Manyala.co – Sebuah serangan udara yang dilancarkan Israel pada Kamis (30/5/2025) menghantam Bandara Internasional Sanaa di Yaman, menyebabkan kehancuran pada sebuah pesawat milik Yemenia Airways yang sedianya dijadwalkan untuk mengangkut jemaah haji ke Arab Saudi. Serangan ini terjadi sehari setelah kelompok Houthi meluncurkan dua rudal ke wilayah Israel.
Menurut laporan Al Masirah TV, media yang berafiliasi dengan kelompok Houthi, setidaknya empat rudal menghantam landasan pacu bandara utama di ibu kota Yaman tersebut. Serangan ini dikonfirmasi oleh Direktur Jenderal Bandara Internasional Sanaa, Khaled al-Shaief, yang melalui akun X-nya menyatakan bahwa pesawat komersial yang terkena serangan sedang berada di bandara untuk bersiap melakukan penerbangan ibadah haji.
Serangan tersebut dilakukan oleh Angkatan Udara Israel dengan dalih sebagai respons atas serangan rudal yang diluncurkan Houthi sehari sebelumnya. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengonfirmasi keterlibatan negaranya dalam serangan tersebut. “Ini adalah pesan yang jelas dan kelanjutan dari kebijakan kami: Siapapun yang menembaki negara Israel akan membayar harga yang mahal,” katanya seperti dikutip Reuters.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menekankan bahwa serangan ke Yaman merupakan bagian dari strategi lebih besar untuk menanggapi ancaman regional. Ia menuding Iran sebagai aktor utama di balik tindakan kelompok Houthi. “Seperti yang telah saya katakan lebih dari sekali, Houthi hanyalah sebuah gejala. Kekuatan pendorong utama di belakang mereka adalah Iran, yang bertanggung jawab atas agresi yang berasal dari Yaman,” ujar Netanyahu.
Pemimpin kelompok Houthi, Abdul-Malik al-Houthi, menanggapi serangan tersebut dengan menyatakan bahwa tindakan Israel dimaksudkan untuk melemahkan solidaritas rakyat Yaman terhadap Palestina. Ia menyatakan, “Tidak peduli seberapa besar agresi Israel dan seberapa seringnya agresi itu terjadi, itu tidak akan mempengaruhi sikap rakyat kami dalam mendukung rakyat Palestina.” Ia juga menyebut bahwa Israel berada dalam posisi lemah setelah Amerika Serikat menghentikan agresinya karena dinilai gagal mencapai tujuan militernya.
Insiden ini terjadi hanya sepekan setelah Bandara Sanaa kembali dioperasikan pasca-perbaikan dari serangan sebelumnya. Saat ini, Yemenia Airways menjadi satu-satunya maskapai yang masih beroperasi di bandara tersebut, selain penerbangan kemanusiaan yang difasilitasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Sebelumnya, Houthi mengklaim telah menembakkan dua rudal balistik ke arah Israel, yang kemudian berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara Israel. Serangan-serangan ini merupakan bagian dari rangkaian eskalasi yang dimulai sejak Israel melancarkan operasi militernya di Jalur Gaza pada Oktober 2023. Sejak saat itu, kelompok Houthi telah meningkatkan aksinya terhadap kepentingan Israel, termasuk memperingatkan akan memberlakukan blokade laut di pelabuhan Haifa.
Selain menargetkan Israel secara langsung, Houthi juga telah menyerang kapal-kapal niaga di Laut Merah sejak November 2023. Aksi tersebut memicu balasan militer dari Amerika Serikat dan Inggris yang dimulai pada Januari 2024. Namun, ketegangan mereda di awal Mei 2025 setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara AS dan kelompok Houthi, yang mengakhiri serangkaian serangan udara terhadap wilayah yang dikuasai Houthi di Yaman.
































