Manyala.co – Fenomena keracunan massal pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) belakangan memicu sorotan publik. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, tidak menutup-nutupi kondisi ini. Ia bahkan mengaku kerap deg-degan setiap kali ada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) baru yang mulai beroperasi.
“Memang sampai Desember ini saya setiap hari selalu sport jantung karena akan lahir 1 SPPG baru,” kata Dadan, Jumat (19/9/2025).
Menurutnya, kasus keracunan bukanlah sesuatu yang disengaja, melainkan akibat kelalaian penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP). “Ada beberapa hal yang masih terjadi karena kelalaian di dalam penerapan SOP terutama masalah teknis. Beberapa hal terjadi dan seringkali ini dialami SPPG yang baru terbentuk,” jelasnya.
Dadan menambahkan, biasanya SPPG baru mulai berjalan lebih stabil setelah tiga bulan. Selama itu pula, pengawasan BGN dilakukan ketat, terutama terkait aspek kebersihan sejak proses memasak hingga pengiriman makanan. “Pengalaman kami waktu uji coba, satu SPPG baru akan berjalan lebih baik itu ketika sudah berjalan 3 bulan,” ujarnya.
Salah satu insiden yang disorot adalah keracunan massal di Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep), Sulawesi Tengah. Dalam kasus tersebut, tercatat 314 siswa dari tingkat SD hingga SMA menjadi korban, dan 26 di antaranya harus menjalani perawatan di rumah sakit. “Nah supplier yang baru ini rupanya belum sequalified yang lama sehingga ada bahan baku yang dalam processing-nya menimbulkan alergi terhadap beberapa penerima manfaat,” ungkap Dadan.
Selain itu, muncul pula laporan mengenai temuan belatung dalam makanan MBG di sejumlah daerah. Dadan menegaskan, pihaknya sebenarnya telah melakukan pengawasan ketat dari hulu hingga hilir, termasuk pemeriksaan ulang ketika ada temuan mencurigakan. “Kami selalu kroscek karena ketika belatung itu masih hidup ketika masakan dimasak beberapa menit kami cek sebenarnya apa yang terjadi,” tuturnya.
Dengan sederet insiden ini, BGN berupaya melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja SPPG, khususnya yang baru terbentuk. Dadan menekankan pentingnya menjaga kualitas penyedia makanan agar peristiwa serupa tidak kembali terulang.
































