Oleh: Mashud Azikin, Anggota Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar dalam dua tahun terakhir menggerakkan sebuah program yang jarang dilakukan kota-kota lain di Indonesia: Jelajah Sampah. Program ini bukan sekadar inspeksi atau kampanye sesaat, melainkan perjalanan panjang dari satu kecamatan ke kecamatan lain—lima belas kecamatan secara berturut-turut—untuk melihat, mendengar, dan memetakan langsung persoalan sampah di tingkat terdekat dengan warga.
Dalam kaitannya dengan target besar “Makassar Bebas Sampah 2029”, Jelajah Sampah hadir sebagai upaya membangun kesadaran ekologis yang berakar pada pengalaman nyata masyarakat. Sebab, persoalan sampah bukan hanya soal teknis pengangkutan, tetapi menyangkut budaya, perilaku, serta cara masyarakat memaknai lingkungan tempat tinggalnya.
Perjumpaan dengan Realitas: Dari Sungai hingga Gang-Gang Kecil
Setiap pelaksanaan Jelajah Sampah selalu mengungkap satu pesan penting: apa yang terlihat di permukaan hanyalah sebagian kecil dari persoalan. Di sejumlah kecamatan, tumpukan sampah liar di pinggir kanal menandakan masih kuatnya kebiasaan “buang cepat, lepas tangan”. Di wilayah lain, fasilitas TPS3R belum berjalan optimal atau keberadaan bank sampah unit masih minim.
Namun, terdapat pula kecamatan yang menunjukkan perkembangan positif. Warga mulai rutin memilah sampah dari rumah, kader lingkungan aktif melakukan edukasi dari pintu ke pintu, dan komunitas lokal menggerakkan program kompos, ecoenzym, hingga daur ulang sederhana.
Jelajah Sampah menghadirkan gambaran yang jelas dan jujur tentang kondisi di lapangan—itulah kekuatan utamanya.
Membangun Budaya, Bukan Sekadar Penertiban
Dalam perspektif humaniora ekologis, Jelajah Sampah sejatinya merupakan perjalanan membentuk budaya baru: budaya sadar sampah. Budaya ini tidak lahir dari instruksi, tetapi tumbuh melalui pengulangan, keteladanan, dan ruang dialog.
Kehadiran DLH langsung di lorong, bantaran sungai, pasar, dan rumah warga menjadi bukti bahwa pemerintah tidak hanya bekerja dari balik meja. Dari sana, tumbuh kesadaran bahwa sampah tidak berhenti ketika dibuang. Ia terus bergerak—menyumbat drainase, mencemari air hujan, menimbulkan bau, mengganggu kesehatan, hingga kembali ke manusia dalam bentuk mikroplastik.
Perubahan cara pandang inilah fondasi utama menuju Makassar Bebas Sampah 2029.
Kecamatan sebagai Garda Terdepan
Pencapaian target 2029 tidak hanya mengandalkan teknologi atau penambahan armada truk. Faktor paling menentukan adalah perubahan perilaku masyarakat, dan itu terjadi di tingkat kecamatan serta kelurahan.
Melalui Jelajah Sampah, sejumlah indikator keberhasilan mulai disusun dan dipantau, antara lain:
- persentase rumah tangga yang memilah sampah;
- berkurangnya titik sampah liar;
- meningkatnya aktivitas bank sampah;
- pengurangan sampah menuju TPA;
- berjalannya inovasi lokal seperti ecoenzym, biopori, sekolah sungai, dan kampanye zero burning.
Indikator ini bukan untuk menilai siapa yang terbaik, melainkan memetakan wilayah yang memerlukan pendampingan lebih kuat. Setiap kecamatan memiliki tantangan berbeda, tetapi semuanya bergerak pada tujuan yang sama: mengurangi sampah dari sumbernya.
Mengikat Kolaborasi, Menggerakkan Kepedulian
Jelajah Sampah membuktikan bahwa pemerintah tidak dapat bekerja sendiri. Keterlibatan warga, komunitas, RT/RW, sekolah, gereja, masjid, PKK, hingga pemuda menjadi faktor penentu keberhasilan.
Di beberapa kecamatan, inisiatif warga bahkan berjalan lebih cepat daripada regulasi. Ada yang membuat komposter mandiri, ibu-ibu yang konsisten menabung di bank sampah, hingga kelompok pemuda yang mengumpulkan plastik dari kanal untuk dijual guna mendukung kegiatan sosial.
Inilah wajah baru Makassar: kota yang tumbuh dari partisipasi, bukan semata instruksi.
Menuju 2029: Peradaban Baru yang Kita Bangun Bersama
Target Makassar Bebas Sampah 2029 bukan sekadar angka atau slogan, tetapi visi tentang kualitas hidup. Kota yang bersih tidak hanya indah dipandang, tetapi juga menjadi ruang hidup yang sehat, manusiawi, dan berperadaban.
Jelajah Sampah mengingatkan bahwa perubahan besar selalu berawal dari langkah kecil: memilah sampah di rumah, tidak membuang sembarangan, berhenti membakar sampah, mengolah organik, menabung di bank sampah, serta menjaga kanal tetap bersih.
Ketika lima belas kecamatan telah dijelajahi, dan ketika warga menyadari bahwa sampah adalah tanggung jawab bersama, Makassar sebenarnya telah berada di jalur yang tepat menuju 2029.
Yang tersisa adalah konsistensi. Selebihnya, sejarah akan mencatat bahwa Makassar memilih merawat masa depannya mulai dari hari ini.
































