Enrekang, Manyala.co – Tim SAR gabungan menemukan seorang remaja yang dilaporkan tenggelam di Sungai Saddang, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, dalam keadaan meninggal dunia pada Sabtu (11/10/2025) pukul 09.30 WITA, setelah pencarian dilakukan selama tiga hari.
Korban diketahui bernama Aldi Oktavian (17), pelajar kelas X di Pesantren Muhammadiyah Boarding School (MBS) Enrekang. Ia dilaporkan hilang pada Kamis (9/10/2025) siang saat berenang bersama beberapa temannya di kawasan Jalan Swiss, Kelurahan Juppandang, yang terhubung dengan aliran Sungai Saddang.
Menurut keterangan petugas SAR, korban diduga terseret arus deras sejauh sekitar 2,5 kilometer dari lokasi awal sebelum akhirnya ditemukan di sekitar area tambang galian pasir Pinang, Kelurahan Leoran, Kecamatan Enrekang. Saat ditemukan, korban telah dalam kondisi tidak bernyawa.
Evakuasi dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri dari Basarnas, BPBD Enrekang, Polres Enrekang, TNI, Brimob Parepare, dan relawan masyarakat. Setelah proses evakuasi, jenazah Aldi dibawa ke Rumah Sakit Umum Massenrempulu Enrekang untuk pemeriksaan lebih lanjut sebelum diserahkan kepada keluarga di rumah duka.
“Korban ditemukan beberapa ratus meter dari lokasi awal tenggelam. Saat dievakuasi, korban sudah dalam keadaan meninggal dunia,” ujar salah satu anggota Tim SAR di lokasi pencarian.
Berdasarkan keterangan saksi, sebelum tenggelam, korban dan dua temannya, Yudi dan Ferdi, berencana menyeberang dari arah Swiss menuju Kampung Sudda dengan cara berenang. Namun, kuatnya arus sungai membuat Aldi kehilangan keseimbangan dan terseret sejauh 30 meter, sementara kedua rekannya berhasil mencapai seberang dan segera meminta bantuan warga.
Warga yang mengetahui kejadian itu langsung melakukan pencarian awal, namun tidak membuahkan hasil hingga Tim SAR resmi diterjunkan. Dalam proses pencarian, 13 unsur SAR gabungan dikerahkan, termasuk Pos Unit Siaga SAR Parepare, KODIM Enrekang, Dinas Sosial/Tagana, Damkar Enrekang, BAZNAS, Gempa Enrekang, SAR Pinrang, dan SAR Universitas Negeri Makassar (UNM).
Proses pencarian terkendala arus deras dan kondisi medan sungai yang curam di beberapa titik. Tim menggunakan perahu karet, alat deteksi bawah air, serta melakukan penyisiran dari darat dan air.
Pihak kepolisian mengimbau masyarakat, terutama anak-anak dan remaja, agar lebih berhati-hati beraktivitas di sungai, khususnya pada musim hujan ketika debit air meningkat dan arus menjadi lebih kuat.
“Peristiwa ini menjadi pengingat agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya sungai. Arus Sungai Saddang dikenal deras dan berisiko tinggi di sejumlah titik,” kata seorang pejabat BPBD Enrekang.
Insiden ini menambah daftar korban tenggelam di Sungai Saddang dalam beberapa tahun terakhir. Sungai yang membentang sepanjang lebih dari 150 kilometer ini mengalir melalui beberapa kecamatan di Enrekang dan sering dimanfaatkan warga untuk aktivitas sehari-hari, termasuk mandi, mencuci, dan berenang.
Tragedi ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan pihak sekolah korban. Aldi dikenal sebagai siswa yang aktif dan memiliki cita-cita tinggi. Pemerintah daerah menyampaikan belasungkawa dan mengapresiasi kerja keras seluruh tim yang terlibat dalam operasi pencarian.
































