Manyala.co – M Ardiansyah tengah menjadi sorotan setelah performa gemilangnya bersama Timnas U-23 Indonesia dalam ajang ASEAN Championship U-23 2025. Meski penampilannya di level internasional menuai banyak pujian, bukan berarti posisi utamanya di PSM Makassar sudah aman. Di balik performanya yang stabil dan meyakinkan, persaingan di sektor penjaga gawang PSM Makassar justru makin ketat.
Dalam turnamen yang dulu dikenal sebagai Piala AFF U-23 itu, Ardiansyah menunjukkan kelasnya. Ia hanya kebobolan dua gol dari empat pertandingan dan dua kali mencatatkan clean sheet. Kiper berusia 22 tahun ini juga mengukir enam penyelamatan penting yang menjadi kunci pertahanan Garuda Muda. Ketepatan distribusi bolanya menjadi nilai plus lain, memperkuat alur build-up tim dari lini belakang. Tak heran jika Ardiansyah diganjar gelar kiper terbaik di turnamen antarnegara Asia Tenggara tersebut.
Namun prestasi tersebut belum menjadi jaminan dirinya akan menjadi pilihan utama di skuad Pasukan Ramang. Di musim Super League 2025/2026, PSM Makassar memiliki empat kiper tangguh dengan kemampuan yang relatif setara. Mereka adalah Reza Arya Pratama, Hilman Syah, KGHPH RK Poetro Negoro, dan tentu saja Ardiansyah sendiri.
Kondisi ini menjadikan pelatih kepala, Bernardo Tavares, punya banyak opsi berkualitas untuk mengawal gawang tim. Kedalaman skuad di posisi penjaga gawang ini menjadi kekuatan tersendiri bagi PSM Makassar, terutama jika terjadi cedera atau rotasi pemain. Hal ini pun disambut positif oleh suporter setia tim, yang merasa tenang karena kualitas kiper pelapis tak jauh berbeda dengan pemain utama.
Salah seorang penggemar PSM, Muhammad Rusdi, mengaku bangga karena klub tetap konsisten mempercayakan posisi kiper kepada putra-putra daerah. Di tengah maraknya klub Liga 1 yang menggunakan jasa penjaga gawang asing, PSM tetap teguh pada pembinaan kiper lokal. Ia menambahkan, hanya Poetro Negoro yang masih butuh pembuktian karena baru dipromosikan ke skuad senior. Namun secara umum, kualitas kuartet penjaga gawang ini dinilai menjanjikan dan solid.
Sosok Ardiansyah sendiri memiliki latar belakang yang cukup menarik. Perjalanan sepak bolanya dimulai dari halaman rumah, tempat ia kerap bermain bola dengan sang kakak. Saat itu, Ardiansyah kecil sering menjadi penjaga gawang dadakan. Sang ibu, Ramlah, melihat potensi anak keempatnya itu dan memutuskan mendaftarkannya ke Sekolah Sepak Bola (SSB) Hasanuddin, milik Bahar Muharram, ayah dari bek Timnas Indonesia, Asnawi Mangkualam.
Karier Ardiansyah pun mulai terbentuk. Setelah sempat menimba ilmu di Akademi PSM Makassar di Mamuju, ia hijrah ke Borneo FC U-16. Namun, cintanya kepada klub asal kampung halamannya membawanya kembali ke Makassar. Ia mengikuti trial dan resmi bergabung dengan PSM Makassar menjelang Liga 1 musim 2021/2022. Sejak saat itu, ia setia membela klub yang bermarkas di Stadion Gelora BJ Habibie tersebut.
Sementara itu, tiga pesaing Ardiansyah di pos penjaga gawang juga bukan nama sembarangan. Reza Arya Pratama, yang lahir di Makassar pada 18 Mei 2000, memiliki postur 188 cm dan mengenakan nomor punggung 30. Ia telah membela PSM sejak masa junior, setelah sebelumnya bermain di Mattombang FC dan tim U-17 PSM. Hilman Syah, lahir di Jeneponto pada 25 Mei 1997, pernah memperkuat Rans Nusantara sebelum kembali ke PSM di musim 2024. Ia mengenakan nomor punggung 97 dan memiliki tinggi 183 cm.
Di sisi lain, ada juga nama KGHPH RK Poetro Negoro, kiper muda berbakat kelahiran Sukabumi, 4 Oktober 2007. Dengan tinggi badan mencapai 192 cm, Poetro merupakan pemain jebolan SSB Putra Sejati dan baru saja dipromosikan dari tim U-18 PSM setelah tampil impresif musim lalu. Meski belum memiliki banyak pengalaman di level profesional, potensinya menjanjikan untuk masa depan.
Komposisi penjaga gawang PSM Makassar musim ini benar-benar mencerminkan keseimbangan antara pengalaman, talenta muda, dan hasil pembinaan internal klub. Dengan keberadaan empat penjaga gawang ini, kompetisi internal pun makin sehat dan mendorong masing-masing pemain untuk terus berkembang.
Perjalanan Ardiansyah belum berakhir. Meski telah meraih sorotan nasional, tantangan di level klub masih harus dihadapi dengan kerja keras dan konsistensi. Dalam sepak bola, apalagi di posisi penjaga gawang, satu momen bisa menentukan karier. Dan di PSM Makassar, kompetisi itu sedang berlangsung sangat ketat.































