Manyala.co – Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan tengah menyiapkan proyek besar perbaikan infrastruktur jalan dengan total anggaran lebih dari Rp500 miliar. Anggaran fantastis ini akan difokuskan pada perbaikan sejumlah ruas jalan utama, termasuk Jalan Hertasning dan Aroepala, melalui skema kontrak tahun jamak (multiyears) yang direncanakan berlangsung hingga 2027 mendatang.
Rencana pengerjaan ini merupakan bagian dari Paket 1 dalam program besar revitalisasi jalan provinsi. Selain Hertasning dan Aroepala, beberapa ruas strategis lain juga masuk dalam paket tersebut, seperti Jalan Tun Abdul Razak, Yasin Limpo, dan Burung-Burung. Proyek ini dipastikan tidak hanya menyentuh pemeliharaan aspal semata, melainkan juga memperbaiki sistem drainase dan penataan infrastruktur penunjang di sekitarnya.
Kepala Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi (BMBK) Sulsel, Astina Abbas, menjelaskan bahwa pengerjaan proyek ini akan dimulai paling cepat pada September 2025, tergantung dari selesainya proses lelang yang kini sedang berlangsung. “Paket ini mencakup beberapa ruas sekaligus, bukan hanya Hertasning dan Aroepala, tapi juga jalan lain yang masuk dalam prioritas utama,” kata Astina, Jumat (1/8/2025), di Makassar.
Ia merinci bahwa panjang ruas Jalan Hertasning yang akan diperbaiki mencapai sekitar 800 meter, sedangkan Jalan Aroepala sepanjang 1,8 kilometer. Meski tergolong pendek, kondisi kerusakan di ruas tersebut cukup parah, termasuk saluran air yang turut mengalami kerusakan dan memerlukan perbaikan.
“Memang Hertasning pendek, hanya 800 meter, tapi kondisinya rusak berat dan lalu lintasnya padat. Aroepala juga penting karena menghubungkan area permukiman padat dengan akses jalan utama. Salurannya juga akan kami perbaiki karena berdampak pada banjir lokal,” jelas Astina.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa proyek ini juga menyasar perbaikan Jalan Yasin Limpo yang sebagian besar sudah dalam kondisi baik, menyisakan sedikit ruas yang masih rusak. Selain itu, titik kritis lain yang akan diperbaiki dalam program ini adalah ruas jalan di Kilometer 60, yang selama ini belum tertangani karena keterbatasan anggaran.
Menurut Astina, secara umum kondisi jalan provinsi di Sulsel saat ini masih menyisakan sekitar 30 persen yang belum mencapai status “mantap” atau laik fungsi. Oleh karena itu, proyek ini difokuskan pada perbaikan jalan-jalan utama yang kondisinya tergolong paling buruk.
Di sisi lain, Kepala Bidang Preservasi Jalan Dinas BMBK Sulsel, Irawan Dermayasamin, menyebut bahwa seluruh dokumen pengadaan dan teknis pelaksanaan untuk proyek ini telah dimasukkan ke tahap lelang. Ia menegaskan bahwa pengerjaan akan dibagi dalam alokasi tiga tahun dengan besaran anggaran yang berbeda tiap tahunnya, menyesuaikan kebutuhan dan progres di lapangan.
“Untuk Paket 1 saja anggarannya sekitar Rp500 miliar lebih. Itu sudah masuk semua dalam proses lelang. Kontraknya kontrak tahun jamak, jadi nanti bertahap sampai tahun 2027,” jelas Irawan.
Ia juga menekankan bahwa jika proses tender berjalan lancar, maka pelaksanaan fisik proyek bisa dimulai sebelum akhir tahun 2025 dan berlanjut secara konsisten dalam tiga tahun ke depan. Proyek ini diharapkan tidak hanya menyelesaikan masalah teknis infrastruktur, tetapi juga berdampak pada kelancaran arus transportasi dan pertumbuhan ekonomi lokal.
Pemerintah Provinsi Sulsel melalui Dinas BMBK berharap agar pelaksanaan proyek ini bisa menjadi langkah konkret dalam meningkatkan kualitas layanan infrastruktur jalan, terutama di kawasan perkotaan yang menjadi simpul ekonomi dan aktivitas masyarakat. Selain itu, skema kontrak multiyears ini juga dinilai sebagai solusi tepat untuk menghindari proyek mangkrak akibat keterbatasan anggaran tahun berjalan.
Dengan semakin padatnya lalu lintas di Kota Makassar dan sekitarnya, perbaikan menyeluruh terhadap ruas-ruas penting seperti Hertasning dan Aroepala diharapkan akan memberikan efek domino terhadap kelancaran mobilitas warga dan efektivitas konektivitas antarkawasan. Pemerintah daerah menegaskan bahwa mereka akan terus mengawal proses lelang hingga pelaksanaan di lapangan agar proyek ini tidak hanya berjalan tepat waktu, tetapi juga tepat mutu dan manfaat.
































