Manyala.co – Jika Jakarta memiliki Kota Tua dan Semarang dikenal dengan kawasan Kota Lama, maka Gorontalo pun menyimpan jejak sejarah yang tak kalah menarik. Bedanya, kawasan bersejarah di Kota Gorontalo justru menawarkan keunikan tersendiri: bangunan kolonial yang didominasi satu lantai, tetap kokoh berdiri meski usia rata-rata sudah lebih dari seabad.
Kawasan ini menjadi bukti perjalanan panjang Gorontalo sejak masa pemerintahan Hindia Belanda hingga kini. Letaknya yang strategis di tepi Teluk Tomini menjadikan Gorontalo tumbuh sebagai kota kecil yang nyaman, jauh dari hiruk-pikuk lalu lintas padat dan polusi khas kota besar.
Jejak Arsitektur Kolonial yang Utuh
Menurut catatan arkeolog Irfanuddin Marzuki dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), sebaran bangunan tua di Gorontalo bisa dibilang salah satu yang paling utuh di Sulawesi. Banyak di antaranya masih difungsikan sesuai peruntukan awal, sebagian lain berubah fungsi menjadi tempat usaha, rumah tinggal, atau lokasi wisata kuliner.
Salah satu bangunan yang menonjol adalah bekas rumah Asisten Residen Gorontalo yang diperkirakan berdiri awal 1900-an. Gedung beton tersebut berada di kawasan nol kilometer kota dan menghadap alun-alun luas. Di sekitarnya berjejer kantor pemerintahan lama, rumah dinas, hotel, hingga gereja tua yang memperkuat nuansa kolonial.
Tidak jauh dari sana, sebuah “brievenbus” atau bus surat tua masih berdiri kokoh di depan kantor pos, menjadi penanda bahwa kawasan ini pernah menjadi pusat aktivitas administrasi Belanda.
Hotel Legendaris dan Soceiteit Wilhelmina
Kisah menarik juga datang dari bangunan bersejarah Hotel Velberg. Dibangun oleh Henry Velberg pada 1900, hotel kayu hitam ini dahulu menjadi tempat singgah para pelaut yang berlabuh di dermaga Gorontalo. Pada 1960-an, namanya berubah menjadi Hotel Melati dan dikelola oleh keturunan Velberg hingga generasi kelima. Kini, bangunan tersebut dimanfaatkan sebagai pusat kuliner, namun masih mempertahankan keaslian arsitekturnya.
Di seberangnya, berdiri Soceiteit Wilhelmina tempat dansa dan pesta para pejabat kolonial. Gedung ini kini beralih fungsi sebagai kantor militer, namun tetap menyimpan cerita panjang interaksi sosial pada masa itu.
Tak jauh dari sana terdapat Kampung Borogo atau Borgo, yang dahulu dihuni para ambtenaren, yakni pegawai pemerintahan Hindia Belanda. Kawasan ini menjadi saksi sejarah percampuran budaya dan interaksi masyarakat lokal dengan bangsa asing.
Rumah Tinggi dan Jejak Proklamasi di Gorontalo
Selain arsitektur kolonial, Gorontalo juga memiliki bangunan bersejarah bernama Rumah Tinggi. Lokasi ini sangat penting dalam perjalanan bangsa karena menjadi tempat pembacaan Deklarasi Kemerdekaan Indonesia di Gorontalo pada 23 Januari 1942 oleh Nani Wartabone.
Bangunan bergaya indis tersebut menjadi simbol perlawanan sekaligus saksi perjuangan rakyat Gorontalo dalam merebut kemerdekaan. Perpaduan gaya arsitektur Eropa dengan bahan lokal yang tahan iklim tropis membuatnya tetap bertahan hingga kini.
Kota Kecil dengan Warisan Besar
Dengan jumlah penduduk sekitar 205 ribu jiwa (BPS 2023), Kota Gorontalo tumbuh sebagai kota kecil yang ramah dan nyaman. Wisatawan yang datang biasanya berjalan kaki mengelilingi kota tua, menikmati kuliner lokal, hingga berinteraksi langsung dengan warga.
Karim, seorang pengemudi bentor kendaraan khas Gorontalo mengungkapkan, banyak turis asing yang memilih menginap di pusat kota agar bisa dengan mudah menjelajah kawasan bersejarah ini. “Bule-bule biasanya jalan kaki, foto-foto di bangunan tua, lalu makan atau belanja oleh-oleh,” ujarnya.
Kawasan ini juga masih menyimpan peninggalan lain, seperti bangunan kopi tiam legendaris Ajama yang tetap dikelola secara turun-temurun, serta rumah-rumah bergaya indis di Kelurahan Ipilo dan Biawu yang dulunya dihuni saudagar kaya.
Menjaga Jejak Sejarah di Tepi Teluk Tomini
Sri Sutarni Arifin, Ketua Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Negeri Gorontalo, menekankan pentingnya konservasi kawasan ini. Menurutnya, Kota Gorontalo hadir bukan secara tiba-tiba, melainkan melalui perjalanan sejarah panjang yang membentuk identitas budaya masyarakat setempat.
Ia berharap generasi muda lebih peduli pada kekayaan budaya ini, bukan sekadar menjadikan kota tua sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai sumber penelitian dan pembelajaran.
Di sisi lain, keindahan Teluk Tomini yang mengelilingi kota turut menambah daya tariknya. Teluk terbesar di dunia yang berada di garis khatulistiwa ini dikenal sebagai pusat wisata bahari dengan segitiga terumbu karang yang memikat. Tak heran, Gorontalo kini semakin diperhitungkan sebagai tujuan wisata sejarah sekaligus bahari.
Warisan yang Perlu Dilestarikan
Meski sebagian bangunan masih terawat baik, ada pula yang mulai rusak atau bahkan dirobohkan untuk pembangunan baru. Jika tidak segera dilakukan langkah pelestarian, Gorontalo berisiko kehilangan aset berharga yang seharusnya bisa diwariskan ke generasi berikutnya.
Sebelum itu terjadi, menyempatkan diri berkunjung ke Kota Tua Gorontalo tentu menjadi pengalaman yang tak hanya menyenangkan, tetapi juga penuh makna. Setiap sudutnya menyimpan kisah, setiap bangunannya bercerita tentang masa lalu, dan setiap jalannya mengingatkan bahwa Gorontalo pernah menjadi simpul penting dalam sejarah Nusantara.
































