Manyala.co – Di tengah sorotan global terhadap kualitas dan intensitas pendidikan, durasi jam belajar siswa di sekolah menjadi indikator penting yang mencerminkan keseriusan sebuah negara dalam mempersiapkan generasi mudanya. Berdasarkan data terkini dari worldpopulationreview.com, sejumlah negara mencatat jam sekolah harian yang sangat panjang, bahkan mencapai hampir 10 jam per hari.
Thailand menjadi negara dengan jam sekolah terpanjang di dunia tahun 2025, menempatkan negara Asia Tenggara ini di posisi teratas secara global. Pemerintah Thailand menetapkan rata-rata waktu belajar siswa di sekolah mencapai 9,5 jam setiap harinya. Sistem pendidikan di sana tidak hanya mengandalkan pelajaran inti, tetapi juga mengintegrasikan berbagai kegiatan ekstrakurikuler dan sesi bimbingan tambahan sebagai bagian dari kurikulum wajib. Pendekatan ini dinilai sebagai upaya serius untuk meningkatkan daya saing pelajar Thailand di tingkat internasional.
Namun, tak sedikit yang mempertanyakan efektivitas durasi panjang tersebut, terutama dalam hal keseimbangan antara waktu belajar dan waktu istirahat bagi siswa. Tekanan akademik yang tinggi bisa berdampak pada kesehatan mental dan fisik, terutama jika tidak diimbangi dengan pendekatan pembelajaran yang ramah anak.
Di posisi kedua, Kamboja mencatatkan durasi sekolah harian sebanyak 8,75 jam. Meski tergolong negara yang masih dalam tahap pemulihan pasca konflik sejarah, Kamboja menunjukkan komitmen kuat dalam reformasi pendidikan. Tambahan jam pelajaran serta peningkatan aktivitas pendukung di sekolah diyakini mampu membantu siswa di wilayah terpencil atau yang sebelumnya mengalami hambatan akses pendidikan.
Sama halnya dengan Bangladesh, yang duduk di posisi ketiga bersama Myanmar dan Taiwan, ketiganya mencatat rata-rata jam sekolah harian sebesar 8,5 jam. Bangladesh diketahui sedang menggenjot reformasi sistem pendidikan untuk merespons tantangan akses dan pemerataan belajar di masyarakat. Durasi panjang di sekolah dianggap sebagai salah satu cara untuk menampung berbagai mata pelajaran inti serta pelajaran tambahan yang sangat dibutuhkan oleh siswa di negara berkembang.
Sementara itu, Myanmar, meskipun sedang menghadapi dinamika politik dan sosial yang kompleks, juga melibatkan jam sekolah yang intensif dalam kurikulum nasionalnya. Pemerintahnya berusaha mengejar ketertinggalan dengan menciptakan sistem pembelajaran yang menyeluruh. Taiwan, dengan sistem pendidikan yang terkenal ketat dan kompetitif, juga menerapkan pendekatan yang serupa. Selain jam pelajaran reguler, siswa di Taiwan umumnya mengikuti berbagai program tambahan seperti les dan bimbingan belajar sepulang sekolah, sehingga total waktu yang dihabiskan untuk kegiatan akademik bisa jauh melebihi 8,5 jam.
Melengkapi daftar, Chili, satu-satunya negara dari Amerika Selatan yang masuk dalam 10 besar, memiliki rata-rata jam belajar 8,33 jam per hari. Negara ini telah lama menjadikan pendidikan sebagai motor penggerak pembangunan sosial dan ekonomi. Sistem pendidikan Chile dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara wilayah perkotaan dan pedesaan, dengan meningkatkan durasi belajar agar siswa memiliki kesempatan yang setara dalam mengakses pengetahuan.
Korea Selatan, meski hanya mencatatkan angka 8 jam dalam jam sekolah formalnya, terkenal dengan budaya belajar yang sangat intens. Banyak siswa Korea mengikuti pelajaran tambahan di luar sekolah seperti hagwon (bimbingan belajar swasta) hingga larut malam. Meski sistem ini telah melahirkan prestasi akademik tinggi, isu terkait tekanan mental dan kurangnya waktu istirahat tetap menjadi perhatian publik di negara tersebut.
Di Afrika, Ghana dan Kenya juga masuk dalam daftar negara dengan jam belajar terpanjang. Ghana mencatatkan durasi 8 jam, sementara Kenya 7,5 jam per hari. Kedua negara tersebut menaruh perhatian besar pada inklusivitas dan perluasan akses pendidikan. Pemerintah Ghana, misalnya, aktif memperluas jangkauan sistem sekolah ke daerah-daerah terpencil guna memastikan seluruh siswa mendapatkan pembelajaran yang layak. Sementara itu, Kenya terus membenahi sistem pendidikannya dengan pendekatan berbasis kebutuhan lokal dan global.
Nepal, negara di kawasan Himalaya yang memiliki tantangan geografis besar dalam mendistribusikan layanan pendidikan, menempati posisi kesembilan dengan rata-rata durasi belajar 7,75 jam per hari. Nepal mengandalkan jam belajar yang cukup lama untuk mengompensasi terbatasnya fasilitas pendidikan di sejumlah wilayah, sekaligus meningkatkan kualitas tenaga pengajar dan pemerataan layanan pendidikan nasional.
Berikut adalah daftar lengkap 10 negara dengan durasi jam sekolah terlama tahun 2025:
- Thailand – 9,5 jam per hari
- Kamboja – 8,75 jam per hari
- Bangladesh – 8,5 jam per hari
- Myanmar – 8,5 jam per hari
- Taiwan – 8,5 jam per hari
- Chili – 8,33 jam per hari
- Korea Selatan – 8 jam per hari
- Ghana – 8 jam per hari
- Nepal – 7,75 jam per hari
- Kenya – 7,5 jam per hari
Fenomena tingginya jam belajar di berbagai negara ini menunjukkan tren bahwa pendidikan global semakin kompetitif. Meski banyak negara meningkatkan intensitas waktu belajar, tetap dibutuhkan keseimbangan antara akademik dan waktu istirahat. Para ahli pendidikan menekankan bahwa kualitas pengajaran, pendekatan pembelajaran, dan kesejahteraan siswa juga harus menjadi fokus utama selain durasi waktu belajar.
Dengan durasi sekolah yang makin panjang di berbagai negara, muncul tantangan baru bagi para pendidik, orang tua, dan pemerintah untuk memastikan bahwa siswa tidak hanya banyak menghabiskan waktu di sekolah, tetapi juga benar-benar mendapatkan pengalaman belajar yang berkualitas, menyenangkan, dan berkelanjutan.
































