Manyala.co – Pemerintah terus berupaya memastikan bahwa bantuan subsidi upah (BSU) 2025 benar-benar sampai ke tangan penerima tanpa hambatan, tanpa potongan, dan tanpa dipersulit. Salah satu bentuk keseriusan itu ditunjukkan langsung oleh Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, saat melakukan inspeksi mendadak ke Kantor Pos di Jalan Daan Mogot, Kota Tangerang, pada Rabu pagi, 16 Juli 2025.
Dalam kunjungannya yang berlangsung singkat namun padat makna itu, Wapres Gibran didampingi Wakil Menteri Ketenagakerjaan Imannuel Ebenezer (yang akrab disapa Noel), Gubernur Banten Andra Soni, serta Wali Kota Tangerang Sachrudin. Setibanya di lokasi, Gibran langsung menuju ke ruang layanan penyaluran BSU dan secara simbolis menyerahkan bantuan kepada tiga warga penerima.
“Digunakan sebaik-baiknya ya bu. Semoga bermanfaat. Tidak ada potongan ya,” ucap Gibran sambil menyerahkan amplop berisi dana BSU kepada salah satu warga. Setelah menyapa penerima dan memastikan kondisi layanan di kantor pos berjalan lancar, Gibran meninggalkan lokasi tanpa banyak basa-basi.
Namun, di balik kesederhanaan kunjungan tersebut, terselip pesan kuat dari pemerintah: tidak boleh ada pemotongan dalam proses penyaluran dana bantuan yang bersumber dari APBN tersebut.
Cek Amplop, Pastikan Uang Benar-Benar Ada
Wamenaker Imannuel Ebenezer menjelaskan bahwa kunjungan Wapres tak hanya bersifat seremoni. Bahkan, Gibran turun langsung untuk memeriksa isi amplop yang diberikan kepada penerima BSU, guna memastikan dana sebesar Rp600 ribu yang seharusnya diterima tidak dikurangi sepeser pun.
Menurut Noel, langkah tersebut merupakan bentuk kontrol langsung dari pemerintah terhadap proses distribusi bantuan, agar tidak ada oknum yang memanfaatkan situasi untuk melakukan pemotongan atau pungutan liar.
“Kehadiran Pak Wapres ke sini bukan hanya formalitas. Beliau datang untuk memastikan sendiri, benar tidak di dalam amplop itu uangnya utuh. Jangan sampai ada keluhan dari warga soal pemotongan. Ini hak mereka,” tegas Noel saat diwawancarai usai kunjungan.
Ketegasan Pemerintah terhadap Praktik Pemotongan Dana
Pemerintah menganggap serius setiap bentuk kecurangan dalam penyaluran bantuan sosial, termasuk BSU. Wamenaker Noel menyatakan tidak akan segan mengambil tindakan tegas bila ditemukan adanya praktik potong-memotong dana yang seharusnya utuh diterima masyarakat.
Ia menegaskan bahwa BSU merupakan hak penuh pekerja dari kalangan menengah ke bawah, dan tidak boleh sedikit pun dikurangi oleh pihak manapun, termasuk oleh petugas pos, koordinator lapangan, maupun pihak ketiga.
“Hari ini saya bisa pastikan, tidak ada pemotongan. Kalau ada yang berani motong, pasti saya ngamuk. Jangan buat susah masyarakat dengan hal-hal teknis seperti itu. Ini hak mereka. Negara hadir untuk melindungi, bukan mempersulit,” ucapnya dengan nada tegas.
BSU 2025: Jangkau Jutaan Pekerja, Fokus Jawa
Hingga pertengahan tahun ini, BSU 2025 telah berhasil disalurkan kepada sekitar 13,6 juta pekerja di seluruh Indonesia, dengan distribusi terbanyak berada di wilayah Pulau Jawa. Bantuan ini ditujukan untuk membantu pekerja informal maupun formal yang terdampak tekanan ekonomi, terutama akibat kenaikan biaya hidup dan dinamika pasar kerja pascapandemi.
Dana yang diberikan sebesar Rp600 ribu per penerima, dan dapat digunakan untuk kebutuhan mendesak rumah tangga, biaya transportasi kerja, serta keperluan pokok lainnya.
Kantor Pos Jadi Mitra Penyalur Utama
Kantor Pos Indonesia kembali dipercaya menjadi mitra utama dalam penyaluran BSU 2025, karena jangkauannya yang luas hingga ke pelosok daerah. Namun, pemerintah tetap melakukan pengawasan ketat untuk memastikan layanan berjalan profesional, cepat, dan tepat sasaran.
Dengan kunjungan langsung dari Wakil Presiden, pesan pemerintah sangat jelas: tidak ada toleransi bagi penyalahgunaan dana bantuan. Masyarakat didorong untuk segera melapor bila menemukan kejanggalan atau tindakan tidak adil dalam proses pencairan BSU.
Transparansi dan Kepastian bagi Warga
Kunjungan seperti ini dianggap penting untuk menumbuhkan kembali kepercayaan publik terhadap program bantuan sosial. Pemerintah berharap langkah ini bisa mendorong transparansi dan meningkatkan kualitas pelayanan publik dalam penyaluran bantuan langsung tunai.
Dengan kontrol ketat dari pemerintah pusat, serta dukungan penuh dari pemerintah daerah dan masyarakat, program BSU 2025 diharapkan berjalan optimal dan memberikan dampak nyata dalam menopang kesejahteraan rakyat Indonesia yang membutuhkan.
































