Stres Kronis Picu “Cortisol Face”, Wajah Tampak Lebih Tua

Stres
Stres Kronis Picu “Cortisol Face”, Wajah Tampak Lebih Tua.

Manyala.co – Peningkatan tingkat stres dalam kehidupan modern, mulai dari tekanan pekerjaan hingga paparan media sosial yang berlebihan, berdampak langsung pada kesehatan mental dan fisik. Salah satu dampak yang kini banyak disorot adalah perubahan tampilan wajah akibat stres kronis, yang dikenal sebagai “cortisol face”.

Fenomena tersebut berkaitan dengan peningkatan kadar hormon kortisol dalam tubuh dalam jangka waktu lama. Kortisol merupakan hormon yang dilepaskan tubuh sebagai respons terhadap stres dan berperan penting dalam mekanisme pertahanan tubuh atau fight-or-flight. Namun, ketika hormon ini terus berada pada tingkat tinggi, berbagai fungsi tubuh dapat terganggu, termasuk kesehatan kulit dan struktur wajah.

Konsultan utama bidang penyakit dalam di Aster RV Hospital, Dr. Aravinda S. N., menjelaskan bahwa kadar kortisol yang tinggi secara kronis dapat memicu peradangan, penahanan cairan, serta perubahan distribusi lemak di tubuh, termasuk pada wajah. Kondisi ini menyebabkan wajah tampak lebih bengkak atau membulat, terutama di area pipi dan rahang.

“Kortisol memobilisasi energi, meningkatkan fokus, dan sementara mengalihkan sumber daya dari fungsi tubuh yang tidak esensial agar tubuh bisa menghadapi situasi mendesak,” kata Aravinda, seperti dikutip dari Hindustan Times, Rabu. Ia menambahkan bahwa efek negatif muncul ketika respons stres tersebut berlangsung terlalu lama.

Selain pembengkakan, kortisol juga berdampak pada kualitas kulit. Hormon ini dapat melemahkan jaringan kulit, memicu munculnya garis halus, kulit kendur, serta menyebabkan tampilan kulit kusam. Produksi minyak berlebih, jerawat, kemerahan, pigmentasi, dan peningkatan sensitivitas kulit juga menjadi masalah yang sering menyertai kondisi tersebut.

Kanwil Kemenkum Lampung Rampungkan Harmonisasi Ranperda JDIH Lampung Timur

Menurut Aravinda, kombinasi perubahan tersebut membuat wajah terlihat lelah dan lebih tua dari usia biologis sebenarnya. Namun, ia menegaskan bahwa kondisi ini tidak bersifat permanen. Ketika kadar kortisol kembali normal, keseimbangan cairan tubuh dapat membaik, peradangan berkurang, dan proses regenerasi kulit berpotensi pulih.

Pemulihan dari efek “cortisol face” terutama bergantung pada perubahan gaya hidup. Aravinda menyarankan pengelolaan stres secara konsisten melalui tidur yang cukup, yakni sekitar tujuh hingga sembilan jam per malam, serta aktivitas fisik teratur yang membantu menormalkan ritme hormon stres.

Praktik sederhana seperti mindfulness, pernapasan lambat, dan berjalan kaki secara rutin juga dinilai dapat membantu menurunkan kadar kortisol. Selain itu, pola makan berperan penting dalam mendukung kesehatan kulit, termasuk konsumsi antioksidan seperti vitamin C dan E, lemak omega-3, serta menjaga kecukupan cairan tubuh.

Dalam hal perawatan kulit, penggunaan pembersih yang lembut, tabir surya spektrum luas, serta produk dengan kandungan niacinamide, ceramide, retinoid, atau peptida dapat membantu memperkuat pelindung kulit dan mendukung proses perbaikan alami.

Aravinda juga mengingatkan bahwa jika pembengkakan wajah, jerawat berat, perubahan berat badan drastis, atau penipisan kulit terjadi secara menetap, evaluasi medis diperlukan. Pemeriksaan lanjutan dapat membantu mendeteksi kemungkinan gangguan hormonal, masalah tidur, atau kondisi endokrin lain. Hingga saat ini, belum ada data global resmi mengenai prevalensi “cortisol face”.

Regulator Belanda Selidiki Roblox Terkait Risiko Perlindungan Anak

Berita Terbaru

Berita Terpopuler

01

Deretan Calon Ketua IKA Teknik Sipil Unhas, 2 Dosen Siap Lanjutkan Tongkat Kepemimpinan

02

Prabowo Luncurkan Program Gentengnisasi Lewat Gerakan Indonesia ASRI

03

Indonesia Dukung Palestina lewat Board of Peace, Israel Tetap Menolak

04

Serangan Bersenjata di Balochistan Tewaskan 48 Orang

05

Tujuh Pangkalan Udara Terbesar Amerika Berdasarkan Populasi

PEMKOT MAKASSAR - MANYALA.CO
manyala-ads
Manyala.co

Olahraga

Indonesia Ajukan Diri Tuan Rumah Piala Asia 2031

Indonesia ke Final Piala Asia Futsal Usai Kalahkan Jepang

Indonesia Lolos Perempat Final Piala Asia Futsal 2026

Indonesia Juara Grup A Usai Imbang Lawan Irak

Alwi Farhan Lolos Final Indonesia Masters 2026

Timnas Indonesia Hadapi Bulgaria, Solomon dan Saint Kitts di FIFA Series

Leo/Bagas Lolos Babak Kedua Indonesia Masters 2026

PSM Makassar Tambah Dua Pemain Asing Hadapi Putaran Kedua

Jonatan Christie Runner-up India Open 2026

PSM Makassar Hadirkan Bus Tim dan Rilis Jersey Khusus Suporter

Prabowo Realisasikan Bonus Atlet SEA Games 2025

Mental Juang PSM Makassar Diuji Jelang Laga Kontra Bali United

Malaysia Open 2026: Lima Wakil Indonesia Tampil di Babak 16 Besar

PSM Makassar Uji Pertahanan Hadapi Trisula Borneo FC

Indonesia Usulkan Australia dan Selandia Baru Ikut SEA Games

Indonesia Juara Piala AFF Futsal U-16

Trucha Optimistis PSM Kejar Lima Besar Meski Tanpa Kemenangan

Indonesia U-16 Melaju ke Final AFF Futsal 2025

Ranking FIFA Terbaru: Indonesia Bertahan di Posisi 122

Futsal Competition 2025, KKG PJOK Tallo Tekankan Kolaborasi

Kolom