentingnya pola hidup bersih dan sehat serta vaksinasi, menyusul peringatan dokter dan otoritas kesehatan terkait risiko Influenza A (H3N2) Subclade K.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin menjelaskan bahwa kematian pasien tersebut tidak disebabkan semata oleh infeksi virus influenza. Menurutnya, penyakit penyerta berperan besar dalam memperburuk kondisi pasien. Penjelasan itu disampaikan dalam konferensi pers pada Senin (12/1/2026).
Dokter pengajar Divisi Alergi-Imunologi Klinik, Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair), dr. Ari Baskoro, menyebut kasus kematian di Bandung harus menjadi pelajaran penting bagi masyarakat. Ia menegaskan bahwa secara umum influenza merupakan penyakit musiman yang bersifat self-limiting atau dapat sembuh dengan sendirinya apabila sistem imun berfungsi optimal.
Namun, ketika imunitas tubuh melemah, virus influenza dapat berkembang lebih agresif. Kondisi ini berpotensi memperberat penyakit penyerta yang sebelumnya terkendali. Risiko tersebut meningkat terutama pada kelompok rentan, seperti lanjut usia dan balita.
“Lansia di atas 65 tahun dan balita harus lebih waspada. Kalau lansia sistem imunitasnya mengalami kemunduran fungsi, sistem imunitas balita justru belum mencapai perkembangan yang sempurna,” ujar dr. Ari Baskoro melalui keterangan tertulis, Sabtu (17/1/2026).
Ia menekankan bahwa langkah pencegahan menjadi kunci utama dalam menghadapi superflu. Prinsip pencegahan dinilai serupa dengan pandemi Covid-19, yakni penerapan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) serta vaksinasi. Kedua langkah tersebut disebut sebagai modal paling efektif untuk menekan risiko penularan dan keparahan penyakit.
Vaksinasi influenza bertujuan meningkatkan respons imun tubuh terhadap virus. Sekitar dua minggu setelah vaksinasi, sistem kekebalan dinilai lebih terlatih dalam mengenali dan melawan virus influenza. Antibodi yang terbentuk dapat membantu menurunkan risiko komplikasi berat, terutama pada kelompok rentan.
Berdasarkan data epidemiologi global, superflu telah terdeteksi di sekitar 80 negara, termasuk Indonesia. Para ahli memperkirakan tren penyebaran akan melandai hingga Februari 2026. Meski demikian, Unair menyarankan pemerintah mempertimbangkan kebijakan vaksinasi pada kelompok tertentu, termasuk calon jamaah haji, sesuai indikasi medis.
Di tingkat daerah, Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah menerbitkan Surat Kewaspadaan Penyakit Influenza A (H3N2) Subclade K pada 7 Januari 2026. Surat tersebut memuat imbauan kewaspadaan serta informasi mengenai gejala dan pola penularan penyakit.
Gejala utama superflu meliputi demam tinggi dengan suhu tubuh mencapai 39 hingga 41 derajat Celsius, nyeri otot dan sendi yang berat, sakit kepala intens, serta gangguan saluran pernapasan seperti nyeri tenggorokan disertai batuk kering berkepanjangan.
Penularan influenza dapat terjadi melalui percikan droplet, kontak langsung antarindividu, maupun kontak tidak langsung melalui permukaan benda yang terkontaminasi. Hingga Sabtu malam, belum ada laporan resmi tambahan mengenai peningkatan signifikan kasus berat di luar yang telah dilaporkan otoritas kesehatan.
































