Manyala.co – Data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sedikitnya 303 orang meninggal dunia akibat rangkaian bencana yang melanda Aceh, Sumatera Barat (Sumbar), dan Sumatera Utara (Sumut). Jumlah itu terdiri atas 47 korban di Aceh, 90 di Sumbar, dan 166 di Sumut.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menyampaikan bahwa angka tersebut dihimpun pada hari ketiga setelah pemerintah menetapkan status tanggap darurat bencana. Ia menyebutkan, data masih dapat berubah seiring proses pencarian dan pendataan lanjutan di lapangan.
Di Aceh, selain 47 korban jiwa, tercatat 51 orang masih hilang dan delapan lainnya mengalami luka-luka. BNPB melaporkan sebanyak 48.887 kepala keluarga mengungsi dari rumah mereka, terutama di wilayah Aceh Utara, Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Aceh Singkil.
Sementara di Sumatera Barat, korban hilang mencapai 85 orang, dengan 10 warga mengalami luka-luka. Hingga kini, 11.820 kepala keluarga atau sekitar 77.918 jiwa mengungsi, terutama dari Kota Padang dan Kabupaten Pesisir Selatan.
Di Sumatera Utara, jumlah korban meninggal mencapai 166 orang dan 143 lainnya belum ditemukan. Dampak terparah terjadi di Kabupaten Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Kota Sibolga.
Upaya Pencarian dan Penanganan Darurat
BNPB bersama pemerintah daerah, TNI, Polri, dan para relawan terus memaksimalkan operasi penanganan darurat di tiga provinsi terdampak. Fokus utama mencakup pencarian korban hilang, pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi, pembukaan akses wilayah terisolasi, serta percepatan pengiriman bantuan logistik melalui jalur darat dan udara.
Suharyanto menegaskan bahwa seluruh proses penanganan dimaksimalkan melalui koordinasi lintas instansi. Akses jalan yang terputus dan keterbatasan energi listrik masih menjadi hambatan besar dalam percepatan evakuasi dan distribusi bantuan.
BNPB juga menyoroti pentingnya percepatan pendataan kerusakan dan pemulihan kebutuhan dasar warga sebagai prioritas operasi.
Latar Belakang Bencan
Serangkaian bencana banjir dan tanah longsor terjadi setelah hujan ekstrem mengguyur kawasan Sumatra pada 24–26 November 2025. Sumatera Utara mengalami dampak signifikan, terutama di Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Sibolga, serta daerah pegunungan dan pesisir. Banyak desa terendam, sejumlah jembatan penghubung putus, dan jaringan komunikasi lumpuh akibat listrik padam.
Di Aceh dan Sumbar, kondisi serupa juga terjadi. Longsor menerjang perbukitan dan rumah-rumah di bantaran sungai patah atau hanyut terbawa arus. Banyak warga di kawasan rawan banjir terkejut oleh meningkatnya volume air yang datang secara tiba-tiba.
Kerusakan infrastruktur vital seperti jalan utama, jembatan, dan jaringan listrik membuat proses evakuasi dan penyelamatan semakin sulit dilakukan.
































