Manyala.co – Sebuah peristiwa yang jarang terjadi akhirnya terwujud dalam konflik panjang antara Israel dan Gaza: Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengeluarkan pernyataan maaf resmi atas serangan militer yang mengenai sebuah gereja Katolik di Jalur Gaza. Insiden ini bukan hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga mengundang gelombang kecaman dan keprihatinan dari berbagai penjuru dunia, termasuk dari Vatikan dan pemerintah Amerika Serikat.
Pada Kamis, 17 Juli 2025, komunitas internasional dikejutkan oleh kabar mengenai hancurnya Gereja Keluarga Kudus satu-satunya gereja Katolik di Gaza akibat serangan yang dilakukan oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF). Tempat suci yang berada di bawah naungan Patriarkat Latin Yerusalem ini selama dua dekade terakhir menjadi tempat perlindungan terakhir bagi minoritas Kristen di wilayah yang dilanda konflik berkepanjangan tersebut.
Tiga warga sipil dilaporkan meninggal dalam serangan tersebut, termasuk Saad Issa Kostandi Salameh, Foumia Issa Latif Ayyad, dan Najwa Abu Dawood. Selain itu, Pastor Gabriel Romanelli, seorang imam Katolik asal Argentina yang telah mengabdi di Gaza selama hampir 30 tahun, juga mengalami luka dalam insiden itu. Kerusakan parah tercatat di bagian bangunan gereja, namun secara simbolik, salib di atas atapnya tetap berdiri menjadi saksi bisu tragedi yang menyayat hati ini.
Menyikapi peristiwa tersebut, Netanyahu menyampaikan permintaan maaf melalui pernyataan resmi dari kantornya, yang dikutip CNN. Ia menyatakan bahwa “Israel sangat menyesalkan jatuhnya korban jiwa tak berdosa akibat amunisi yang secara tidak sengaja menghantam Gereja Keluarga Kudus.” Netanyahu juga menekankan bahwa insiden tersebut sedang diselidiki secara menyeluruh dan bahwa pemerintahannya berkomitmen untuk melindungi warga sipil serta situs keagamaan.
Sementara itu, tanggapan keras datang dari Vatikan. Paus Leo XIV menyatakan rasa dukanya yang mendalam dan turut berdoa bagi para korban. Sekretaris Negara Vatikan, Kardinal Pietro Parolin, menggambarkan insiden ini sebagai serangan militer terhadap tempat ibadah, sembari menekankan bahwa “jiwa-jiwa yang telah gugur diserahkan kepada belas kasih Allah Yang Maha Penyayang.”
Vatikan juga menyoroti tragedi ini sebagai pukulan lanjutan terhadap komunitas Kristen di Gaza, yang jumlahnya kini hanya tersisa sekitar 1.000 jiwa dari populasi yang sebagian besar beragama Islam. Gereja tersebut sebelumnya juga pernah menjadi sasaran. Pada Desember 2023, dua perempuan Kristen tewas akibat tembakan penembak jitu Israel ketika tengah berlindung di dalam kompleks gereja. Insiden itu sempat memicu kecaman internasional karena dianggap melanggar hukum humaniter internasional.
Di Washington, Presiden AS Donald Trump mendapatkan laporan langsung dari Netanyahu terkait kejadian ini. Menurut juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, dalam konferensi pers hari Kamis, Trump menunjukkan ketidaksenangan atas insiden tersebut. Ia bahkan digambarkan “tidak memberikan reaksi yang positif.” Leavitt menegaskan bahwa Netanyahu telah menjelaskan bahwa serangan ke gereja itu merupakan hasil kesalahan operasional militer.
Pernyataan dari IDF sendiri mengakui bahwa proyektil militer yang mereka luncurkan mengenai bangunan gereja secara tidak sengaja. Dalam klarifikasi yang dikeluarkan pada hari yang sama, pihak militer menyebut bahwa serpihan peluru dari operasi mereka mengenai Gereja Keluarga Kudus secara tidak langsung, dan bahwa penyelidikan menyeluruh sedang dilakukan guna mengetahui penyebab pasti dari kekeliruan itu.
Kardinal Pierbattista Pizzaballa, Patriark Latin Yerusalem, mengonfirmasi bahwa serangan terjadi saat pagi hari dan melibatkan tembakan tank secara langsung ke arah gereja. Ia menyebut insiden ini sebagai pelanggaran berat terhadap perlindungan situs-situs keagamaan yang semestinya dijamin dalam aturan internasional, terutama dalam wilayah konflik.
Hubungan personal antara Gereja Keluarga Kudus dan Vatikan selama ini sangat erat. Mendiang Paus Fransiskus bahkan dikenal rutin berkomunikasi langsung dengan paroki tersebut selama masa jabatannya, terlebih saat konflik di Gaza memanas pada Oktober 2023. Gereja ini bukan sekadar simbol keagamaan, melainkan juga tempat perlindungan terakhir bagi banyak warga Kristen yang terjebak di tengah kekerasan tanpa henti.
Insiden tragis ini seolah memperlihatkan sisi lain dari ketegangan geopolitik yang selama ini identik dengan statistik korban dan analisis strategis. Ketika serangan mengenai tempat ibadah, yang selama ini menjadi simbol harapan dan perlindungan, maka yang terluka bukan hanya bangunan atau individu—melainkan juga nurani kemanusiaan.
Kematian tiga warga sipil di dalam gereja menjadi bukti nyata bahwa konflik yang telah berlangsung hampir dua tahun ini membawa penderitaan yang tak pandang bulu. Dan untuk pertama kalinya, di tengah derasnya kritik global, Netanyahu memilih langkah yang berbeda dari biasanya: mengakui kesalahan dan meminta maaf.
Namun demikian, banyak kalangan menilai bahwa permintaan maaf tersebut belum cukup. Seruan untuk penyelidikan independen dan pertanggungjawaban nyata atas serangan ini terus bergema dari berbagai organisasi kemanusiaan dan gereja-gereja dunia.
Pertanyaannya kini: akankah tragedi di Gaza ini menjadi titik balik bagi Israel dalam memperlakukan warga sipil dan situs-situs keagamaan di wilayah konflik? Atau, seperti yang sudah sering terjadi, hanya menjadi satu bab tambahan dalam narasi panjang penderitaan dan ketidakadilan yang belum usai?
































