Makassar, Manyala.co – Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Ahmad Najib Burhan, menyatakan Sulawesi Selatan tetap berpotensi menjadi lokasi pembangunan Sekolah Garuda meskipun provinsi tersebut memiliki Indeks pembangunan Manusia (IPM) kategori tinggi. Pernyataan itu ia sampaikan di sela pembukaan Kongres Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) IV di Universitas Hasanuddin, Makassar, pada Senin, 8 Desember 2025.
Ahmad Najib menjelaskan bahwa pemerintah memprioritaskan pembangunan Sekolah Garuda di daerah dengan IPM rendah sebagai langkah percepatan pemerataan mutu pendidikan nasional. “In syaa Allah nanti saya sama Pak Gubernur Sulsel hari ini rencananya melihat salah satu lokasi. Tetapi ini ya, saya nanti perlu sampaikan juga daerah-daerah yang IPM-nya tinggi itu prioritas kedua,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa provinsi ber-IPM tinggi tetap dapat menjadi lokasi pembangunan jika daerah pada kelompok prioritas utama tidak mengajukan usulan sesuai jadwal yang ditetapkan. Menurut dia, fleksibilitas itu dibutuhkan agar pembangunan tidak tertunda. “Daerah yang IPM-nya tinggi itu kalau umpamanya tidak ada yang mengusulkan seperti Kepri dan Sulsel, itu bisa masuk kalau umpamanya kita tidak cepat daerah-daerah yang lain itu memberikan usulannya,” katanya.
Dirjen Kemdiktisaintek juga mendorong daerah dengan IPM rendah memanfaatkan kesempatan tersebut. Ia menilai pembangunan Sekolah Garuda penting untuk daerah yang memiliki capaian literasi dan numerasi rendah sehingga membutuhkan percepatan peningkatan kualitas pendidikan. Jika daerah prioritas utama tidak menyampaikan proposal tepat waktu, lokasi dapat dialihkan kepada provinsi prioritas kedua yang lebih siap secara administratif.
Selain indikator IPM, posisi strategis Sulsel sebagai hub Indonesia Timur menjadi faktor yang memperkuat peluang provinsi tersebut. “Ini mungkin bisa menjadi alasan karena sebagai hub untuk daerah timur Indonesia,” jelas Ahmad Najib. Ia menyebutkan bahwa peran konektivitas regional Sulsel dapat memberikan dampak lebih luas bagi akses pendidikan kawasan timur.
Pemerintah pusat saat ini menyiapkan pembangunan Sekolah Garuda di empat wilayah pada 2026. Lokasi tersebut meliputi Kabupaten Belitung Timur, Timor Tengah Selatan, Konawe Selatan, dan Kalimantan Utara. Proyek tersebut ditargetkan selesai pada Juni 2026 dan langsung digunakan untuk penerimaan siswa baru tahun ajaran berikutnya.
Selain empat lokasi awal, pemerintah menetapkan target pembangunan delapan Sekolah Garuda tambahan mulai 2027. Program itu merupakan bagian dari perluasan akses pendidikan unggulan, yang bertujuan mendukung pengembangan talenta muda dan peningkatan kompetensi sains serta teknologi. Hingga Selasa pagi belum ada rincian alokasi anggaran yang dipublikasikan terkait tahap selanjutnya.
Kebijakan pembangunan Sekolah Garuda muncul sebagai respon pemerintah terhadap kebutuhan peningkatan mutu pendidikan yang merata di seluruh daerah. Data pemerintah menunjukkan beberapa provinsi masih tertinggal dalam hal literasi dasar dan angka partisipasi sekolah, terutama di kawasan timur dan wilayah perbatasan. Melalui pembangunan sekolah unggulan berbasis asrama tersebut, pemerintah berharap tercipta pusat pembelajaran yang dapat mendorong pemerataan kualitas.
Sulawesi Selatan selama ini menjadi salah satu pusat pendidikan di wilayah timur Indonesia dengan infrastruktur perguruan tinggi yang lebih berkembang dibanding provinsi sekitarnya. Jika terpilih sebagai lokasi Sekolah Garuda, provinsi tersebut diproyeksikan dapat memperluas akses pendidikan sains dan teknologi serta menjadi penghubung bagi siswa dari daerah 3T.
































