Makassar, Manyala.co – Tim SAR Gabungan menemukan satu korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport di lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Minggu, sementara proses evakuasi terhambat medan terjal dan cuaca buruk.
Korban ditemukan di area sekitar lokasi jatuhnya pesawat yang sebelumnya dilaporkan hilang kontak dalam penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar. Hingga Minggu sore, korban masih dalam proses evakuasi menuju posko Ajang Juang (AJU) Tompobulu, Kecamatan Balocci.
Panglima Kodam XIV/Hasanuddin, Mayjen TNI Bangun Nawoko, mengonfirmasi penemuan satu korban tersebut. Ia mengatakan tim di lapangan telah melaporkan temuan melalui komunikasi radio dan saat ini fokus pada upaya evakuasi dengan mempertimbangkan keselamatan personel.
Bangun menjelaskan kondisi korban belum dapat dipastikan karena akses menuju lokasi penemuan sangat terbatas. Evakuasi terkendala medan jurang, vegetasi lebat, serta cuaca berkabut yang menyebabkan jarak pandang sangat minim di sekitar puncak Gunung Bulusaraung.
Menurut laporan tim di lapangan, korban ditemukan di sisi utara dari lokasi serpihan utama pesawat, berada di area jurang. Lokasi tersebut dinilai memiliki risiko tinggi, meskipun tidak sesulit jalur awal menuju posko AJU Tompobulu.
Pesawat ATR 42-500 dengan registrasi PK-THT mengangkut 10 orang, terdiri atas tujuh kru dan tiga penumpang. Pesawat yang dioperasikan Indonesia Air Transport itu disewa oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan dan lepas landas dari Bandara Adisutjipto, Yogyakarta, Sabtu (17/1/2026) pukul 08.08 WIB menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar.
Sebelum dinyatakan hilang kontak, pesawat dilaporkan sempat terbang di luar jalur yang ditentukan. Hingga Minggu, penyebab insiden belum diumumkan secara resmi oleh otoritas penerbangan.
Tim SAR Gabungan sebelumnya menemukan serpihan pesawat di lereng Gunung Bulusaraung, kawasan karst Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung. Gunung tersebut berada di wilayah karst Maros–Pangkep dengan ketinggian sekitar 1.353 meter di atas permukaan laut.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar selaku SAR Mission Coordinator, Muhammad Arif Anwar, menyatakan penemuan serpihan menjadi petunjuk penting untuk mempersempit area pencarian. Tim kini memprioritaskan pengamanan lokasi, pendataan temuan, serta penyesuaian taktik operasi sesuai kondisi medan.
Berdasarkan kronologi SAR, serpihan awal berupa bagian jendela pesawat ditemukan pada pukul 07.46 WITA, disusul penemuan bagian badan dan ekor pesawat dalam rentang waktu kurang dari satu jam. Namun, hujan lebat dan kabut tebal kemudian menurunkan visibilitas hingga 5–10 meter.
Cuaca di kawasan Gunung Bulusaraung dilaporkan berubah cepat. Kondisi cerah berawan dapat berubah menjadi hujan dan kabut dalam waktu singkat, sehingga membatasi penggunaan jalur darat maupun udara.
Hingga Minggu malam, operasi pencarian dan evakuasi masih berlangsung. Otoritas belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait identitas korban maupun perkembangan investigasi lanjutan.
































