Manyala.co – Menyusul peringatan tsunami yang dikeluarkan usai gempa dahsyat berkekuatan magnitudo 8,8 mengguncang wilayah Kamchatka, Rusia, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan bahwa ini bukan kali pertama Indonesia terdampak gelombang tsunami yang berasal dari luar negeri. Setidaknya lima kejadian tercatat dalam sejarah di mana tsunami lintas negara sempat menjangkau perairan Indonesia, meski letusan gempa berasal dari lokasi yang sangat jauh.
Menurut penjelasan Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, dalam konferensi pers daring pada Rabu (30/7), fenomena lintas samudera ini sudah lama tercatat meskipun dahulu belum banyak dipantau secara canggih seperti sekarang. Ia menjelaskan bahwa pada masa lalu, keterbatasan sistem pemantauan tidak mampu mendeteksi pergerakan air laut secara detail. Namun, laporan pelaut dan masyarakat pesisir kala itu menjadi bukti awal adanya pengaruh gelombang besar dari luar negeri.
Salah satu kejadian paling awal tercatat pada 22 Mei 1960, ketika Chili diguncang gempa dahsyat berkekuatan M 9,5 di Valdivia—salah satu gempa terbesar dalam sejarah manusia. Gelombang tsunami yang ditimbulkan saat itu menempuh ribuan kilometer hingga mencapai Papua, Indonesia, sekitar 24 jam setelah kejadian. Beberapa titik seperti Teluk Yotefa, Jayapura, mencatat gelombang sekitar 50 cm, sementara wilayah lain seperti Biak dan Serui mencatat anomali pada pasang surut air laut.
Peristiwa serupa juga terjadi pada tahun 1964 ketika gempa magnitudo 9,2 mengguncang wilayah Prince William Sound, Alaska. Kali ini, waktu tempuh tsunami menuju perairan Indonesia lebih cepat, yaitu sekitar 20 hingga 22 jam. Sorong dan Jayapura kembali menjadi wilayah terdampak, meskipun hanya mencatat fluktuasi air laut dalam skala kecil tanpa laporan kerusakan signifikan. Tide gauge—alat pengukur pasang surut—mendeteksi perubahan air laut yang tidak biasa, namun kejadian ini tidak menimbulkan korban.
Selanjutnya, pada 4 Oktober 1994, gempa yang berpusat di Kuril Island, Rusia, juga menyebabkan gelombang tsunami yang menjalar hingga ke wilayah timur Indonesia. Sorong kembali menjadi titik pemantauan utama di mana alat tide gauge mencatat fluktuasi ketinggian muka laut sekitar 20 cm. Laporan lokal di Manokwari pun mengonfirmasi adanya kenaikan air laut meskipun dalam skala kecil. Tsunami kali ini tercatat mencapai wilayah Papua sekitar 7 hingga 8 jam setelah pusat gempa mengguncang Kuril.
Beralih ke era yang lebih modern, pada 5 Maret 2021, gempa berkekuatan M 8,1 mengguncang Kepulauan Kermadec di Selandia Baru. Meski berjarak sangat jauh, gelombang laut akibat gempa tersebut tercatat memengaruhi perairan Merauke, Biak, dan Jayapura. Tide gauge di Biak menunjukkan fluktuasi air laut sekitar 15 cm, sementara Jayapura mengalami perubahan kecil pada permukaan laut. Meski dampaknya minim, peringatan tetap disiarkan oleh BMKG untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat pesisir.
Satu lagi kejadian besar tercatat pada 11 Maret 2011 ketika Jepang dilanda gempa megathrust berkekuatan magnitudo 9,1. Tsunami dahsyat yang ditimbulkan tak hanya meluluhlantakkan wilayah Jepang, tetapi juga berdampak hingga ke Indonesia. Dalam kurun waktu 6 hingga 8 jam setelah gempa, gelombang laut setinggi 25–30 cm mencapai Biak, 20 cm di Jayapura, dan 15–20 cm di Serui. Supiori, Papua Barat menjadi salah satu titik yang terdampak serius. Tercatat dua korban meninggal dunia dan puluhan rumah rusak di sejumlah kawasan seperti Holtekam, Muara Tami, Abepura, dan Jayapura Selatan. Total terdapat 67 bangunan yang dilaporkan mengalami kerusakan akibat gelombang susulan tersebut.
Kelima kejadian di atas menunjukkan bahwa meski Indonesia tidak menjadi pusat gempa, lokasinya yang strategis di kawasan Cincin Api Pasifik membuat wilayah ini tetap rentan terhadap dampak sekunder dari bencana yang terjadi di luar negeri. Oleh karena itu, Daryono menekankan pentingnya sistem pemantauan tsunami global dan keterlibatan masyarakat dalam memahami serta merespons ancaman ini secara cepat.
Sebagai antisipasi terhadap dampak gempa Kamchatka terbaru, BMKG telah menyebutkan bahwa setidaknya 10 wilayah di Indonesia, khususnya di kawasan timur, berpotensi terdampak. Meskipun potensi gelombang belum tentu besar, kewaspadaan tetap harus dijaga. Protokol evakuasi dan pengumuman darurat telah disiapkan untuk menghadapi skenario terburuk.
Dengan catatan sejarah dan dinamika geologis yang kompleks, Indonesia harus terus mengembangkan sistem mitigasi bencana, khususnya dalam menghadapi potensi tsunami lintas batas yang sulit diprediksi namun berisiko tinggi.
































