Manyala.co — Gelombang demonstrasi bertajuk “No Kings” mengguncang berbagai wilayah Amerika Serikat pada Minggu (29/3/2026) waktu setempat. Aksi yang berlangsung serentak di seluruh 50 negara bagian ini menjadi salah satu mobilisasi massa terbesar dalam sejarah modern AS, dengan partisipasi jutaan warga.
Penyelenggara menyebut demonstrasi digelar di lebih dari 3.100 hingga 3.300 titik dengan jumlah peserta diperkirakan mencapai 8 hingga 9 juta orang. Aksi berlangsung di kota-kota besar seperti New York, Los Angeles, dan Washington DC, serta meluas hingga kota-kota kecil.
Gerakan “No Kings” merupakan aksi protes politik yang digagas kelompok masyarakat sipil sebagai bentuk penolakan terhadap kepemimpinan Presiden Donald Trump yang dinilai cenderung otoriter. Gerakan ini menegaskan bahwa Amerika Serikat adalah negara demokrasi yang menolak kekuasaan absolut dan menjunjung tinggi konstitusi.
Selain isu kepemimpinan, demonstrasi juga dipicu sejumlah kebijakan pemerintah, terutama terkait imigrasi, dugaan pelanggaran hak sipil, hingga meningkatnya ketegangan global. Banyak demonstran turut menyerukan penolakan terhadap konflik Iran serta keterlibatan militer Amerika Serikat.
Aksi terbesar tercatat berlangsung di Minnesota, khususnya di Saint Paul, dengan kehadiran sekitar 100.000 peserta. Wilayah ini menjadi simbol perlawanan setelah insiden penembakan oleh aparat federal yang memicu kemarahan publik.
Di sejumlah kota lain, seperti New York, aparat mencatat puluhan ribu peserta mengikuti aksi secara damai tanpa penangkapan. Namun, di beberapa wilayah seperti Los Angeles, demonstrasi sempat memanas hingga aparat menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa.
Gelombang protes ini juga meluas ke luar negeri. Ratusan orang, termasuk warga Amerika yang tinggal di Prancis, menggelar aksi di Paris sebagai bentuk solidaritas. Para demonstran membawa berbagai poster kritik, termasuk pesan anti-perang dan tuntutan keadilan.
Gerakan “No Kings” sendiri telah berkembang sejak 2025 dan menunjukkan tren peningkatan signifikan. Pada Juni 2025, aksi diikuti sekitar 4 hingga 6 juta orang di lebih dari 2.100 lokasi. Jumlah tersebut meningkat menjadi sekitar 7 juta peserta pada Oktober 2025, dan mencapai puncaknya pada aksi terbaru Maret 2026.
Meski demikian, Gedung Putih mengecilkan skala demonstrasi dan menilai aksi tersebut tidak mencerminkan dukungan publik yang luas. Pemerintah juga menyebut mobilisasi massa didukung jaringan kelompok tertentu.
Pengamat menilai, meningkatnya intensitas demonstrasi menunjukkan meluasnya ketidakpuasan publik terhadap kebijakan pemerintah.
Aksi ini dinilai berpotensi memengaruhi dinamika politik nasional, termasuk arah kebijakan dan peta kekuatan menjelang pemilu di Amerika Serikat.
































