Manyala.co – Dua mantan ajudan Presiden Prabowo Subianto, Kolonel Infanteri Wahyo Yuniartoto dan Kolonel Penerbang Anton Pallaguna, resmi memperoleh kenaikan pangkat menjadi perwira tinggi Tentara Nasional Indonesia. Keduanya “pecah bintang” setelah promosi pangkat yang ditetapkan dalam kebijakan mutasi dan rotasi TNI pada Desember 2025.
Kepala Pusat Penerangan TNI, Mayor Jenderal TNI (Marinir) Freddy Ardianzah, mengonfirmasi kenaikan pangkat tersebut pada Kamis, 25 Desember 2025. “Betul (keduanya pecah bintang),” ujar Freddy saat dikonfirmasi. Wahyo Yuniartoto naik dari kolonel menjadi Brigadir Jenderal TNI Angkatan Darat, sementara Anton Pallaguna naik dari kolonel menjadi Marsekal Pertama TNI Angkatan Udara.
Selain kenaikan pangkat, keduanya juga memperoleh promosi jabatan strategis. Brigjen Wahyo Yuniartoto kini menjabat sebagai Kepala Kelompok Staf Ahli Komando Daerah Militer Udayana. Sementara itu, Marsma Anton Pallaguna ditugaskan sebagai Staf Ahli Tingkat II Panglima Tentara Nasional Indonesia.
Promosi terhadap Wahyo dan Anton merupakan bagian dari rangkaian rotasi dan mutasi besar-besaran di lingkungan TNI yang dilakukan oleh Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto. Dalam kebijakan tersebut, sebanyak 187 perwira tinggi mendapatkan penugasan baru di berbagai posisi struktural dan strategis.
Freddy Ardianzah menjelaskan bahwa promosi jabatan dan kenaikan pangkat kedua mantan ajudan Presiden itu dilakukan bersamaan dengan penempatan para perwira tinggi lainnya. Dari total 187 perwira tinggi yang dimutasi, sebanyak 109 berasal dari TNI Angkatan Darat, 36 dari TNI Angkatan Laut, dan 42 dari TNI Angkatan Udara.
Kebijakan rotasi dan mutasi ini tertuang dalam Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/1664/XII/2025 tertanggal 15 Desember 2025. Keputusan tersebut mengatur pemberhentian dari dan pengangkatan dalam jabatan di lingkungan Tentara Nasional Indonesia, termasuk sejumlah posisi pimpinan di tingkat pusat maupun kewilayahan.
Menurut keterangan resmi TNI, rotasi dan mutasi tersebut mencakup jabatan-jabatan strategis di setiap matra. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat struktur organisasi, meningkatkan efektivitas kepemimpinan, serta menjaga kesiapan operasional TNI secara berkelanjutan di tengah dinamika tugas pertahanan negara.
Kenaikan pangkat bagi perwira yang pernah bertugas sebagai ajudan presiden bukan hal yang luar biasa dalam tradisi militer Indonesia. Ajudan presiden umumnya berasal dari perwira menengah dengan rekam jejak karier yang dinilai mumpuni dan berpotensi menduduki jabatan lebih tinggi. Namun, promosi tetap mengikuti mekanisme penilaian internal, kebutuhan organisasi, serta keputusan pimpinan TNI.
Hingga Kamis siang, TNI belum merinci evaluasi kinerja individual yang melandasi promosi masing-masing perwira. Namun, mutasi dan rotasi akhir tahun lazim dilakukan sebagai bagian dari pembinaan karier dan penyegaran organisasi. Tidak ada keterangan tambahan terkait kemungkinan rotasi lanjutan dalam waktu dekat.
































