Manyala.co – Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional tahun 2025, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, kembali menegaskan pentingnya peran pesantren sebagai lembaga pendidikan yang tak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga menjamin terpenuhinya hak-hak dasar anak, terutama dalam aspek pendidikan dan perlindungan dari kekerasan.
Saat mengunjungi Yayasan Hidayatul Mubtadiin di Pandeglang, Banten, dalam program Jelajah Sapa atau Sahabat Perempuan dan Anak, Arifah menyampaikan bahwa pesantren perlu dikembangkan menjadi lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan kondusif untuk tumbuh kembang anak-anak. Menurutnya, institusi pesantren punya potensi besar menjadi pelopor pendidikan karakter menuju generasi unggul, terutama dalam mendukung visi besar Indonesia Emas 2045.
Dalam kunjungan tersebut, Arifah juga menyoroti pentingnya pengasuhan alternatif yang layak di lingkungan pesantren. Ia menekankan bahwa anak-anak yang tinggal di asrama membutuhkan perhatian lebih dalam aspek perlindungan sosial serta layanan belajar yang ramah anak. Oleh sebab itu, keterlibatan aktif seluruh elemen baik pengelola pesantren, pemerintah daerah, maupun masyarakat sangat diperlukan demi memastikan pemenuhan hak-hak anak terlaksana secara menyeluruh.
Kegiatan Jelajah Sapa ini menjadi salah satu bentuk konkret kolaborasi lintas sektor antara Kementerian PPPA, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), serta berbagai unsur pemerintah daerah. Dalam kesempatan tersebut, bantuan berupa perlengkapan edukatif dan hiburan seperti buku cerita, gitar, krayon, rak sepatu, susu, hingga boardgame disalurkan kepada pihak yayasan sebagai bagian dari dukungan untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan produktif bagi anak-anak.
Arifah juga menyampaikan bahwa Hari Anak Nasional tahun ini dirancang secara desentralistik dan inklusif, melibatkan berbagai wilayah di Indonesia dengan pendekatan kultural dan lokalitas masing-masing daerah. Ia mendorong Kementerian Agama serta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk turut berperan aktif melalui penerbitan surat edaran, yang mendorong seluruh lembaga pendidikan seperti sekolah, madrasah, dan pesantren agar ikut serta menyelenggarakan peringatan Hari Anak Nasional secara serempak.
Kegiatan perayaan tersebut diharapkan tidak hanya bersifat seremonial, tetapi menyentuh aspek pembentukan karakter anak melalui kegiatan yang menyenangkan dan edukatif. Mulai dari senam bersama, permainan tradisional, hingga menyanyikan lagu daerah dan nasional, semuanya dianggap mampu memperkaya pengalaman anak dan memperkuat identitas kebangsaan mereka.
Arifah meyakini bahwa dengan menjadikan pesantren sebagai bagian integral dari sistem perlindungan dan pendidikan anak, maka target untuk membentuk generasi emas yang berkualitas dan berdaya saing tinggi akan lebih mudah tercapai. Ia pun menegaskan bahwa pemerintah pusat akan terus menjalin koordinasi erat dengan para pemangku kepentingan untuk memastikan bahwa setiap anak, termasuk yang berada di lingkungan pesantren, mendapatkan kesempatan yang adil untuk tumbuh dan berkembang sesuai potensi terbaiknya.
































