Manyala.co – Pernyataan tersebut disampaikan Musk melalui platform media sosial X, di tengah lonjakan nilai kekayaannya yang diperkirakan mencapai US$852 miliar atau setara sekitar Rp14.313 triliun. Lonjakan tersebut didorong oleh restrukturisasi dan penggabungan bisnis SpaceX dengan perusahaan kecerdasan buatan xAI menjelang rencana penawaran saham perdana (IPO).
Dalam unggahannya, Musk menanggapi pandangan umum bahwa kekayaan besar identik dengan kehidupan tanpa tekanan. Ia menyebut anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. “Siapa pun yang mengatakan, ‘uang tidak bisa membeli kebahagiaan’ benar-benar tahu apa yang mereka bicarakan,” tulis Musk, sebagaimana dikutip dari Fortune, Senin.
Pernyataan itu segera memicu diskusi luas di kalangan pelaku pasar dan tokoh bisnis global, mengingat Musk saat ini tercatat sebagai salah satu individu terkaya dalam sejarah modern. Nilai kekayaannya melonjak tajam dalam beberapa bulan terakhir, seiring meningkatnya valuasi perusahaan teknologi yang berada di bawah kendalinya.
Kenaikan tersebut sebagian besar berasal dari penguatan saham perusahaan antariksa SpaceX serta prospek xAI yang digadang-gadang menjadi pemain utama dalam industri kecerdasan buatan global. Namun, meski capaian finansialnya mencetak rekor baru, Musk mengindikasikan bahwa pencapaian tersebut tidak sejalan dengan kepuasan emosional pribadi.
Pandangan Musk turut mendapat tanggapan dari sejumlah miliarder lain. Manajer hedge fund Bill Ackman menilai kebahagiaan tidak semata ditentukan oleh akumulasi aset, melainkan oleh cara seseorang memandang dampak dan kontribusinya terhadap orang lain. “Banyak kebahagiaan datang dari membantu orang lain. Anda telah membantu jutaan orang, dan suatu hari kemungkinan akan miliaran. Anda hanya perlu menghargai apa yang telah Anda capai bagi begitu banyak orang,” ujar Ackman.
Sementara itu, investor dan pengusaha Mark Cuban menilai uang lebih berperan sebagai penguat kondisi emosional yang telah ada sebelumnya. “Jika Anda bahagia saat miskin, Anda akan sangat bahagia jika menjadi kaya,” kata Cuban. Ia menambahkan, “Jika Anda menderita, Anda akan tetap menderita, hanya dengan tekanan finansial yang jauh lebih sedikit.”
Pernyataan para tokoh bisnis tersebut sejalan dengan sejumlah temuan akademik mengenai hubungan antara pendapatan dan kesejahteraan. Studi Princeton University pada 2010 menunjukkan bahwa kesejahteraan emosional harian cenderung meningkat seiring pendapatan, tetapi mencapai titik jenuh setelah sekitar US$75.000 per tahun, atau setara Rp1,26 miliar.
Penelitian lanjutan dari Wharton School memberikan gambaran yang lebih kompleks. Peneliti Matthew Killingsworth menyatakan bahwa pendapatan yang lebih tinggi umumnya berkorelasi dengan tingkat kebahagiaan yang lebih besar, namun tidak berlaku universal. “Pengecualiannya adalah orang-orang yang secara finansial mapan tetapi tidak bahagia. Misalnya, jika Anda kaya dan menderita, lebih banyak uang tidak akan membantu,” ujarnya.
Hingga Senin malam, belum ada pernyataan lanjutan dari Musk terkait konteks personal di balik unggahan tersebut. Namun, pernyataannya kembali menyoroti perdebatan lama mengenai batas peran kekayaan material dalam menentukan kualitas hidup, terutama di tengah kesenjangan ekonomi global yang terus melebar.
































