Manyala.co – Upaya penyelidikan terkait bencana longsor yang melanda area tambang galian C di kawasan Gunung Kuda, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, terus dilakukan oleh pihak kepolisian. Hingga Minggu (1/6/2025), aparat dari Polda Jabar telah memeriksa enam saksi yang dianggap mengetahui peristiwa tragis yang terjadi pada Jumat, 30 Mei 2025 lalu.
Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat, Kombes Hendra Rochmawan, menyampaikan bahwa enam orang yang diperiksa meliputi sejumlah pihak yang terlibat dalam aktivitas penambangan di lokasi. Mereka adalah Abdul Karim selaku Ketua Kepontren Al Azhariyah, Ade Rahman sebagai Kepala Teknik Tambang Kepontren Al Azhariyah, dua orang pekerja lapangan (ceker) yaitu Ali Hayatullah dan Kadi Ahdiyat, seorang sopir dump truk bernama Arnadi, serta Sutarjo selaku penerima atau pembeli material hasil tambang.
“Jenazah yang telah berhasil diidentifikasi akan segera diserahkan ke keluarga masing-masing. Sementara para korban luka yang sebelumnya dirawat di RS Sumber Hurip dan Puskesmas Dukupuntang kini sudah dipulangkan dan menjalani rawat jalan,” ujar Hendra dalam keterangannya kepada wartawan, dikutip pada Minggu (1/6/2025).
Proses identifikasi para korban dilakukan oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jabar di RSUD Arjawinangun. Seluruh jenazah dikenali melalui ciri-ciri medis, barang pribadi, dan pencocokan sidik jari. Proses identifikasi melibatkan berbagai unsur, termasuk Kabiddokkes Polda Jabar, Direktur RSUD Arjawinangun, tim inafis Polres, serta tim medis dan forensik dari Biddokkes Polda Jabar dan Polresta Cirebon.
“Rekonsiliasi dipimpin langsung oleh Kabiddokkes, bersama Direktur RSUD Arjawinangun, tim DVI, dan tim inafis. Setelah itu dilakukan pemulasaran jenazah dan penyerahan kepada keluarga masing-masing,” jelas Hendra lebih lanjut.
Dari sisi penanganan lapangan, operasi penyelamatan dan pencarian korban oleh tim gabungan terus berlanjut. Pada Sabtu (31/5/2025), tim SAR berhasil menemukan kembali tiga jenazah korban yang sebelumnya dilaporkan hilang. Ketiganya adalah Sakira bin Jumair (40 tahun) dan Sanadi bin Darya (45 tahun), keduanya berasal dari Desa Cikeusal, Kecamatan Palimanan, serta Sunadi (31 tahun) dari Desa Girinata, Kecamatan Dukupuntang.
“Dengan ditemukannya tiga korban tersebut, total jumlah korban jiwa hingga pukul 17.45 WIB hari Sabtu ini menjadi 17 orang,” ungkap Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB.
Selain korban jiwa, longsor juga menyebabkan kerusakan materi cukup besar, dengan 4 unit alat berat ekskavator dan 7 truk dilaporkan tertimbun tanah longsor. Proses evakuasi dilakukan dengan penuh kehati-hatian mengingat potensi longsor susulan masih bisa terjadi.
Operasi SAR yang dilakukan oleh tim gabungan dari BPBD Cirebon, TNI, Polri, Basarnas, relawan, dan masyarakat setempat dihentikan sementara pada pukul 17.45 WIB dan direncanakan dilanjutkan kembali keesokan harinya.
Di sisi lain, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau agar warga di sekitar lokasi bencana tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama mereka yang tinggal dekat tebing atau aliran sungai. BNPB menyarankan masyarakat untuk secara berkala memantau kondisi tanah dan air di sekitar lingkungan mereka, serta segera melakukan evakuasi mandiri jika terjadi hujan deras lebih dari dua jam.
“Keselamatan tim penyelamat juga sangat penting. Oleh karena itu, kami mengingatkan seluruh personel SAR untuk tetap siaga dan tidak mengabaikan potensi bencana susulan,” ujar Abdul Muhari menambahkan.
Dengan cuaca cerah berawan yang diperkirakan akan bertahan hingga dua hari ke depan di wilayah Cirebon, diharapkan proses evakuasi dan penanganan bencana bisa berjalan lebih lancar. Sementara pihak berwenang terus mendalami penyebab longsor yang diduga kuat berkaitan dengan aktivitas tambang di kawasan Gunung Kuda.
































