Manyala.co – Minat baca masyarakat Indonesia kerap menjadi sorotan, terutama di tengah era digital yang dipenuhi oleh konten visual. Namun di balik tantangan tersebut, sejumlah provinsi justru menunjukkan peningkatan signifikan dalam kegemaran membaca. Berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, terdapat 10 provinsi dengan skor tertinggi dalam indeks kegemaran membaca, menunjukkan bahwa budaya literasi masih tumbuh di berbagai wilayah Tanah Air.
Kepulauan Bangka Belitung Jadi yang Terdepan
Provinsi yang menduduki peringkat pertama adalah Kepulauan Bangka Belitung, dengan skor kegemaran membaca mencapai 77,47. Skor ini mencerminkan kebiasaan positif masyarakatnya yang rata-rata mampu membaca hingga lima hingga enam buku dalam setahun. Fakta ini cukup mencengangkan mengingat provinsi ini secara geografis terdiri dari wilayah kepulauan yang relatif kecil.
Dominasi Pulau Jawa dan Luar Jawa
Di urutan kedua, Jawa Timur mencatat skor 77,15 hanya terpaut tipis dari Bangka Belitung. Disusul oleh Jawa Barat di posisi ketiga dengan skor 75,07. Kedua provinsi ini dikenal memiliki populasi yang besar dan infrastruktur pendidikan yang cukup baik. Tak kalah penting, kehadiran perpustakaan daerah, taman bacaan masyarakat (TBM), serta berbagai komunitas literasi turut memperkuat budaya membaca di sana.
Sementara itu, Kalimantan Selatan menunjukkan performa yang mengesankan dengan skor 74,63, menempati posisi keempat. Provinsi ini berhasil mengalahkan sejumlah wilayah lain di luar Pulau Kalimantan, mencerminkan distribusi minat baca yang cukup merata.
Sulawesi Selatan dan Jawa Tengah Masuk Lima Besar
Menempati posisi kelima, Sulawesi Selatan mencatat skor 74,46, memperlihatkan daya saing literasi yang kuat di kawasan timur Indonesia. Provinsi ini dikenal dengan geliat budaya, pendidikan, serta sejumlah program literasi berbasis komunitas yang aktif hingga ke daerah pedesaan.
Selanjutnya, Jawa Tengah berada di peringkat keenam dengan skor 73,91. Meski belum menyamai Jawa Timur dan Jawa Barat, provinsi ini tetap menunjukkan komitmen dalam memupuk budaya baca melalui berbagai inisiatif pemerintah daerah dan swasta.
Kepulauan Riau hingga DKI Jakarta Masih Bertahan di 10 Besar
Kepulauan Riau mengikuti di posisi ketujuh dengan skor 73,69. Provinsi ini memiliki dinamika literasi yang kuat, didorong oleh pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi dan akses ke fasilitas pendidikan formal dan non-formal.
Sumatera Barat berada di peringkat kedelapan (73,30), disusul Kalimantan Utara di urutan kesembilan dengan skor 72,80. Meskipun merupakan salah satu provinsi termuda, Kalimantan Utara menunjukkan antusiasme masyarakatnya dalam membaca buku sebagai bentuk pengembangan diri.
Terakhir, posisi kesepuluh ditempati oleh DKI Jakarta dengan skor 72,19. Sebagai ibu kota negara dengan akses literasi tertinggi, posisinya yang nyaris berada di luar lima besar justru memberi sinyal perlunya inovasi baru dalam mendorong masyarakatnya kembali ke aktivitas membaca, di tengah dominasi konten digital yang semakin masif.
Membaca Tak Lagi Terbatas di Sekolah
Data BPS tersebut tak hanya mencerminkan kebiasaan membaca dalam konteks akademik, tetapi juga menyoroti kegemaran membaca sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat sehari-hari. Buku-buku yang dibaca mencakup beragam genre, mulai dari novel fiksi, buku sejarah, motivasi, hingga literatur populer.
Meski secara rata-rata nasional minat baca masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari rendahnya ketersediaan buku hingga kesenjangan fasilitas antarwilayah, sepuluh provinsi ini membuktikan bahwa dengan pendekatan yang tepat, budaya membaca tetap bisa tumbuh.
Kegemaran membaca bukan hanya tentang banyaknya buku yang dibaca, melainkan bagaimana kebiasaan itu mampu membentuk pola pikir masyarakat yang kritis, kreatif, dan adaptif. Daftar provinsi dengan indeks kegemaran membaca tertinggi tahun 2024 ini menjadi cerminan bahwa semangat literasi masih hidup dan bisa terus ditumbuhkan jika mendapat dukungan yang memadai, baik dari pemerintah, lembaga pendidikan, maupun komunitas lokal.
Apakah provinsimu masuk dalam daftar 10 besar ini? Atau justru menjadi bagian dari gerakan literasi yang membangun masa depan Indonesia lewat halaman-halaman buku?
































