Manyala.co – Bencana banjir besar melanda sejumlah daerah di Bali dan Nusa Tenggara Timur (NTT) setelah hujan ekstrem mengguyur selama lebih dari 24 jam. Laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sedikitnya lima orang meninggal dunia, dengan rincian dua korban di Bali serta tiga orang di NTT. Selain itu, empat warga masih dilaporkan hilang, sementara dua lainnya mengalami luka-luka.
Di Bali, daerah yang paling terdampak meliputi Denpasar, Gianyar, Tabanan, dan Jembrana. Kondisi terparah terjadi di Jembrana, di mana 31 warga harus dievakuasi menggunakan perahu karet oleh tim Basarnas. Sedangkan di NTT, banjir bandang menyebabkan 10 desa terisolasi total karena akses jalan tertimbun longsor dan dua jembatan utama roboh diterjang arus deras.
Menanggapi kondisi darurat tersebut, Presiden Prabowo Subianto langsung memerintahkan Kepala BNPB, Letjen Suhariyanto, untuk bergerak cepat. Instruksi itu disampaikan Presiden melalui sambungan telepon, sebagaimana terlihat dalam foto yang dibagikan akun resmi Sekretariat Kabinet di Instagram, Rabu (10/9/2025). Prabowo menekankan pentingnya percepatan distribusi bantuan agar warga terdampak bisa segera menerima kebutuhan pokok.
“Presiden telah meminta BNPB bersama instansi terkait untuk bertindak cepat di lokasi bencana,” tulis Sekretariat Kabinet. Tak lama setelah perintah itu, Suhariyanto langsung berangkat ke Bali guna memimpin penanganan darurat, memastikan evakuasi berjalan lancar, serta mengawasi distribusi logistik seperti sembako, matras, selimut, dan tenda pengungsi.
Sebelum instruksi Presiden turun, BNPB sebenarnya sudah lebih dulu mengirim bantuan awal, antara lain perahu karet dan mesin, pompa alkon, paket makanan, hingga dana dukungan lapangan. Namun, perintah langsung dari Kepala Negara membuat koordinasi antarinstansi menjadi lebih cepat dan terarah.
Prabowo juga menyampaikan rasa duka cita mendalam kepada para korban banjir di Bali dan NTT. Menurutnya, negara harus hadir di tengah masyarakat yang sedang tertimpa musibah. “Presiden menegaskan pemerintah akan mengutamakan penyelamatan korban serta pemenuhan kebutuhan dasar warga,” tulis keterangan resmi.
Banjir yang melanda dua provinsi tersebut disebut sebagai salah satu yang terparah dalam beberapa tahun terakhir. Selain menimbulkan korban jiwa dan kerugian material, bencana ini juga menimbulkan dampak sosial yang luas. Banyak warga harus meninggalkan rumah mereka, sementara akses bantuan ke desa-desa yang terisolasi membutuhkan upaya ekstra dengan peralatan khusus.
Kini, perhatian utama BNPB bersama tim gabungan TNI, Polri, dan relawan adalah menemukan korban hilang sekaligus membuka jalur akses yang tertutup longsor. Pencarian masih terus dilakukan, meski cuaca buruk kerap menghambat pergerakan di lapangan. Pemerintah berharap penanganan darurat bisa berjalan optimal agar warga segera terbantu dan risiko korban bertambah dapat dicegah.
































