Manyala.co – Upaya peningkatan efisiensi dan keberlanjutan operasi terus dilakukan oleh Pertamina EP. Salah satu langkah nyata dilakukan melalui kemitraan strategis dengan BASF, perusahaan kimia global asal Jerman, yang kini terlibat dalam proyek pengolahan gas di Lapangan Akasia Bagus, Indramayu, Jawa Barat.
Kolaborasi ini diumumkan melalui siaran pers resmi Pertamina EP yang diterima oleh ruangenergi.com pada Jumat (30/05/2025). Dalam kerja sama ini, BASF dipercaya sebagai penyedia teknologi (licensor) untuk sistem pengolahan gas asam atau Acid Gas Removal Unit (AGRU) yang menggunakan teknologi berbasis methyldiethanolamine (MDEA). Teknologi ini dirancang untuk mengatasi kadar karbon dioksida (CO2) yang sangat tinggi dalam gas produksi.
Tak hanya memberikan lisensi teknologi, BASF juga mendukung proyek ini dengan keahlian teknis untuk pengembangan serta penerapan sistem pengolahan gas yang canggih. Kolaborasi ini membuahkan pencapaian yang terbilang revolusioner: kemampuan untuk menurunkan kandungan CO2 dalam gas dari level awal sekitar 65% mole menjadi hanya 8% mole, sehingga memenuhi standar kualitas gas siap jual.
Gas dengan kadar CO2 tinggi tersebut berasal dari hasil produksi yang dikumpulkan di fasilitas Stasiun Pengumpul Akasia Bagus (SP ABG). Ini merupakan sebuah terobosan teknologi pengolahan gas berskala industri yang menjadi yang pertama di dunia dalam jenisnya.
Lapangan Akasia Bagus sendiri dikembangkan oleh Pertamina EP berdasarkan rencana pengembangan atau Plan of Development (POD) yang telah disetujui sejak 27 Desember 2017. Proyek ini dilaksanakan dalam dua tahap, yakni Stage 1 dan Stage 2. Hingga saat ini, sudah terdapat 26 sumur produksi aktif yang beroperasi di lapangan tersebut, termasuk 12 sumur pengembangan yang telah dibor di area klaster Akasia Bagus.
Sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan produksi migas nasional, Pertamina EP juga tengah menjalankan program peningkatan kapasitas fasilitas di SP ABG. Dari kapasitas awal sebesar 1.750 barel cair per hari (BLPD) dan 3 juta standar kaki kubik gas per hari (MMSCFD), fasilitas ini akan ditingkatkan kemampuannya menjadi 9.000 BLPD dan 22 MMSCFD.
Kolaborasi antara Pertamina EP dan BASF ini menjadi langkah konkret untuk mengoptimalkan potensi migas nasional dengan pendekatan teknologi mutakhir dan berwawasan lingkungan. Inovasi semacam ini tidak hanya berdampak pada efisiensi operasional, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan.
































