Manyala.co – Tottenham Hotspur akhirnya berhasil menuntaskan dahaga gelar yang telah mereka alami selama 17 tahun. Klub asal London Utara itu memastikan diri sebagai juara Liga Europa 2024/25 usai menumbangkan Manchester United 1-0 pada partai final yang berlangsung di Stadion San Mames, Bilbao, Kamis (22/5/2025) dini hari WIB.
Gol semata wayang yang mengantar The Lilywhites meraih trofi dilesakkan oleh Brennan Johnson menjelang akhir babak pertama. Berawal dari umpan silang Pape Matar Sarr yang sempat mengenai Luke Shaw, bola kemudian berbelok arah dan sukses dikuasai Johnson yang langsung menyambar peluang itu menjadi gol. Kiper United, Andre Onana, tak mampu mengantisipasi bola yang berubah arah secara tiba-tiba.
Di babak kedua, Manchester United tampil lebih menekan demi menyamakan kedudukan. Namun pertahanan Tottenham tetap disiplin dan solid. Kiper Guglielmo Vicario tampil heroik dengan sejumlah penyelamatan penting, termasuk menggagalkan sundulan Luke Shaw di menit-menit akhir yang nyaris membuat skor imbang. Dengan hasil ini, Tottenham keluar sebagai juara, sementara United harus menelan pil pahit di penghujung musim.
Ini adalah trofi Liga Europa ketiga dalam sejarah Tottenham, setelah sebelumnya menjadi juara pada edisi 1972 dan 1984 saat kompetisi ini masih bernama Piala UEFA. Selain mengakhiri puasa gelar sejak terakhir kali mengangkat Piala Liga Inggris pada 2008, kemenangan ini juga memberi tiket otomatis ke Liga Champions musim depan, serta kesempatan tampil di ajang Piala Super Eropa.
Kemenangan ini menjadi sorotan bukan hanya karena trofi, tetapi juga karena kondisi domestik Tottenham yang memprihatinkan. Anak asuh Ange Postecoglou terseok-seok di Premier League musim ini dan hanya mampu bertengger di peringkat ke-17 klasemen sementara dengan 38 poin dari 37 laga. Torehan itu membuat mereka kini memegang rekor sebagai klub dengan posisi terendah di liga domestik yang mampu menjuarai kompetisi Eropa, menggeser rekor West Ham United yang juara UEFA Conference League 2023 saat finis di peringkat ke-14.
Sementara itu, di kubu Manchester United, kekalahan ini memperdalam luka mereka setelah menjalani musim yang buruk. Manajer Ruben Amorim gagal menyelamatkan muka klub di laga penting ini, dan kekalahan tersebut menutup musim kelam tanpa tiket kompetisi Eropa, menjadikan ini musim terburuk Setan Merah sejak era 1973/74.
Brennan Johnson, sang pencetak gol kemenangan, mengaku sangat emosional setelah pertandingan. Ia menyebut trofi ini sebagai bukti bahwa Tottenham bisa bangkit dari keraguan publik. “Sejak saya datang, banyak yang bilang Tottenham selalu gagal saat mendekati gelar. Tapi kami membuktikan bisa melakukannya,” ujar Johnson dalam wawancara pasca pertandingan.
Ia juga menceritakan bagaimana momen gol tersebut terjadi. “Saya sebenarnya tak menendang bola dengan sempurna, tapi ketika melihat bola masuk ke gawang, rasanya luar biasa. Saya bahkan tak bisa menonton menit-menit akhir karena tegang sekali,” katanya. Menurutnya, gol itu mungkin tidak indah secara teknis, namun sangat berarti secara emosional.
Johnson pun memberi pujian pada performa timnya yang tetap tenang meski terus digempur di babak kedua. Ia tak lupa menyebut peran penting pelatih Ange Postecoglou. “Dia datang membawa keyakinan baru. Dia berjanji membawa gelar, dan hari ini dia menepati janjinya,” tutur Johnson.
Kemenangan ini memberi angin segar bagi Tottenham di tengah badai musim yang mengecewakan. Selain prestise di kancah Eropa, Spurs juga diperkirakan mendapat suntikan dana sekitar £100 juta dari hasil kemenangan ini dan partisipasi mereka di Liga Champions. Dari sisi manajemen, trofi ini memperkuat posisi Postecoglou meskipun masa depannya di klub masih menjadi tanda tanya karena performa liga yang kurang memuaskan.
Tak bisa dipungkiri, keberhasilan Tottenham mengangkat trofi ini juga mencerminkan dinamika sepak bola Eropa yang semakin tak terduga. Seperti halnya Newcastle United dan Crystal Palace yang meraih hasil mencengangkan musim ini, keberhasilan Spurs menunjukkan bahwa sejarah bisa ditulis ulang kapan saja oleh tim yang siap bertarung hingga detik terakhir.
Bagi para pendukung Tottenham, kemenangan ini menjadi momen yang telah lama dinantikan. Sebuah malam bersejarah di Bilbao yang tak akan mereka lupakan, ketika klub kesayangan mereka bangkit dari keterpurukan dan kembali menapakkan kaki di puncak kejayaan sepak bola Eropa.






























