Sepuluh Skandal Terbesar dalam Sejarah PBB

PBB
Ilustrasi daftar organisasi di bawah PBB dan fungsinya. (Dok. iStock/luxiangjian4711)

Manyala.co – Dalam peringatan 80 tahun berdirinya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), organisasi global itu kembali menghadapi sorotan publik terkait rekam jejak panjang berbagai kontroversi dan skandal yang mengguncang kredibilitasnya sejak dibentuk pada 24 Oktober 1945.

PBB yang didirikan oleh 51 negara anggota setelah berakhirnya Perang Dunia II, memiliki empat tujuan utama: menjaga perdamaian dunia, mempererat hubungan antarnegara, meningkatkan taraf hidup dan hak asasi manusia, serta menjadi pusat koordinasi antarbangsa. Namun, di balik mandat besarnya, berbagai kasus pelanggaran dan kegagalan institusional menodai reputasinya di mata dunia.

1. Korupsi Program Minyak-untuk-Pangan (Oil-for-Food)

Program yang berjalan pada 1995–2003 di Irak, bertujuan meringankan penderitaan rakyat di tengah sanksi ekonomi. Namun, audit internal menemukan sekitar USD 1,8 miliar diselewengkan melalui suap dan manipulasi kontrak, melibatkan pejabat PBB dan mitra eksternal.

2. Wabah Kolera di Haiti (2010)

Pasukan penjaga perdamaian PBB secara tidak sengaja membawa bakteri kolera yang memicu epidemi, menewaskan lebih dari 10.000 orang. PBB sempat menolak tanggung jawab selama bertahun-tahun sebelum akhirnya mengakui keterlibatannya, meski kompensasi kepada korban dinilai belum memadai.

3. Kegagalan Mencegah Genosida Rwanda (1994)

Sekitar 800.000 orang, sebagian besar etnis Tutsi, tewas dalam genosida yang gagal dicegah oleh pasukan penjaga perdamaian PBB. Laporan internal menyebut kelalaian komunikasi dan lemahnya mandat misi di lapangan sebagai penyebab utama.

China Perkuat Ketahanan Energi Hadapi Krisis Minyak Global

4. Tragedi Srebrenica (1995)

Lebih dari 8.000 Muslim Bosnia dibantai di wilayah yang telah dinyatakan “zona aman” oleh PBB. Pasukan penjaga perdamaian asal Belanda (Dutchbat) gagal mencegah pembunuhan massal, yang kemudian diakui sebagai salah satu kegagalan terburuk PBB di Eropa.

5. Pelanggaran Pasukan Penjaga Perdamaian di Kongo

Laporan sejak awal 2000-an menuduh anggota pasukan PBB melakukan pelecehan seksual dan kekerasan terhadap warga sipil di Republik Demokratik Kongo. Beberapa kasus bahkan melibatkan permintaan bantuan dengan imbalan hubungan seksual.

6. Intimidasi terhadap Pelapor Internal

Sejumlah pegawai PBB yang melaporkan praktik korupsi atau penyalahgunaan wewenang dilaporkan menghadapi intimidasi, penurunan jabatan, hingga pemecatan. Budaya ini menimbulkan iklim ketakutan dan menghambat transparansi institusi.

7. Penanganan Perang Saudara Sri Lanka (1983–2009)

PBB dikritik karena gagal mencegah kejahatan perang yang menewaskan puluhan ribu warga sipil. Laporan internal menyebut organisasi terlalu lamban dalam menuntut akuntabilitas pihak yang bertanggung jawab.

8. Krisis Kemanusiaan Rohingya (2017–kini)

Respons PBB terhadap pembersihan etnis Rohingya di Myanmar dianggap tidak efektif. Lebih dari 700.000 orang mengungsi ke Bangladesh, sementara Dewan Keamanan gagal mencapai konsensus tindakan tegas akibat perbedaan politik antaranggota tetap.

Israel Tutup Masjid Al-Aqsa Saat Idul Fitri 2026

9. Kegagalan Misi di Sudan Selatan

Meski memiliki mandat melindungi warga sipil, misi penjaga perdamaian di Sudan Selatan tidak mampu mencegah kekerasan besar pada 2016. Investigasi internal menemukan kelemahan koordinasi dan kepemimpinan di lapangan.

10. Penyalahgunaan Hak Veto Dewan Keamanan

Hak veto negara tetap termasuk Amerika Serikat, Rusia, dan China kerap memblokir resolusi penting terkait krisis global seperti konflik Gaza dan Suriah. Penggunaan veto ini dianggap melumpuhkan fungsi Dewan Keamanan sebagai penegak perdamaian dunia.

Pesan Guterres di Peringatan 80 Tahun PBB

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dalam pidatonya menyerukan pembaruan semangat kolektif menghadapi ancaman global.

“Selama delapan puluh tahun, kita telah bekerja untuk perdamaian, mengatasi kemiskinan dan kelaparan, serta memajukan hak asasi manusia. Kini kita harus bersatu menghadapi konflik, kekacauan iklim, dan tantangan teknologi,” ujar Guterres.

Guterres menutup dengan ajakan untuk memperkuat kerja sama multilateral. “Pada Hari PBB ini, mari kita bersatu dan penuhi janji luar biasa Perserikatan Bangsa-Bangsa,” katanya.

Trump Belum Nyatakan Operasi Militer Iran Berakhir

Berita Terbaru

Berita Terpopuler

01

Khamenei Gugur dalam Serangan Militer AS–Israel di Teheran

02

Buka Puasa Penuh Inovasi! RT 08 Permata Hijau Lestari Resmi Luncurkan Gerakan Wanita Tani 08

03

Bareng Daeng Guard, Story Gym Makassar Bagikan 1.000 Paket Takjil Ramadhan ke Masyarakat

04

KKG PJOK Tallo Jajaki Kolaborasi Program dengan Pemerintah Kecamatan

05

Lantik Pengurus IKATSI Periode 2025-2029, DPP IKATEK Unhas: Regenerasi Kunci Keberlanjutan Organisasi

HUT Kabupaten Enrekang Ke-66
PEMKOT MAKASSAR - MANYALA.CO
Manyala.co

Olahraga

KKG PJOK KEC.TALLO Kolaborasi Dengan Fobi Makassar dan KKG UJUNG TANAH SANGKARANG

KKG PJOK Tallo, Tamalate, Panakkukang Gelar Pelatihan Deep Learning

Erick Thohir Bantah Laporkan FAM ke FIFA

PSSI: Tak Ada Naturalisasi Baru di FIFA Series

Olahraga Saat Puasa Aman dengan Penyesuaian Intensitas

KNPI Makassar Bersama KKG PJOK Tallo Gelar Kompetisi Futsal dan Voli Pelajar

Indonesia Ajukan Diri Tuan Rumah Piala Asia 2031

Indonesia ke Final Piala Asia Futsal Usai Kalahkan Jepang

Indonesia Lolos Perempat Final Piala Asia Futsal 2026

Indonesia Juara Grup A Usai Imbang Lawan Irak

Alwi Farhan Lolos Final Indonesia Masters 2026

Timnas Indonesia Hadapi Bulgaria, Solomon dan Saint Kitts di FIFA Series

Leo/Bagas Lolos Babak Kedua Indonesia Masters 2026

PSM Makassar Tambah Dua Pemain Asing Hadapi Putaran Kedua

Jonatan Christie Runner-up India Open 2026

PSM Makassar Hadirkan Bus Tim dan Rilis Jersey Khusus Suporter

Prabowo Realisasikan Bonus Atlet SEA Games 2025

Mental Juang PSM Makassar Diuji Jelang Laga Kontra Bali United

Malaysia Open 2026: Lima Wakil Indonesia Tampil di Babak 16 Besar

PSM Makassar Uji Pertahanan Hadapi Trisula Borneo FC

Kolom