Manyala.co – Rabu malam yang muram di Stadion Indomilk Arena, Kabupaten Tangerang, menyisakan lebih dari sekadar kekalahan bagi timnas sepak bola putri Indonesia. Hujan yang turun tak hanya membasahi lapangan, tetapi seakan turut menyelimuti suasana hati para pemain “Garuda Pertiwi” yang baru saja tumbang dari tim yang secara statistik jauh di bawah mereka: Pakistan.
Kick-off pertandingan yang digelar pada pukul 20.00 WIB sempat diiringi langit yang tenang, seakan memberi harapan akan malam yang indah. Namun, harapan itu sirna seiring bergulirnya babak pertama. Hanya dalam kurun 20 menit, Indonesia tertinggal dua gol tanpa balas melalui aksi Nadia (8’) dan penalti Suha Hirani (18’). Hujan kembali mengguyur selepas jeda babak pertama, seakan menjadi penanda nestapa tim tuan rumah.
Yang menyakitkan, bukan hanya soal skor. Kekalahan dari Pakistan membuat peluang Indonesia lolos ke putaran final Piala Asia Wanita 2026 menjadi rumit. Indonesia yang sebelumnya unggul dalam banyak hal peringkat FIFA, performa awal, hingga keuntungan bermain di kandang harus menerima kenyataan pahit. Pakistan, yang datang dengan luka usai dibantai 0-8 oleh Taiwan di laga sebelumnya, justru bangkit dan menjungkalkan tuan rumah.
Selepas pertandingan, suasana mixed zone berubah muram. Beberapa pemain melewati jalur itu dengan mata sembab dan wajah tertunduk. Ada yang mengenakan headphone untuk menghindari interaksi, ada pula yang memilih diam seribu bahasa. Kontras dengan tiga hari lalu saat Indonesia menang tipis atas Kirgistan.
Zahra Muzdalifah, pemain senior timnas, menyatakan bahwa mereka tidak pernah menganggap remeh Pakistan. Baginya, ranking hanyalah angka. “Kami tetap menghormati lawan. Tapi ya begitulah sepak bola. Saya menyesali hasil ini,” ungkapnya.
Pelatih Satoru Mochizuki juga tak menutupi kekecewaannya. Ia menyoroti kelemahan teknis yang sudah ia temukan sejak awal ditunjuk sebagai pelatih, seperti kontrol, operan, dan akurasi tendangan. Sayangnya, setelah satu tahun, masalah itu belum teratasi karena ketiadaan kompetisi yang berkelanjutan. “Banyak kesalahan mendasar yang membuat kami kehilangan bola. Itu menghambat dominasi kami di lapangan,” jelas pelatih asal Jepang yang pernah menjadi bagian dari tim juara dunia 2011 itu.
Statistik memperlihatkan dominasi Indonesia. Ada lebih dari 10 peluang tercipta dari luar kotak penalti. Namun, penyelesaian akhir yang buruk dan disorientasi permainan membuat semuanya sia-sia. Sementara Pakistan, dengan hanya tiga peluang di babak pertama, bisa mencetak dua gol melalui permainan efektif dan serangan balik cepat.
Gol pertama Pakistan lahir dari skema seperti itu. Nadia berlari menyambut umpan terobosan dari sisi kanan dan berhasil melewati bek Indonesia, Gea Yumanda dan Emily Nahon. Tendangannya, meski sempat mengenai bek Indonesia, gagal dibendung kiper Iris De Rouw. Gol kedua datang dari penalti setelah pelanggaran di area terlarang.
Mochizuki sempat mencoba melakukan perubahan dengan memasukkan Isa Warps, Marsela Awi, serta memperkuat lini tengah lewat Rosdilah Siti dan Helsya Meisyaroh. Namun, penyegaran itu tidak mengubah hasil. Keputusan untuk tidak mengganti bek yang berkali-kali kesulitan mengejar lawan juga disayangkan.
Penjaga gawang Iris De Rouw mengakui bahwa motivasi tim menurun drastis di babak kedua. “Kami seharusnya bisa memanfaatkan babak kedua sebagai peluang baru, tapi sepertinya kami terlalu cepat menyerah,” tuturnya dengan nada menyesal.
Dengan kekalahan ini, jalur Indonesia ke Piala Asia jadi terjal. Jika ingin lolos, Indonesia harus menang atas Taiwan dan berharap Pakistan gagal menang atas Kirgistan. Bila Pakistan juga menang, Indonesia wajib menang telak atas Taiwan untuk unggul selisih gol.
Situasi ini ironis karena pada awalnya, Indonesia cukup butuh satu kemenangan lagi untuk memastikan tiket ke Piala Asia. Kini, nasib mereka tergantung pada hasil tim lain.
Sementara itu, kemenangan atas Indonesia menjadi tonggak bersejarah bagi Pakistan. Mereka bangkit dari kekalahan memalukan dan menunjukkan karakter luar biasa. Kapten tim, Maria Jamila Khan, mengungkapkan bahwa mereka memilih untuk bangkit, saling mendukung, dan tidak menyerah. “Kami bisa memilih untuk menyerah atau tetap bersama dan bertarung. Kami memilih yang kedua, dan itulah hasilnya,” ucap Maria.
Hujan masih mengguyur ringan saat peluit panjang dibunyikan. Di satu sisi lapangan, pemain Pakistan merayakan kemenangan perdana mereka dengan penuh semangat. Mereka membentangkan bendera kebanggaan, memeluk satu sama lain dengan mata berbinar. Sementara di sisi lain, wajah-wajah sedih para pemain Indonesia membisu di bawah rintik hujan. Beberapa dari mereka bahkan menitikkan air mata.
Di luar semua itu, kekalahan ini kembali mengangkat isu klasik: ketidakhadiran liga sepak bola putri yang kompetitif dan berkelanjutan di Indonesia. Sudah enam tahun lebih para pemain menanti. Penantian panjang yang belum kunjung menemui ujung.
Ketika hujan reda, harapan masih menggantung. Masih ada satu laga tersisa. Mungkin, seperti puisi Sapardi Djoko Damono, tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni. Tapi siapa tahu, ketabahan pemain-pemain Garuda Pertiwi di bulan Juli ini mampu melampaui hujan mana pun.






























