Manyala.co – Keju telah menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi kuliner dunia. Mulai dari hidangan mewah di restoran Eropa hingga topping sederhana pada roti panggang, bahan pangan yang dihasilkan dari olahan susu ini selalu memiliki tempat di hati para penikmatnya. Popularitas keju yang mendunia juga mendorong peningkatan produksi global setiap tahunnya untuk memenuhi permintaan konsumen.
Berdasarkan data terbaru World Population Review, terdapat sepuluh negara yang mencatat konsumsi keju tertinggi per kapita. Menariknya, Amerika Serikat yang dikenal gemar mengonsumsi cheddar, mozzarella, dan parmesan tidak termasuk dalam daftar teratas. Justru, negara-negara Eropa mendominasi peringkat tersebut.
Di posisi pertama, Swiss menjadi juara dengan konsumsi keju rata-rata 23,50 kilogram per orang per tahun. Sejarah panjang peternakan sapi di negara ini sudah tercatat sejak zaman Neolitik. Hingga kini, Swiss memiliki lebih dari 700 varietas keju, di antaranya Gruyère, Tête de Moine, Sbrinz, Appenzeller, dan raclette. Keju di Swiss umumnya bebas dari bahan tambahan buatan dan modifikasi genetik. Salah satu pengalaman kuliner yang populer di sana adalah mencicipi fondue, perpaduan keju leleh, anggur, dan cherry brandy.
Di tempat kedua, Jerman mencatat konsumsi keju sebesar 22,91 kilogram per kapita. Tradisi pembuatan keju berkembang pesat di wilayah Allgäu, Bavaria, sejak abad ke-19. Negeri ini memproduksi ratusan jenis keju, mulai dari Bruder Basil yang lembut dan berasap, Limburger yang terkenal dengan aroma menyengat, hingga butterkäse yang bertekstur krim. Hidangan khas seperti käsespätzle (mirip macaroni and cheese) dan obatzda kerap disajikan dengan pretzel serta bir.
Prancis menempati posisi ketiga dengan angka 22,45 kilogram per kapita. Negara ini dikenal sebagai salah satu pusat keju dunia, memproduksi lebih dari 1.200 varietas, termasuk brie, camembert, Roquefort, reblochon, emmental, dan comté. Dalam tradisi makan di Prancis, piring berisi aneka keju biasanya disajikan di antara hidangan utama dan penutup.
Italia berada di urutan keempat dengan konsumsi 21,77 kilogram per kapita. Negeri ini memproduksi sekitar 2.500 jenis keju tradisional. Pecorino romano, mozzarella kerbau, taleggio, dan gorgonzola menjadi beberapa jenis yang paling digemari. Sejarah keju di Italia bahkan telah ada sejak era Romawi kuno.
Di posisi kelima ada Belanda dengan 21,09 kilogram per kapita. Produksi keju di negeri kincir angin sudah dikenal sejak tahun 80 SM, sebagaimana dicatat Julius Caesar dalam “Bellum Gallicum.” Varietas populer meliputi gouda, edam, leyden, dan maasdam.
Republik Ceko menduduki peringkat keenam (19,96 kilogram per kapita), dengan sejarah konsumsi keju yang dimulai dari biara dan rumah-rumah pada abad pertengahan. Olomoucke syrecky dan hermelín menjadi keju khas negara ini, yang kerap hadir dalam hidangan seperti kulajda, bramboracka, dan gulas.
Yunani berada di urutan ketujuh dengan konsumsi 19,73 kilogram per kapita. Feta menjadi ikon keju di negara ini, dibuat dari susu domba atau campuran susu domba dan kambing. Selain feta, graviera, kefalotyri, dan manouri juga populer di sana.
Finlandia menyusul di posisi kedelapan dengan konsumsi 19,28 kilogram per kapita. Sejarah keju di negara ini dimulai sejak 1555, dengan produk terkenal seperti Valio Oltermanni, Aura, dan juustoleipä. Yang terakhir dikenal unik karena mengeluarkan bunyi “berdecit” saat dikunyah, biasanya dinikmati dengan madu atau selai lingonberry.
Estonia menempati peringkat sembilan (18,14 kilogram per kapita). Meskipun ukurannya kecil, negara ini kaya akan variasi keju seperti Eesti Juust dan Tilsit. Camilan khas yang populer adalah kohuke, batang curd berlapis cokelat dengan berbagai rasa.
Luksemburg melengkapi daftar di posisi kesepuluh dengan 17,92 kilogram per kapita. Negara ini terkenal dengan Kachkéis, Stoffi, dan produk-produk Luxlait seperti Crème de Chapelin dan kubus Gouda yang direndam bir.
Data ini menunjukkan bahwa Eropa, dengan sejarah dan tradisi kuliner yang panjang, masih menjadi pusat konsumsi keju dunia. Keberagaman rasa, tekstur, dan cara penyajian membuat keju tetap menjadi bagian penting dalam budaya makan masyarakat di berbagai negara.
































