Manyala.co – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, mencatat sejarah baru dalam diplomasi luar negeri Indonesia dengan menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2025 di Rio de Janeiro, Brasil, Minggu, 6 Juli 2025. Ini merupakan kali pertama Indonesia hadir sebagai anggota penuh BRICS—sebuah forum ekonomi dan politik global yang kian berpengaruh di dunia.
Kehadiran Prabowo dalam forum internasional prestisius tersebut disambut hangat oleh para pemimpin negara anggota lainnya, menandai babak baru peran Indonesia di panggung global. Dalam sambutannya, Prabowo menegaskan bahwa Indonesia akan memainkan peran strategis sebagai bridge-builder atau jembatan penghubung dalam menghadapi isu-isu global yang kian kompleks dan penuh ketegangan.
Inisiasi Prabowo, Akselerasi Bergabungnya Indonesia
Keanggotaan Indonesia dalam BRICS bukanlah proses yang berjalan lama. Hanya dalam waktu kurang dari satu tahun sejak Prabowo resmi dilantik sebagai Presiden RI, Indonesia diterima sebagai anggota ke-11 BRICS pada Januari 2025. Proses ini disebut sebagai inisiatif langsung dari Presiden Prabowo sendiri, yang menyadari pentingnya keterlibatan Indonesia dalam kerja sama multilateral berbasis negara-negara berkembang.
Menurut Sekretaris Kabinet Letkol Teddy Indra Wijaya, langkah itu merupakan cerminan visi Presiden dalam memperluas peran Indonesia sebagai bagian dari Global South yang vokal dan berpengaruh, sekaligus memperkuat posisi Indonesia di tataran internasional dalam bidang perdagangan, keamanan, dan tata kelola global.
Dari Reformasi Multilateralisme hingga Tata Kelola AI
Agenda KTT BRICS 2025 kali ini cukup padat dan mencakup isu-isu multidimensi. Para pemimpin negara anggota BRICS berdiskusi seputar konflik geopolitik yang berlarut-larut di berbagai kawasan, perlunya reformasi struktur tata kelola global, serta penguatan prinsip multilateralisme yang inklusif.
Isu-isu kontemporer lain yang juga menjadi fokus antara lain pengembangan tata kelola kecerdasan buatan (AI), tantangan perubahan iklim, upaya peningkatan layanan kesehatan global, serta kerja sama ekonomi dan keuangan yang lebih adil.
Presiden Prabowo memanfaatkan forum ini untuk menyampaikan sikap Indonesia secara tegas. Ia menolak keras segala bentuk agresi dan peperangan, dan sebaliknya menyerukan pentingnya diplomasi damai serta kerja sama antarbangsa demi kemakmuran bersama. Prabowo juga menekankan pentingnya kolaborasi di sektor teknologi, pendidikan, dan keamanan pangan sebagai fondasi ketahanan global.
“Seribu Kawan Terlalu Sedikit, Satu Lawan Terlalu Banyak”
Dalam pernyataannya yang disampaikan kepada media dan delegasi, Prabowo menggarisbawahi filosofi hubungan luar negeri Indonesia dengan mengutip pepatah yang sering ia gunakan: “Seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak.” Ungkapan ini menurutnya merefleksikan kebutuhan dunia saat ini untuk membangun kepercayaan dan kerja sama daripada menciptakan permusuhan baru.
Prabowo juga menyatakan komitmen Indonesia untuk mendorong perdamaian dan pembangunan berkelanjutan melalui kerja sama lintas negara. Ia menilai bahwa dunia menghadapi ancaman polarisasi yang tajam, dan peran negara-negara Global South menjadi semakin penting untuk menyeimbangkan dinamika kekuatan global.
Anggota BRICS Kian Meningkat, Representasi Semakin Global
Seiring dengan keanggotaan baru seperti Indonesia, BRICS kini terdiri dari 11 negara: Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab, Etiopia, Iran, dan Indonesia. Dengan keanggotaan ini, BRICS kini mewakili hampir 50 persen populasi dunia dan lebih dari sepertiga Produk Domestik Bruto (GDP) global.
Forum ini telah bertransformasi dari sekadar aliansi ekonomi negara-negara berkembang menjadi kekuatan geopolitik baru yang kian diperhitungkan oleh blok-blok besar seperti G7 dan NATO. Posisi Indonesia sebagai negara anggota G20 dan ASEAN memberikan nilai tambah tersendiri di dalam keanggotaan BRICS, karena mampu menjembatani kepentingan berbagai blok ekonomi dan kawasan.
Partisipasi Aktif Indonesia: 165 Pertemuan dalam 6 Bulan
Sejak resmi menjadi anggota BRICS awal tahun ini, Indonesia telah aktif mengikuti lebih dari 165 pertemuan resmi BRICS di bawah kepemimpinan Brasil, termasuk 20 pertemuan tingkat menteri. Hal ini menunjukkan keseriusan pemerintah Indonesia dalam memanfaatkan keanggotaan BRICS sebagai platform untuk menjalin diplomasi yang konstruktif.
Menurut keterangan resmi dari Sekretariat Presiden, delegasi Indonesia membawa sejumlah usulan konkret dalam forum tersebut, mulai dari peningkatan akses pasar negara berkembang, pembentukan dana infrastruktur bersama, hingga transfer teknologi ramah lingkungan antarnegara anggota.
Deklarasi Pemimpin BRICS dan Harapan Prabowo
KTT yang mengangkat tema Strengthening Global South Cooperation to a More Inclusive and Sustainable Governance ini diakhiri dengan penyusunan Leaders’ Declaration, yang menjadi hasil konsensus dari seluruh negara anggota BRICS. Deklarasi tersebut memuat komitmen bersama terhadap kerja sama di sektor ekonomi, politik, dan pembangunan berkelanjutan.
Prabowo berharap bahwa keberadaan Indonesia dalam BRICS akan terus membawa manfaat konkret, tidak hanya bagi posisi strategis Indonesia, tetapi juga bagi kepentingan rakyat dalam bentuk investasi, kerja sama perdagangan, dan akses teknologi yang lebih luas.
Menatap Masa Depan: BRICS dan Arah Baru Diplomasi Indonesia
Dengan bergabungnya Indonesia ke dalam BRICS, arah kebijakan luar negeri Indonesia memasuki babak baru. Keterlibatan aktif di forum seperti ini tidak hanya memberikan akses ke jaringan diplomatik yang lebih luas, tetapi juga memperbesar peluang Indonesia dalam menyuarakan kepentingan negara-negara berkembang, menyeimbangkan kekuatan global, dan memperjuangkan tata dunia baru yang lebih adil.
Presiden Prabowo mengisyaratkan bahwa Indonesia akan terus memposisikan diri sebagai mitra strategis yang independen, terbuka untuk dialog, dan selalu mengutamakan perdamaian, keadilan, serta kesejahteraan rakyat dalam setiap kebijakan luar negeri yang diambil.
































