Manyala.co – Dunia kembali dirundung kabar duka dari ranah musik internasional. Penyanyi legendaris Ozzy Osbourne dikonfirmasi meninggal dunia pada usia 76 tahun. Di sisi lain, kawasan Asia Tenggara menghadapi bencana alam dengan dampak besar, sementara Australia dan Amerika Serikat tengah bergelut dengan isu sosial dan kebijakan kontroversial.
Kepergian Sang “Pangeran Kegelapan”
Inggris, Rabu (23/7/2025), menjadi pusat perhatian dunia setelah keluarga John Michael Osbourne lebih dikenal sebagai Ozzy Osbourne mengumumkan kabar kematiannya. Dalam pernyataan resmi yang dirilis ke publik, keluarga Osbourne menyampaikan bahwa sang musisi menghembuskan napas terakhirnya dikelilingi oleh orang-orang tercinta.
“Kami meminta kepada seluruh penggemar dan publik untuk menghormati privasi kami di masa yang penuh duka ini,” demikian isi pernyataan tersebut.
Sebagai salah satu ikon musik rock dan metal terbesar sepanjang masa, Ozzy dikenal lewat suara serak khas, karisma panggung yang eksplosif, dan gaya hidup ekstrem yang membuatnya dijuluki sebagai “Pangeran Kegelapan”. Kariernya melambung bersama band legendaris Black Sabbath yang turut melahirkan genre heavy metal modern.
Album terakhir Black Sabbath, berjudul 13, dirilis pada 11 Juni 2013. Album ini berhasil menempati posisi puncak di Tangga Album Inggris dan juga Billboard 200 di Amerika Serikat. Dalam sebuah wawancara setelah perilisan tersebut, Ozzy sempat mengatakan, “Saya tahu sekarang saya bisa beristirahat dan meninggal dengan bahagia,” sebuah kalimat yang kini terasa seperti pesan perpisahan yang menggetarkan.
Filipina Dilanda Banjir Besar, Puluhan Ribu Dievakuasi
Sementara itu, di kawasan Asia Tenggara, Filipina menghadapi musibah besar setelah Badai Tropis Wipha melanda ibu kota Manila dan sekitarnya. Badai tersebut membawa hujan deras selama berhari-hari yang menyebabkan banjir parah, merenggut sedikitnya enam nyawa dan membuat ribuan orang kehilangan tempat tinggal.
Laporan dari Dewan Nasional untuk Pengurangan Risiko dan Manajemen Bencana menyebutkan bahwa masih ada enam orang lainnya yang dinyatakan hilang. Lebih dari 23.000 warga yang tinggal di dekat bantaran sungai dievakuasi secara darurat ke tempat penampungan sementara seperti balai desa, sekolah, hingga halaman dengan atap darurat.
Sebaran evakuasi juga mencakup kawasan padat penduduk seperti Quezon, Pasig, dan Caloocan. Total pengungsi mencapai lebih dari 47.000 orang. Pemerintah Filipina kini sedang mengerahkan bantuan logistik, layanan medis, dan perlindungan sementara untuk para korban banjir, yang diperkirakan masih akan berlangsung hingga beberapa hari ke depan jika hujan belum berhenti.
Hotel di Australia Diubah Jadi Tempat Penahanan Rahasia untuk Nelayan Asing
Dari benua Australia, muncul laporan yang cukup mengejutkan mengenai langkah otoritas setempat dalam menangani peningkatan aktivitas penangkapan ikan ilegal. Sebuah hotel di wilayah Northern Territory, tepatnya Hotel Frontier di Darwin, diam-diam digunakan sebagai pusat penahanan bagi nelayan asing ilegal.
Langkah ini diambil setelah terjadi lonjakan penangkapan kapal nelayan ilegal di perairan utara Australia. Data dari Otoritas Manajemen Perikanan Australia menunjukkan peningkatan drastis jumlah penangkapan: dari hanya 75 kasus dalam setahun sebelumnya menjadi lebih dari 240 kasus sejak Juli 2024.
Beberapa nelayan ditahan hingga berminggu-minggu di hotel tersebut sebelum menjalani proses persidangan. Selasa lalu, Pengadilan Negeri Darwin menggelar sidang terhadap tujuh nelayan asal sebuah desa kecil di Sulawesi, Indonesia, yang ditangkap oleh Pasukan Pertahanan Australia di wilayah perairan Kepulauan Tiwi pada 29 Juni.
Pemerintah Australia belum memberikan pernyataan resmi terkait penggunaan hotel tersebut sebagai fasilitas tahanan sementara, namun berbagai pihak mempertanyakan standar hak asasi manusia serta transparansi dalam proses penahanan tersebut.
Amerika Serikat Larang Atlet Transpuan di Olimpiade Perempuan
Di sisi lain dunia, Amerika Serikat kembali membuat gebrakan kontroversial dalam dunia olahraga. Komite Olimpiade dan Paralimpiade Amerika Serikat (USOPC) baru-baru ini memperbarui kebijakan partisipasi atlet transgender dalam ajang olahraga tingkat dunia. Perubahan kebijakan ini secara efektif melarang atlet transgender perempuan (transpuan) untuk ikut bertanding dalam kategori perempuan.
Perubahan aturan ini tidak diumumkan secara luas, melainkan hanya diperbarui secara diam-diam di situs resmi USOPC. Dalam dokumen tersebut, USOPC mengutip perintah eksekutif era Presiden Donald Trump bertajuk “Menjauhkan Pria dari Olahraga Perempuan” sebagai dasar perubahan kebijakan. Perintah itu sendiri diterbitkan pada Februari dan menyatakan bahwa organisasi olahraga yang membolehkan transpuan bertanding di kategori perempuan bisa kehilangan seluruh dana bantuan federal.
Langkah ini menuai respons keras dari berbagai kelompok pegiat hak asasi manusia dan komunitas LGBTQ+, yang menilai kebijakan tersebut sebagai diskriminatif dan menyalahi semangat inklusi dalam olahraga global. Di sisi lain, pendukung aturan tersebut menganggapnya sebagai bentuk perlindungan terhadap keadilan kompetisi.
Dari kabar duka di industri musik global hingga kebijakan kontroversial di dunia olahraga internasional, hari ini dunia menghadapi rentetan peristiwa yang mencerminkan ketegangan antara nilai-nilai tradisional dan perkembangan zaman. Tragedi banjir di Filipina dan penahanan nelayan Indonesia di Australia juga memperlihatkan betapa rentannya kelompok rentan terhadap dinamika geopolitik dan krisis lingkungan.
Seluruh peristiwa ini menyoroti pentingnya kepekaan sosial dan tanggung jawab global dalam menangani berbagai tantangan di dunia modern baik dalam skala individu, komunitas, maupun negara.
































