Manyala.co – Suasana tegang dan mencekam terjadi di Damaskus pada Rabu malam waktu setempat ketika rudal-rudal Israel menghantam jantung kota secara mendadak. Bahkan, sebuah stasiun televisi Suriah menjadi saksi langsung atas insiden tersebut. Dalam tayangan yang kini beredar luas di media sosial, terlihat jelas pembawa acara berita dan seorang jurnalis perempuan berlarian menyelamatkan diri dari lokasi serangan.
Serangan udara tersebut terjadi ketika kamera masih menyala dan siaran sedang berlangsung secara langsung. Gedung Kementerian Pertahanan Suriah yang menjadi target utama Israel terlihat diselimuti asap tebal setelah terkena ledakan langsung. Situasi pun berubah drastis dari laporan berita menjadi kepanikan massal, termasuk kru televisi yang berhamburan meninggalkan lokasi.
Sumber dari Kementerian Kesehatan Suriah melaporkan bahwa sedikitnya tiga warga sipil tewas dan lebih dari 30 orang mengalami luka-luka akibat rentetan serangan tersebut. Korban luka dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi beragam, sebagian besar mengalami luka akibat reruntuhan bangunan dan pecahan kaca.
Motif Serangan dan Tuduhan Suriah Terhadap Israel
Pemerintah Suriah mengecam keras tindakan militer Israel, menyebutnya sebagai aksi agresi terang-terangan terhadap kedaulatan negara. Dalam pernyataan resmi yang dirilis Kementerian Luar Negeri Suriah, disebutkan bahwa serangan tersebut merupakan bagian dari strategi Israel untuk memicu instabilitas di kawasan, sekaligus memperburuk situasi kemanusiaan dan politik di dalam negeri Suriah.
“Ini adalah bentuk pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan menunjukkan upaya sistematis Israel untuk menghancurkan ketentraman di Suriah,” tegas pernyataan tersebut.
Pihak Suriah juga menyatakan akan menggunakan segala cara yang dijamin oleh hukum internasional untuk membela wilayah dan warganya dari serangan-serangan semacam itu. Kendati demikian, belum ada indikasi bahwa militer Suriah akan membalas secara langsung dalam waktu dekat.
Alasan Israel dan Tanggapan Para Pemimpin
Di sisi lain, pemerintah Israel mengklaim bahwa serangan tersebut ditujukan untuk melindungi komunitas Druze kelompok minoritas Arab yang berbasis di wilayah selatan Suriah dari tindakan represif oleh pemerintah Assad. Druze diketahui terlibat dalam bentrokan bersenjata dengan pasukan Suriah dalam beberapa pekan terakhir, yang telah memicu ketegangan di wilayah Suwayda dan Daraa.
Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Sa’ar, menyatakan bahwa tindakan ini merupakan bentuk upaya Israel menjaga stabilitas keamanan di perbatasannya. “Kami tidak akan membiarkan ancaman muncul di wilayah selatan Suriah yang dapat membahayakan Israel,” katanya dalam konferensi pers.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, bahkan sempat mempublikasikan cuplikan serangan melalui akun resminya dan menyebut bahwa “operasi telah dimulai dengan pukulan yang menyakitkan”.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang dikenal vokal terhadap rezim Suriah, kembali menyebut pemerintahan Assad sebagai “rezim Islam radikal” dan menyebut keberadaan mereka sebagai ancaman eksistensial bagi negara Yahudi tersebut.
Pernyataan PBB dan Kekhawatiran Internasional
Menanggapi krisis yang memanas, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mengeluarkan pernyataan keras yang mengecam kekerasan yang semakin memburuk di Suriah, khususnya di wilayah-wilayah seperti Suwayda, Daraa, dan pusat Damaskus.
Dalam pernyataannya, Guterres menyerukan penghentian segera atas semua aksi militer dan pelanggaran terhadap kedaulatan Suriah. Ia juga mengungkapkan keprihatinan mendalam atas jatuhnya korban sipil, serta laporan mengenai pembunuhan sewenang-wenang dan tindakan represif yang memperuncing ketegangan sektarian di negara tersebut.
Gencatan Senjata Goyah dan Masa Depan Suriah
Menariknya, pada hari yang sama saat serangan berlangsung, pemerintah Suriah sempat mengumumkan kesepakatan gencatan senjata baru dengan komunitas Druze. Namun, hingga kini belum ada kepastian apakah perjanjian tersebut akan efektif. Konflik internal antara kelompok Druze yang terpecah, serta tekanan dari militer Suriah, menjadi hambatan besar bagi keberlanjutan gencatan senjata tersebut.
Kondisi ini semakin mengindikasikan bahwa Suriah masih berada dalam pusaran konflik kompleks yang tidak hanya melibatkan aktor dalam negeri, tetapi juga kekuatan asing yang ikut memainkan peran baik secara langsung maupun tidak langsung.
Serangan Sebagai Kelanjutan Tekanan Terhadap Assad?
Banyak pengamat menilai bahwa langkah Israel tersebut bukan hanya demi melindungi Druze, tetapi juga bagian dari strategi jangka panjang untuk melemahkan posisi Presiden Bashar al-Assad. Setelah runtuhnya pemerintahan Assad Desember lalu, Israel dilaporkan telah meningkatkan intensitas serangan ke sejumlah titik strategis di Suriah.
Wilayah-wilayah seperti pusat komando militer, gudang senjata, serta fasilitas pemerintah dilaporkan menjadi target utama Israel sejak awal tahun 2025. Serangan pada Rabu malam tampaknya menjadi kelanjutan dari kampanye militer tersebut yang diklaim bertujuan menjaga keamanan nasional Israel.
Insiden ini menambah daftar panjang intervensi militer lintas batas yang dilakukan Israel ke wilayah Suriah. Dengan meningkatnya frekuensi serangan dan banyaknya korban yang berjatuhan, kekhawatiran terhadap potensi eskalasi konflik regional semakin nyata. Jika ketegangan terus meningkat, bukan tidak mungkin kawasan Timur Tengah akan kembali terjerumus dalam konflik berskala luas.
Untuk saat ini, perhatian dunia tertuju pada Damaskus. Serangan di ibu kota, terlebih ketika ditayangkan secara langsung di layar televisi, menegaskan bahwa perang tidak lagi terjadi di medan tempur tertutup tetapi dapat menyerbu ruang keluarga siapa pun, dalam sekejap.
































