Manyala.co – Harapan Indonesia untuk tampil di Piala Dunia 2026 resmi pupus setelah menelan kekalahan beruntun dari Arab Saudi 2–3 dan Irak 0–1 pada putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia zona Asia. Hasil tersebut menempatkan Indonesia di posisi juru kunci Grup B, menutup peluang tampil di turnamen sepak bola terbesar dunia tahun depan.
Kegagalan ini kembali menyoroti kiprah pelatih asing, khususnya asal Belanda, dalam mengelola Timnas Indonesia. Patrick Kluivert, yang ditunjuk pada awal 2024 dengan ekspektasi tinggi, kini menjadi sorotan publik setelah gagal memperlihatkan peningkatan signifikan dalam performa tim.
Meski didampingi staf pelatih seperti Alex Pastoor, Denny Landzaat, dan Jordy Cruyff, tim asuhan Kluivert belum mampu menandingi kekuatan Asia seperti Irak dan Jepang. Pengamat sepak bola Belanda Valentijn Driessen bahkan menyebut, performa skuad Merah Putih di bawah Kluivert tidak mencerminkan standar yang layak untuk level internasional.
Kondisi ini memunculkan kembali pertanyaan lama tentang kesesuaian pelatih asal Belanda dengan karakter sepak bola Indonesia. Dalam sejarah panjangnya, sejumlah pelatih dari Negeri Kincir Angin telah bergantian memimpin Garuda, namun hasil signifikan masih jarang terlihat.
Pelatih pertama asal Belanda yang menukangi Timnas Indonesia adalah Wiel Coerver, pada 1975–1976 dan 1979. Dikenal sebagai pelopor metode pelatihan teknik individu modern, Coerver membawa pendekatan baru yang kemudian dikenal dengan Coerver Method. Di bawah arahannya, Indonesia meraih medali perak SEA Games 1979, meski gagal lolos ke Olimpiade Montreal 1976 setelah kalah adu penalti dari Korea Utara.
Penerusnya, Frans van Balkom, memimpin pada awal 1980-an namun gagal membawa Indonesia bersaing di kualifikasi Olimpiade 1980. Kurangnya dukungan struktural dan waktu adaptasi singkat membuat masa jabatannya tidak bertahan lama.
Pada pertengahan 1990-an, Henk Wullems sempat membawa angin segar. Ia sukses mengantar Indonesia menjadi runner-up SEA Games 1997, sebelum tersingkir di kualifikasi Piala Dunia 1998. Meski masa kerjanya singkat, Wullems dikenal sebagai figur yang memperbaiki mental dan disiplin tim.
Sementara itu, Wim Rijsbergen, yang melatih pada 2011–2012, gagal mengulangi keberhasilan di masa lalu. Mantan bek timnas Belanda itu hanya meraih dua kemenangan dari sebelas laga sebelum kontraknya diakhiri lebih awal akibat hasil buruk dan konflik internal.
Tahun 2015, Pieter Huistra menghadapi situasi sulit karena sepak bola Indonesia tengah disanksi FIFA, yang membuat aktivitas internasional sangat terbatas. Ketiadaan kompetisi dan jadwal padat menghambat upaya pembentukan tim kompetitif di bawah kepemimpinannya.
Kisah berulang ini memperlihatkan bahwa pelatih asal Belanda, meski membawa pengalaman dan reputasi tinggi, kerap kesulitan menyesuaikan diri dengan kultur, infrastruktur, dan pola manajemen sepak bola nasional. Faktor mentalitas pemain, dukungan federasi, hingga konsistensi pembinaan menjadi tantangan utama yang belum terpecahkan.
Kegagalan Patrick Kluivert kini menambah daftar panjang pelatih asal Belanda yang belum mampu membawa Indonesia melangkah jauh. Pertanyaan besar pun muncul: apakah persoalannya terletak pada pelatih asing, atau pada sistem sepak bola Indonesia yang belum siap bertransformasi?
Ke depan, PSSI diharapkan dapat melakukan evaluasi menyeluruh terhadap arah pembinaan dan pelatihan nasional. Dengan semakin ketatnya persaingan sepak bola Asia, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh reputasi pelatih, tetapi juga konsistensi sistem yang mendukungnya.































