Manyala.co — Anggota Komisi X DPR RI, La Tinro La Tunrung, mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi pelestarian cagar budaya di wilayah Tana Toraja dan Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Dari sekitar 440 ribu peninggalan bersejarah dan artefak budaya, hanya sekitar 5 persen atau 25 ribu yang tercatat secara resmi sebagai cagar budaya.
Hal itu disampaikan La Tinro saat melakukan kunjungan kerja Panitia Kerja (Panja) Pelestarian Cagar Budaya Komisi X DPR RI ke Tana Toraja dan Toraja Utara, Rabu (12/11/2025). Kunjungan tersebut bertujuan meninjau langsung kondisi pelestarian warisan budaya di daerah yang dikenal kaya akan nilai sejarah dan tradisi itu.
“Kami menemukan bahwa dari sekitar 440 ribu peninggalan sejarah, baru 5 persen yang terdaftar. Ini sangat ironis, sehingga perlu ada langkah cepat untuk memperbaiki sistem pencatatan dan perlindungan,” ujar La Tinro saat mengunjungi Cagar Budaya Ke’te Kesu’ di Toraja Utara.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan perlunya revisi terhadap Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Pelestarian Cagar Budaya, agar upaya pelestarian dapat dilakukan lebih optimal, terintegrasi, dan berkelanjutan.
“Kami melihat perlu adanya kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, tokoh adat, pemangku kebijakan, serta kalangan universitas agar pelestarian budaya bisa berjalan dengan baik,” jelas Legislator Dapil Sulawesi Selatan III itu.

Selain itu, La Tinro juga menyoroti potensi budaya Toraja yang luar biasa, baik berupa warisan benda maupun tak benda—seperti tarian pa’gellu dan kawasan cagar budaya Ke’te Kesu’ yang telah terdaftar di Kementerian Kebudayaan. Ia berharap kawasan tersebut dapat kembali diusulkan ke UNESCO sebagai warisan dunia.
“Beberapa kali sudah kami ajukan ke UNESCO, namun masih ada kendala. Kami sudah berkoordinasi dengan Dirjen Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi agar pengusulan kembali bisa segera dilakukan,” tambahnya.
Tak hanya itu, ia juga menyinggung penurunan drastis jumlah wisatawan di Tana Toraja setelah pandemi Covid-19. Sebelum pandemi, jumlah kunjungan mencapai sekitar 50 ribu wisatawan per tahun, namun menurun menjadi sekitar 3 ribu setelah pandemi.
“Walau kini jumlah wisatawan mulai meningkat, kenaikannya belum signifikan. Ini bisa jadi karena kurangnya promosi atau kendala lain yang perlu segera dicari solusinya,” ujarnya.
Politisi Fraksi Partai Gerindra ini menegaskan, pengembangan sektor pariwisata budaya harus menjadi penggerak utama ekonomi masyarakat Toraja, mengingat pariwisata merupakan sektor unggulan daerah tersebut.
“Kami akan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah agar sektor wisata dan budaya bisa berkembang dan memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat,” tutup La Tinro.
































