Makassar, Manyala.co – Rakha Al-Fatih, siswa kelas 5 SD Islam Athirah 2 Bukit Baruga, Makassar, menciptakan robot medis bernama “MediBot” yang meraih medali perak dalam Kontes Robot Nusantara (KRON) ASEAN, ajang robotik tingkat Asia Tenggara.
MediBot dirancang sebagai robot asisten medis di rumah sakit pintar yang mampu mengantarkan makanan, obat-obatan, dan perlengkapan pasien secara otomatis tanpa bantuan manusia. Robot ini juga dilengkapi kamera berbasis ESP32 yang menampilkan kondisi ruangan secara real time, memungkinkan tenaga medis memantau pasien dari jarak jauh.
Rakha, yang baru berusia 11 tahun, menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk menyempurnakan MediBot. Ia mempelajari pemrograman dasar, menyolder komponen elektronik, hingga melakukan serangkaian uji coba agar sistem navigasi dan kontrol robot bekerja optimal.
Dalam prosesnya, ia dibimbing oleh tim Algoland Academy, mitra pembinaan robotik di sekolahnya yang mendukung pengembangan teknologi bagi pelajar usia dini.
Dukungan keluarga juga menjadi faktor penting di balik keberhasilannya. Ibunya, Risna Febriana, menyatakan kebanggaan dan harapan agar anaknya terus mengasah kemampuan di bidang teknologi.
“Kami berharap Rakha tidak cepat puas, terus belajar, berinovasi, dan berani menghadapi tantangan di berbagai kompetisi nasional maupun internasional ke depannya. Semoga Allah memberikan kemudahan dan keberkahan dalam setiap langkah perjuangannya,” ujarnya.
Kontes KRON ASEAN merupakan ajang tahunan yang mempertemukan pelajar dari berbagai negara Asia Tenggara untuk memamerkan inovasi di bidang robotika dan teknologi terapan. Tahun ini, kompetisi menilai peserta berdasarkan kreativitas, fungsi robot, dan kemampuan teknis pemrograman. MediBot berhasil menarik perhatian juri karena memadukan fungsi sosial dan teknologi dalam satu rancangan efisien.
Inovasi ini sekaligus menunjukkan potensi generasi muda Indonesia dalam menghadapi era otomatisasi dan kecerdasan buatan (AI). Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) terus mendorong pendidikan berbasis STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics) agar anak-anak terbiasa berpikir kritis dan berinovasi sejak dini.
Pakar pendidikan teknologi menilai pencapaian Rakha sebagai bukti keberhasilan pendekatan pembelajaran kreatif di sekolah dasar. Dengan dukungan lembaga seperti Algoland Academy, siswa dapat menggabungkan teori dan praktik melalui proyek berbasis masalah (project-based learning).
“Keberhasilan Rakha membuktikan bahwa inovasi tidak mengenal usia. Anak-anak Indonesia memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam pengembangan teknologi global bila diberi kesempatan,” kata seorang pengamat pendidikan teknologi di Makassar, Kamis (16/10/2025).
Ke depan, Rakha berencana menyempurnakan MediBot agar dapat berkomunikasi dengan dokter melalui sistem suara berbasis AI dan menavigasi ruangan menggunakan sensor ultrasonik. Ia juga berharap bisa mewakili Indonesia dalam kompetisi robotik tingkat dunia.
Dari meja belajar sederhana di Makassar, ide besar Rakha melahirkan robot asisten medis yang menjadi simbol keberanian anak Indonesia dalam bermimpi dan berinovasi di kancah internasional.
































