Manyala.co – Kritik keras mulai diarahkan kepada Bernardo Tavares setelah PSM Makassar kembali gagal menjaga keunggulan di awal musim Super League 2025/2026. Hasil imbang kedua beruntun membuat publik menilai sentuhan taktikal sang pelatih asal Portugal sudah mulai kehilangan magisnya.
Pada laga pekan kedua, Sabtu (16/8/2025), Juku Eja hanya mampu membawa pulang satu poin setelah ditahan imbang 1-1 oleh Bhayangkara FC. Sama seperti pertandingan sebelumnya ketika menjamu Persijap Jepara di Stadion Gelora BJ Habibie Parepare, PSM sebenarnya unggul lebih dulu, namun gagal mempertahankan keunggulan hingga peluit akhir.
Dua Pertandingan, Pola Sama: Unggul Duluan, Gagal Menang
Catatan ini menjadi sorotan besar. Dalam dua laga awal musim, pola yang ditunjukkan PSM begitu seragam: mencetak gol lebih dulu, tetapi kemudian kehilangan konsentrasi dan gagal mengamankan kemenangan. Hal ini menimbulkan pertanyaan soal kemampuan Tavares dalam membaca situasi dan melakukan penyesuaian strategi di tengah pertandingan.
Sejak pertama kali menukangi PSM, Tavares memang dikenal mengandalkan pola serangan balik cepat. Strateginya cenderung melepas penguasaan bola dan mengandalkan direct passing dengan tempo tinggi. Namun, di musim ketiganya, pola itu mulai terlihat buntu.
Data Statistik Ungkap Kelemahan
Laga kontra Bhayangkara FC memberi gambaran jelas soal problem PSM. Dari total 196 kali percobaan umpan, hanya 123 yang sukses, sementara 73 lainnya gagal. Tingkat akurasi tersebut tergolong rendah untuk klub sebesar PSM Makassar.
Selain itu, kualitas serangan juga bermasalah. Dari lima tembakan yang dilepaskan, hanya satu yang tepat sasaran dengan akurasi 33,3 persen. Perbandingan ini sangat timpang dengan Bhayangkara FC yang melepas 10 tembakan, tiga di antaranya mengarah ke gawang, serta menguasai bola hingga 68 persen.
Walau unggul dalam duel bertahan dengan 15 tekel sukses dan menghasilkan lebih banyak tendangan sudut (4 berbanding 3), performa ofensif Juku Eja tetap jauh dari memuaskan.
Suporter Mulai Gerah: “Taktik BT Sudah Mentok!”
Kekecewaan pun meledak di media sosial. Kolom komentar akun resmi Instagram PSM Makassar dipenuhi kritik terhadap Tavares.
“Sudah tiga musim, masalah lini tengah tidak pernah selesai. Main long ball terus, tidak jelas arah bolanya,” tulis akun @_adhi27.
Sementara itu, akun @s_besar070706 menyoroti belanja pemain musim ini. “Beli banyak striker percuma kalau tidak ada gelandang box to box. Siapa yang mau suplai bola? Strategi BT kayaknya sudah mentok.”
Ada pula yang menyebut tidak ada perkembangan signifikan dari musim lalu. “Ngga ada perubahan dari musim lalu, tetap saja skemanya sama,” tulis akun @samsiraf19.
Kritik ini menunjukkan bahwa suporter sudah mulai kehilangan kesabaran terhadap pola permainan PSM yang dianggap monoton dan mudah dibaca lawan.
Skuad Mahal, Prestasi Belum Sebanding
Ironisnya, PSM saat ini memiliki salah satu skuad termahal di Indonesia. Menurut data Transfermarkt, nilai pasar tim Juku Eja mencapai Rp86,21 miliar. Angka ini menempatkan mereka di posisi keempat di bawah Dewa United (Rp95,34 miliar), Persib Bandung (Rp92,73 miliar), dan Persija Jakarta (Rp86,91 miliar).
Artinya, dengan materi pemain yang mewah, ekspektasi publik terhadap prestasi PSM sangat tinggi. Namun, hasil di lapangan justru menunjukkan sebaliknya.
Awal Musim yang Mengecewakan
Bagi Bernardo Tavares, hasil imbang beruntun di awal musim menjadi sinyal alarm. Sebab, fans sudah mulai mempertanyakan kapabilitasnya untuk membawa PSM tampil konsisten bersaing di papan atas.
Meski sempat mengalami masalah administrasi akibat sanksi FIFA, manajemen PSM sudah berusaha membangun skuad kompetitif dengan mendatangkan sejumlah pemain baru, termasuk lima legiun asing. Namun, sampai kini belum terlihat adanya peningkatan berarti dalam permainan tim.
Jika tidak segera melakukan evaluasi dan memperbaiki kelemahan, terutama di sektor tengah dan efektivitas serangan, bukan tidak mungkin tekanan terhadap Tavares semakin besar dan membuat posisinya sebagai pelatih kian goyah.































