Manyala.co – Sorotan tajam muncul dari internal parlemen Malaysia terkait perbedaan signifikan dalam penyambutan kenegaraan yang diberikan kepada Perdana Menteri Anwar Ibrahim saat kunjungannya ke Prancis, dibandingkan dengan sambutan megah yang diterima Presiden Indonesia Prabowo Subianto dalam kesempatan serupa.
Dalam sesi Persidangan Dewan Rakyat yang disiarkan langsung melalui kanal resmi YouTube Parlimen Malaysia pada 21 Juli 2025 lalu, seorang anggota parlemen dari daerah pemilihan Machang menyuarakan kegelisahannya secara terbuka. Ia mempertanyakan mengapa kunjungan Anwar ke Prancis seolah diperlakukan dengan status protokoler lebih rendah, jika dibandingkan dengan sambutan hangat dan upacara penuh kehormatan yang diberikan kepada Prabowo beberapa pekan sebelumnya.
“Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, diundang langsung oleh Presiden Emmanuel Macron untuk hadir dalam perayaan Bastille Day 2025. Sementara itu, Anwar Ibrahim justru hanya disambut oleh pejabat dengan tingkat protokol yang lebih rendah,” ucapnya tegas dalam sidang parlemen.
Bahkan lebih lanjut, anggota parlemen tersebut menggambarkan suasana kunjungan Anwar Ibrahim ke Istana Kepresidenan Prancis pada 3 Juli 2025 sebagai ‘sepi’ dan minim liputan media. Ia menilai kunjungan tersebut tidak memberikan gaung positif bagi Malaysia di mata internasional. Tidak ada parade, tidak ada jamuan resmi berskala besar, dan nyaris tidak terdengar gaungnya di media dunia.
Sebaliknya, kunjungan kenegaraan Prabowo Subianto ke Paris pada 14 Juli 2025 berlangsung dalam atmosfer yang sangat meriah. Dalam momen yang bertepatan dengan Hari Nasional Prancis atau Bastille Day, Prabowo menerima penghormatan luar biasa dari pemerintah tuan rumah, termasuk parade militer, jamuan resmi, hingga peliputan yang masif dari media internasional. Media kenamaan seperti South China Morning Post (SCMP) bahkan memuji kunjungan tersebut sebagai momentum penting yang memperkuat citra Indonesia sebagai kekuatan aktif dalam kancah global.
SCMP dalam laporannya menulis bahwa kedatangan Prabowo ke Paris bukan sekadar kunjungan simbolik, melainkan memperlihatkan posisi strategis Indonesia di mata kekuatan besar dunia seperti Prancis. “Kunjungan ini merupakan bentuk pengakuan terhadap peran penting Indonesia secara global,” tulis SCMP dalam artikelnya bertanggal 17 Juli 2025.
Anggota parlemen Malaysia itu pun menyayangkan kurangnya strategi komunikasi dari pemerintah Malaysia dalam memanfaatkan momen diplomatik seperti kunjungan kenegaraan. Ia mendorong agar pemerintah memperkuat upaya promosi dan diplomasi luar negeri yang dapat meningkatkan citra Malaysia di panggung dunia. Menurutnya, peliputan media internasional sangat penting untuk menunjukkan eksistensi negara dalam pergaulan global.
“Perlu ada pembenahan dalam hal strategi komunikasi pemerintah. Jangan sampai setiap kunjungan luar negeri hanya menjadi rutinitas protokoler tanpa memberi dampak terhadap citra dan martabat negara,” tegasnya.
Di sisi lain, Presiden Prabowo Subianto pun terus mempererat hubungan bilateral dengan Prancis, khususnya dalam bidang pertahanan. Dalam pertemuan bilateral dengan Presiden Macron di Jakarta pada 28 Mei 2025 lalu, Prabowo menekankan pentingnya kerja sama strategis antara kedua negara. Prancis disebutnya sebagai mitra utama dalam proses modernisasi alutsista Indonesia, baik melalui joint production, transfer teknologi, maupun kerja sama pelatihan militer.
“Prancis adalah salah satu mitra kunci Indonesia dalam upaya peningkatan kekuatan pertahanan nasional,” kata Prabowo dalam konferensi pers usai pertemuan tersebut.
Tak hanya dalam bidang pertahanan, Prabowo juga menggarisbawahi pentingnya kerja sama ekonomi. Indonesia dan Prancis dikabarkan sepakat untuk mendorong peningkatan volume perdagangan dan investasi yang lebih seimbang. Dalam kesempatan tersebut, Prabowo meminta dukungan penuh Prancis dalam menyelesaikan perjanjian Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA), sekaligus mendukung keanggotaan Indonesia dalam Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD).
Sebagai tindak lanjut dari hubungan bilateral tersebut, Macron bahkan dijadwalkan mengunjungi Akademi Militer (Akmil) di Magelang pada akhir Mei 2025, atas undangan resmi Prabowo. Agenda ini dirancang untuk memperkuat kolaborasi dalam bidang pendidikan militer dan pengembangan sumber daya manusia pertahanan.
Kembali ke sorotan parlemen Malaysia, perbandingan antara kedua pemimpin negara ASEAN itu menimbulkan keprihatinan tersendiri. Bagi sebagian kalangan di Malaysia, ini bukan hanya soal protokol sambutan, tapi juga mencerminkan pengaruh diplomatik dan posisi strategis masing-masing pemimpin di mata kekuatan dunia. Perbedaan mencolok itu, menurut mereka, seharusnya menjadi refleksi bagi pemerintah Malaysia untuk lebih serius dalam mengelola hubungan luar negeri dan membangun citra positif di mata internasional.
































