Manyala.co – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali mencatat serangkaian aktivitas gempa bumi yang terjadi di wilayah Indonesia dalam beberapa hari terakhir. Berdasarkan data resmi BMKG yang diperbarui pada Sabtu, 19 Juli 2025 pukul 18.25.55 WIB, terdapat lima gempa bumi terbaru yang tercatat di sistem pemantauan nasional, salah satunya terjadi di wilayah Pangandaran, Jawa Barat.
Gempa yang mengguncang wilayah Kabupaten Pangandaran pada Sabtu sore tersebut memiliki kekuatan magnitudo 4,4. Pusat gempa dilaporkan berada di laut, tepatnya 77 kilometer arah barat daya dari daratan Pangandaran. Gempa terjadi pada kedalaman 25 kilometer di bawah permukaan laut dan dipastikan tidak menimbulkan potensi tsunami.
Berdasarkan keterangan resmi dari BMKG yang dirilis melalui situs resminya, gempa ini terdeteksi pada koordinat 8,05 Lintang Selatan dan 107,88 Bujur Timur. Meski kekuatannya tergolong sedang, dampaknya dirasakan oleh sebagian masyarakat di wilayah sekitar, khususnya di Cidolog dan Garut.
Skala intensitas getaran yang dicatat BMKG menunjukkan bahwa wilayah Cidolog merasakan gempa pada level II-III dalam skala MMI (Modified Mercalli Intensity), sementara wilayah Garut merasakannya pada level II. Tingkat II dalam skala MMI umumnya menandakan bahwa getaran gempa hanya dirasakan oleh sebagian kecil masyarakat dan tidak menyebabkan kerusakan. Bahkan dalam beberapa kasus, gempa dengan skala ini hanya terdeteksi melalui alat ukur dan tidak disadari oleh orang-orang yang sedang beraktivitas.
Peristiwa ini merupakan bagian dari rangkaian aktivitas seismik yang terus terjadi di Indonesia. BMKG melaporkan bahwa selama sepekan terakhir, Indonesia mengalami setidaknya 23 kejadian gempa yang dirasakan masyarakat. Frekuensi ini menunjukkan bahwa wilayah Nusantara masih sangat aktif secara tektonik, mengingat posisi Indonesia berada di antara tiga lempeng utama dunia: Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik.
Selain gempa di Pangandaran, gempa-gempa lainnya yang terjadi pada hari yang sama juga tercatat di sejumlah wilayah lain, termasuk di Bengkulu Utara. Namun, gempa di Pangandaran menjadi sorotan karena lokasinya yang dekat dengan kawasan wisata pantai dan padat penduduk.
BMKG mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di wilayah rawan gempa seperti pesisir selatan Jawa, Sumatera bagian barat, Sulawesi Tengah, dan kawasan kepulauan di Indonesia timur, untuk tetap waspada terhadap potensi gempa susulan meskipun gempa tidak berpotensi tsunami.
Pihak BMKG juga menekankan pentingnya pemahaman masyarakat terhadap informasi resmi yang disampaikan melalui kanal-kanal komunikasi BMKG, baik melalui situs web, aplikasi, maupun akun media sosial resmi mereka. Informasi yang tersebar di luar saluran resmi perlu disikapi dengan hati-hati untuk menghindari kepanikan atau informasi yang menyesatkan.
Dalam konteks mitigasi bencana, BMKG kembali menekankan pentingnya kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana gempa bumi. Edukasi mengenai jalur evakuasi, penyediaan tas darurat, serta latihan evakuasi rutin di sekolah-sekolah dan tempat kerja perlu terus dilakukan untuk meminimalkan dampak dari gempa yang sewaktu-waktu bisa terjadi.
Sebagai negara yang berada di kawasan cincin api Pasifik, Indonesia memiliki risiko gempa bumi yang tinggi. Oleh karena itu, meskipun skala gempa seperti di Pangandaran kali ini tidak tergolong besar dan tidak menimbulkan korban jiwa atau kerusakan berarti, tetap diperlukan kewaspadaan jangka panjang dalam merespons dinamika tektonik yang terus berlangsung.
BMKG memastikan akan terus melakukan pemantauan intensif dan menyampaikan informasi sesegera mungkin jika terjadi aktivitas seismik yang signifikan. Pusat gempa, kedalaman, kekuatan magnitudo, hingga potensi tsunami akan terus diperbarui secara berkala melalui sistem informasi yang terintegrasi.
































