Manyala.co – Tidak semua perjalanan wisata berakhir indah sesuai harapan. Banyak turis menilai bahwa pengalaman perjalanan mereka bukan hanya ditentukan oleh keindahan destinasi, tetapi juga oleh interaksi dengan penduduk lokal. Mulai dari sikap yang dingin, pelayanan yang dianggap tidak ramah, hingga perilaku agresif di jalanan sering kali membentuk kesan berbeda bagi pelancong.
Situs farandwide.com pernah merangkum sejumlah negara yang kerap dilabeli kasar oleh wisatawan, baik karena pengalaman pribadi maupun sekadar persepsi. Daftar ini menunjukkan bahwa keramahan tidak selalu hadir di setiap sudut dunia, bahkan di destinasi populer sekalipun. Berikut rangkumannya:
- Prancis
Banyak orang berkelakar tentang sikap warga Paris yang dinilai sinis, dan ternyata hal ini kerap dialami turis asing. Mereka mengaku diabaikan saat berbelanja, diremehkan karena tak bisa berbahasa Prancis, atau disambut tatapan dingin. “Jika turis lupa mengucapkan ‘bonjour’, kesalahan dianggap ada pada Anda,” begitu ungkapan yang sering muncul terkait pengalaman di sana. - Rusia
Di Rusia, senyum dari orang asing sangat jarang ditemui. Wisatawan mengeluhkan interaksi yang terasa menegangkan, seolah orang lokal selalu marah meski hanya ditanya arah. Nada bicara keras dianggap normal di sana, meski bagi pendatang terkesan agresif. - Amerika Serikat
Negeri Paman Sam memang menawarkan banyak hal menarik, tetapi keramahan warga tidak selalu terasa. Sejak tiba di bandara, turis bisa dibuat lelah dengan antrean panjang, petugas yang cemberut, hingga minimnya basa-basi. Di kota besar seperti New York, pelayanan cepat tetapi penuh ketidaksabaran, bahkan seakan orang baru mau melayani setelah diberi tip. - India
Kunjungan ke India identik dengan warna-warni dan energi semarak, namun banyak wisatawan kewalahan menghadapi calo yang mendesak, pertanyaan berulang, bahkan perilaku seperti diikuti atau dicengkeram. Bagi yang tidak terbiasa, suasana kacau ini bisa membuat perjalanan cepat melelahkan. - China
Kota besar seperti Beijing dan Shanghai dikenal sangat padat, dan di sana ruang pribadi hampir tidak ada. Memotong antrean, berbicara keras, atau bertingkah kasar dianggap biasa. Sebagian turis bisa memakluminya, namun banyak juga yang merasa sangat terganggu. - Maroko
Keindahan arsitektur dan kuliner Maroko memang memikat, tetapi berjalan di jalanan, terutama di Marrakesh, bisa menjadi pengalaman penuh tekanan. Wisatawan mengaku hampir tidak bisa berjalan satu blok tanpa diganggu pedagang. Penjual sering mengejar, memaksa membeli, bahkan meminta tip hanya karena berada di dekat mereka. - Jerman
Warga Jerman dikenal tegas, lugas, dan tidak suka basa-basi. Efisiensi ini sering diterjemahkan wisatawan sebagai sikap dingin. Jarang ada senyum, pelayanan terasa terburu-buru, bahkan kesalahan kecil seperti salah membuang sampah bisa langsung ditegur. Namun sebenarnya, sikap ini bukan karena dendam pribadi, melainkan budaya mereka yang menjunjung aturan. - Mesir
Negara dengan peninggalan sejarah menakjubkan ini tidak selalu menyajikan pengalaman menyenangkan. Turis kerap mengeluhkan permintaan tip tanpa henti, pemandu yang agresif, hingga pelecehan di kawasan wisata seperti Giza. Beberapa perempuan melaporkan merasa diobjektifikasi atau tidak aman. Meski monumen Mesir mengesankan, tekanan sosial bisa mengurangi rasa kagum itu. - Korea Selatan
Meski budaya Korea dikenal sangat menjunjung kesopanan, wisatawan kadang merasakan hal sebaliknya. Beberapa turis menyebut pelayan jarang melakukan kontak mata atau tidak menanggapi sapaan, sehingga kesannya dingin. Situasi ini membuat sebagian tamu merasa tidak disambut hangat. - Inggris
Orang Inggris sering dipuji karena tata kramanya, namun mereka juga terkenal tertutup. Di kota besar seperti London, turis yang berharap obrolan ringan justru merasa kecewa. Jika pun ada percakapan, sering kali berupa sarkasme khas Inggris. Kesopanan yang ditunjukkan bukan berarti kehangatan, dan banyak wisatawan menilai sikap tersebut membuat mereka merasa cepat ingin diabaikan.
Berbeda dengan negara-negara di atas, Indonesia justru tampil dengan reputasi positif di mata wisatawan. Survei InterNations tahun 2024 menempatkan Indonesia pada posisi kedua negara paling ramah di dunia. Warga Nusantara dikenal murah senyum, hangat, serta suka membantu, bahkan ketika terjadi kendala bahasa. Mengutip World Nomads, banyak pelancong asing merasa benar-benar disambut dengan tulus selama berada di tanah air.
Keramahan ini kerap dikaitkan dengan budaya gotong royong serta keberagaman masyarakat Indonesia yang terbiasa hidup berdampingan secara harmonis. Tak heran bila banyak wisatawan mengaku pengalaman di Indonesia berbanding terbalik dengan daftar negara yang kerap dilabeli kasar.
































