Manyala.co – China memperkuat ketahanan energi nasional melalui cadangan minyak strategis besar dan diversifikasi energi, di tengah lonjakan harga minyak global akibat konflik Iran yang telah berlangsung selama tiga minggu.
Lonjakan harga minyak dunia yang menembus 120 dolar AS per barel memicu tekanan signifikan pada banyak negara. Sejumlah negara bahkan terpaksa melepaskan cadangan minyak darurat untuk menstabilkan pasar, meskipun upaya tersebut belum mampu meredam kenaikan harga secara signifikan.
Krisis ini diperparah oleh gangguan pasokan energi global, termasuk blokade Selat Hormuz serta serangan terhadap fasilitas minyak di kawasan Teluk Persia. Dampaknya dirasakan luas, mulai dari kenaikan biaya energi hingga tekanan inflasi di berbagai negara.
Di tengah kondisi tersebut, China dinilai relatif lebih tahan terhadap gejolak pasar energi. Salah satu faktor utamanya adalah cadangan minyak strategis yang besar. Berdasarkan sejumlah laporan, cadangan minyak China diperkirakan mencapai sekitar 1,3 miliar barel, meskipun tidak ada angka resmi yang dikonfirmasi pemerintah.
Jumlah tersebut dinilai cukup untuk menopang kebutuhan energi negara itu selama hampir empat bulan. Sebagai perbandingan, total cadangan darurat publik negara-negara anggota Badan Energi Internasional (IEA) sekitar 1,2 miliar barel. Sementara itu, cadangan strategis Amerika Serikat diperkirakan sekitar 415 juta barel, ditambah sekitar 439 juta barel dari sektor swasta, yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar 40 hari.
Selain besarnya cadangan, China juga secara aktif meningkatkan stok energi sejak awal 2026. Impor minyak mentah negara tersebut rata-rata mencapai 12 juta barel per hari, ditambah produksi domestik sebesar 4,42 juta barel per hari.
Kilang minyak di China memproses sekitar 15,17 juta barel per hari pada dua bulan pertama 2026. Hal ini menghasilkan surplus sekitar 1,24 juta barel per hari yang dialokasikan ke cadangan strategis, lebih tinggi dibandingkan rata-rata 1,13 juta barel per hari pada 2025.
Cadangan strategis tersebut berfungsi sebagai penyangga ketika terjadi gangguan pasokan global. Konsep ini pertama kali dikembangkan secara luas sejak krisis energi tahun 1970-an, ketika embargo minyak menyebabkan lonjakan harga dan kelangkaan pasokan di banyak negara.
Selain memperkuat cadangan, China juga menjalankan strategi diversifikasi energi untuk mengurangi ketergantungan pada minyak. Energi terbarukan, meskipun porsinya masih relatif kecil, terus mengalami peningkatan dalam bauran energi nasional.
Pada 2023, energi terbarukan non-nuklir dan non-hidro menyumbang sekitar 1,2 persen dari total konsumsi energi China, meningkat dari 0,2 persen dua dekade sebelumnya. Tren ini dinilai memiliki dampak jangka panjang dalam mengurangi sensitivitas terhadap fluktuasi harga minyak.
Di sektor transportasi, adopsi kendaraan listrik turut menekan konsumsi bahan bakar fosil. Penggunaan kendaraan listrik, khususnya truk, telah mengurangi kebutuhan minyak lebih dari 1 juta barel per hari, dengan potensi tambahan pengurangan sekitar 600.000 barel per hari dalam satu tahun ke depan.
Lebih dari separuh kendaraan penumpang baru di China kini merupakan kendaraan energi baru yang berbasis listrik. Perubahan ini mempercepat pergeseran dari bahan bakar fosil menuju energi berbasis listrik.
Secara keseluruhan, minyak dan gas saat ini hanya menyumbang sekitar 4 persen dari bauran energi China, jauh lebih rendah dibandingkan 40 hingga 50 persen di banyak negara Asia lainnya. Listrik, yang sebagian masih berasal dari batu bara namun semakin didukung energi terbarukan, menjadi komponen utama dalam konsumsi energi nasional.
Kombinasi antara cadangan besar dan transformasi energi ini dinilai menjadi faktor utama yang memperkuat ketahanan ekonomi China di tengah ketidakpastian global yang meningkat.
































