Manyala.co – Pembelian properti bernilai fantastis kembali menjadi sorotan di Singapura, kali ini melibatkan Mimi Yuliana Maeloa, salah satu cucu mendiang konglomerat Indonesia ternama, Eka Tjipta Widjaja. Wanita berdarah Indonesia yang kini berstatus warga negara Singapura itu tercatat membeli salah satu hunian paling eksklusif di negara kota tersebut: sebuah bungalow di kawasan prestisius Chatsworth Avenue, tak jauh dari Orchard Road, pusat belanja mewah yang menjadi ikon Singapura.
Transaksi pembelian tersebut terjadi pada akhir Juni 2025 dan tercatat dalam laporan properti resmi. Nilai rumah yang dibeli mencapai 25 juta dolar Singapura atau sekitar Rp317,5 miliar jika dikonversikan ke dalam rupiah. Rumah ini memiliki luas hampir 767 meter persegi dan tergolong ke dalam kategori Good Class Bungalow (GCB), yaitu klasifikasi properti paling eksklusif di Singapura yang hanya tersedia sekitar 2.800 unit di seluruh negeri.
Kepemilikan GCB sangat terbatas dan sering kali menjadi incaran para miliarder dunia. Status hukum pembelian GCB oleh warga asing juga cukup ketat karena membutuhkan persetujuan langsung dari pemerintah Singapura. Maka, tidak mengherankan jika rumah-rumah dalam kategori ini selalu menjadi simbol status sosial dan kekuatan finansial kelas atas global.
Mimi sendiri bukanlah figur sembarangan. Ia adalah anak dari Sukmawati Widjaja, yang juga dikenal dengan nama Tionghoa Oei Siu Hoa, salah satu putri dari mendiang Eka Tjipta Widjaja pendiri Grup Sinar Mas, salah satu konglomerasi bisnis terbesar di Asia Tenggara. Grup ini memiliki portofolio bisnis yang sangat luas, mulai dari industri kertas dan pulp, properti, agribisnis, hingga jasa keuangan.
Dilihat dari latar belakang profesionalnya, Mimi Maeloa bukan hanya sekadar pewaris kekayaan keluarga. Ia merupakan alumnus dari University of California dan memiliki pengalaman kerja di beberapa institusi keuangan ternama, termasuk Goldman Sachs. Sejak 2010, ia menjabat sebagai direktur di Top Global, sebuah perusahaan pengembang properti yang berada dalam jaringan bisnis keluarga besarnya. Selain itu, pada 2022 ia juga terdaftar sebagai direktur SW Global Management, sebuah perusahaan kantor keluarga (family office) yang berbasis di Singapura.
Menurut dokumen properti, bungalow yang dibeli oleh Mimi sebelumnya dimiliki oleh Raymond Phee, seorang pebisnis yang memimpin perusahaan distributor peralatan listrik dan alat tulis lokal. Meski bukan tokoh publik yang sering disorot media, Phee diketahui memiliki berbagai peran dalam dunia bisnis Singapura.
Bukan kali pertama kawasan Chatsworth Avenue menarik perhatian karena transaksi besar. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu kantong permukiman elite yang dihuni oleh kalangan diplomat, ekspatriat kaya, serta para pengusaha besar dari dalam dan luar negeri. Letaknya yang strategis di tengah kota serta atmosfir yang eksklusif menjadikannya incaran para pemburu properti kelas atas.
Fenomena pembelian properti mahal oleh individu super kaya memang semakin marak di Singapura. Pada awal tahun ini, misalnya, seorang pewaris bankir Malaysia berhasil mencetak rekor baru setelah membeli sebuah rumah mewah di Tanglin Hill seharga 93,9 juta dolar Singapura. Dengan harga per kaki persegi mencapai lebih dari 6.197 dolar Singapura, angka tersebut lebih dari dua kali lipat harga properti di Chatsworth Avenue yang dibeli Mimi.
Tren ini juga memperkuat posisi Singapura sebagai salah satu magnet bagi kapital global, terutama dalam sektor properti. Statusnya sebagai negara stabil, bebas pajak warisan, dan dengan sistem hukum yang kuat membuat kota ini semakin diminati oleh kalangan miliarder, baik dari Asia maupun luar benua.
Meski demikian, pembelian properti oleh warga asing dalam jumlah besar seperti ini kerap menimbulkan perdebatan di Singapura. Beberapa kalangan menyoroti kenaikan harga rumah yang semakin tidak terjangkau oleh penduduk lokal. Pemerintah setempat pun memberlakukan pajak tambahan dan regulasi ketat untuk properti kelas atas, termasuk GCB, dalam upaya menjaga keseimbangan antara pasar properti dan kebutuhan rakyat.
Nama Mimi Yuliana Maeloa mungkin belum setenar figur-figur pewaris kekayaan lain dari Asia, tetapi langkah investasinya di sektor properti memperlihatkan bahwa ia memiliki pengaruh dan arah bisnis yang kuat. Jejak kariernya di sektor keuangan serta keterlibatannya dalam pengelolaan aset keluarga membuatnya menjadi sosok yang patut diperhitungkan dalam generasi penerus konglomerat Asia masa kini.
































