Peran Strategis Haji Isam dalam Menyatukan Gagasan Ketahanan Pangan Baru Lewat Panen di Merauke

Peran Strategis Haji Isam dalam Menyatukan Gagasan Ketahanan Pangan Baru Lewat Panen  di Merauke - Haji Isam - Gambar 1297
Presiden Prabowo meninjau program cetak satu juta sawah di Papua bersama pengusaha Andy Syamsuddin Arsyad. (Antara/HO- Dokumentasi Pribadi)

Manyala.co – Sebuah titik balik besar dalam sejarah pertanian Indonesia terjadi di Papua Selatan. Tepatnya di Distrik Wanam, Kabupaten Merauke, panen padi perdana pada Jumat (16/5/2025) menghadirkan kejutan besar. Tak hanya karena hasilnya yang mencapai 2,5–2,8 ton per hektare tanpa bantuan teknologi canggih, tetapi juga karena panen ini menggugurkan anggapan lama bahwa Papua tidak cocok untuk pertanian.

Dalam kacamata pengamat ekonomi dan kebijakan publik dari UPN Veteran Jakarta, Freesca Syafitri, panen tersebut bukan sekadar keberhasilan teknis. Ia menyebutnya sebagai langkah awal dari perubahan orientasi pembangunan nasional yang lebih adil secara spasial dan sosial. Program cetak sawah seluas satu juta hektare yang merupakan inisiatif Presiden Prabowo Subianto ini menjadi simbol nyata dari transformasi itu.

Nama Andy Syamsuddin Arsyad, atau lebih dikenal sebagai Haji Isam, disebut-sebut berperan besar di balik keberhasilan tersebut. Pengusaha asal Kalimantan Selatan dan pemilik Jhonlin Group itu tidak hanya mendukung ide, tetapi juga mewujudkannya dalam bentuk nyata. Salah satu langkah konkret yang ia ambil adalah memesan 2.000 ekskavator dari Tiongkok untuk mempercepat proses pembukaan lahan pertanian di kawasan tersebut.

Menurut Freesca, keberhasilan panen ini juga berhasil menepis keraguan yang selama ini muncul terkait potensi Papua sebagai lumbung pangan. Ia menyoroti bahwa selama bertahun-tahun, determinisme lingkungan telah membentuk asumsi sempit bahwa pertanian hanya cocok di wilayah tertentu saja. Padahal, berdasarkan survei tanah dan air, Wanam memiliki karakteristik lahan yang sangat sesuai untuk pengembangan sektor pertanian.

Pemilihan varietas padi yang tahan terhadap kondisi lokal, seperti Inpara, dan penerapan teknik tanam sederhana tanpa pupuk kimia sintetis menjadi bukti bahwa pendekatan berbasis lokal mampu menandingi hasil pertanian di wilayah lain yang lebih modern. Hal ini menjadi sinyal penting bahwa modernisasi pertanian tak harus identik dengan mesin atau input industri, melainkan bisa berbasis pada keberlanjutan dan kearifan lokal.

Putih Sari Bantu Warga Bekasi Hadapi Kemarau dengan Distribusi Air Bersih

Namun, cerita di Wanam bukan hanya soal panen. Ada transformasi sosial yang jauh lebih besar terjadi. Masyarakat yang selama ini hidup dari pola berburu dan meramu mulai diperkenalkan dengan pertanian melalui pendekatan edukatif yang tidak memaksa. Ini menciptakan generasi baru yang bukan hanya bekerja di sektor pertanian, tetapi menjadi bagian sadar dari sistem ketahanan pangan nasional—sebuah proses yang oleh Freesca disebut sebagai lahirnya agricultural citizenship.

Freesca, yang juga menjabat sebagai Wakil Direktur di German Centre dan dosen FEB UPNVJ, menyatakan bahwa tantangan geopolitik pangan global menuntut Indonesia untuk tidak hanya mengejar peningkatan produksi. Lebih dari itu, Indonesia harus memastikan distribusi hasil pertanian yang adil, baik secara geografis maupun sosial. Dalam konteks ini, Papua Selatan bisa menjadi preseden penting: bahwa pembangunan pangan bisa bersifat regeneratif, memberdayakan tanah sekaligus manusianya.

Menariknya, meskipun panen di Papua Selatan dilakukan tanpa teknologi tinggi, hasilnya tetap kompetitif. Freesca menegaskan bahwa hal ini membuka peluang besar untuk mengembangkan sistem pertanian komunitas yang menggunakan pendekatan low-input, yakni minim bahan kimia dan memaksimalkan sinergi dengan kondisi alam setempat.

Ia juga menekankan perlunya pendekatan pembangunan yang kolaboratif. Alih-alih pendekatan top-down yang selama ini mendominasi, ia mendorong sistem co-production of knowledge—di mana pemerintah, akademisi, masyarakat lokal, dan sektor swasta bekerja bersama. Proses edukasi bertahap yang diterapkan di Wanam menjadi contoh nyata dari pendekatan ini.

Keberhasilan di Wanam juga menggeser pusat narasi ketahanan pangan nasional dari Pulau Jawa ke kawasan timur Indonesia. Selama ini, wilayah timur sering dianggap sebagai pelengkap atau cadangan, bukan aktor utama. Padahal, menurut Freesca, keberhasilan ini menunjukkan bahwa Papua mampu menjadi pemain utama dalam strategi ketahanan pangan nasional yang baru.

Soroti Penahanan Febrie Adriansyah, Bimantoro Tegaskan Semua Warga Negara Sama di Hadapan Hukum

Ia menambahkan bahwa proyek cetak sawah satu juta hektare ini harus dipahami bukan sekadar sebagai target jumlah lahan, tetapi sebagai simbol dari reorientasi pembangunan. Fokusnya bukan lagi pada pusat, melainkan pada pinggiran yang selama ini kurang mendapat perhatian. Papua Selatan, menurutnya, telah menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang tepat, kawasan yang dianggap terbelakang justru bisa menjadi pelopor.

Freesca menyimpulkan bahwa apa yang terjadi di Wanam bukan akhir dari cerita, tetapi justru pembuka jalan menuju model pembangunan pangan Indonesia yang lebih adil, berkelanjutan, dan berakar pada kekuatan lokal. “Kalau Papua dengan segala keterbatasan infrastrukturnya bisa bangkit dan menjadi contoh, maka semua wilayah lain di Indonesia juga memiliki peluang besar untuk berkontribusi dalam menghadapi krisis pangan global,” tegasnya.

Berita Terbaru

Berita Terpopuler

01

Final Ideal Piala Dunia 2026! Spanyol vs Argentina Jadi Duel Penentu Rekor Rivalitas Bersejarah

02

Gelar Penelitian di Pesisir Singkawang, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya Dorong Kolaborasi Blue Economy

03

Ancaman Perang Baru di Timur Tengah, Houthi Ultimatum Arab Saudi dan Siap Tutup Selat Bab al-Mandeb

04

Jadwal Semifinal Piala Dunia 2026 Resmi: Prancis vs Spanyol dan Inggris vs Argentina, Catat Jam Tayangnya

05

Resmi! Spanyol Juara Piala Dunia 2026 Usai Bungkam Argentina, Ferran Torres Cetak Gol Bersejarah

Website Resmi Pemerintah Kota Makassar
HUT Kabupaten Enrekang Ke-66
Manyala.co

Olahraga

Resmi! Spanyol Juara Piala Dunia 2026 Usai Bungkam Argentina, Ferran Torres Cetak Gol Bersejarah

Dramatis! Inggris Hancurkan Prancis 6-4, Bukayo Saka Hattrick dan The Three Lions Rebut Peringkat 3 Piala Dunia 2026

Final Ideal Piala Dunia 2026! Spanyol vs Argentina Jadi Duel Penentu Rekor Rivalitas Bersejarah

Argentina Bungkam Inggris 2-1, Tantang Spanyol di Final Piala Dunia 2026

Perang Nike vs Adidas di Semifinal Piala Dunia 2026: Adu Prestise Dua Raksasa Apparel Dunia

Spanyol Hajar Prancis 2-0, La Roja Lolos ke Final untuk Kedua Kalinya dalam Sejarah

Jadwal Semifinal Piala Dunia 2026 Resmi: Prancis vs Spanyol dan Inggris vs Argentina, Catat Jam Tayangnya

Argentina Menggila di Extra Time, Singkirkan Swiss 3-1 dan Tantang Inggris di Semifinal

Bellingham Bawa Inggris Unggul 2-1 atas Norwegia di Perempat Final Piala Dunia 2026

Atlet Bulutangkis Putri Kecamatan Tallo Raih Juara I O2SN Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan

KKG PJOK Tallo Gelar Pelatihan Ekstrakurikuler Olahraga di Tingkat SD

KKG PJOK KEC.TALLO Kolaborasi Dengan Fobi Makassar dan KKG UJUNG TANAH SANGKARANG

KKG PJOK Tallo, Tamalate, Panakkukang Gelar Pelatihan Deep Learning

Erick Thohir Bantah Laporkan FAM ke FIFA

PSSI: Tak Ada Naturalisasi Baru di FIFA Series

Olahraga Saat Puasa Aman dengan Penyesuaian Intensitas

KNPI Makassar Bersama KKG PJOK Tallo Gelar Kompetisi Futsal dan Voli Pelajar

Indonesia Ajukan Diri Tuan Rumah Piala Asia 2031

Indonesia ke Final Piala Asia Futsal Usai Kalahkan Jepang

Indonesia Lolos Perempat Final Piala Asia Futsal 2026

Kolom

× Advertisement
× Advertisement