Makassar, Manyala.co – Harga sejumlah komoditas pangan strategis di Makassar, Sulawesi Selatan, mulai mengalami kenaikan di pasar tradisional dan ritel modern, dipicu oleh faktor pasokan, musim hujan, dan peningkatan permintaan menjelang hari besar keagamaan.
Pantauan di sejumlah pasar tradisional menunjukkan kenaikan signifikan pada komoditas bawang dan telur ayam ras. Di Pasar Terong, harga bawang merah naik tajam dari Rp35.000 menjadi Rp50.000 per kilogram, atau meningkat sekitar 43 persen dibandingkan harga sebelumnya.
“Harga bawang merah kini sudah menembus Rp50 ribu per kilogram dari harga sebelumnya Rp35 ribu per kg,” kata pedagang Pasar Terong, Jumriah, Senin.
Kenaikan harga juga terjadi pada bawang putih. Pada awal Januari 2026, harga bawang putih masih berada di kisaran Rp30.000 per kilogram. Namun, saat ini harga telah naik menjadi Rp35.000 per kilogram, atau meningkat sekitar 17 persen dalam waktu kurang dari satu bulan.
Selain komoditas bumbu dapur, telur ayam ras turut mengalami lonjakan harga. Harga telur yang sebelumnya Rp45.000 per rak kini naik menjadi Rp55.000 per rak, atau meningkat sekitar 22 persen. Kenaikan ini dirasakan merata di sejumlah pasar tradisional.
Pedagang Pasar Pannampu, Muslimin, mengatakan kenaikan harga telur terjadi akibat berkurangnya pasokan dari sentra produksi. Penurunan pasokan tersebut berlangsung sejak musim hujan yang mulai intensif pada akhir 2025.
Menurut Muslimin, kondisi cuaca berdampak pada produktivitas peternakan ayam petelur serta distribusi dari daerah penghasil ke Makassar. Namun, hingga Senin siang belum ada keterangan resmi mengenai volume penurunan pasokan dari pihak distributor maupun pemerintah daerah.
Dinas Perdagangan Kota Makassar mencatat bahwa kenaikan harga sejumlah komoditas strategis kerap terjadi menjelang Hari Raya Keagamaan Nasional (HRKN). Faktor musiman tersebut diperkuat oleh kondisi cuaca hujan yang memengaruhi rantai pasok dan distribusi barang.
Berdasarkan hasil pemantauan dinas tersebut, kenaikan harga tidak hanya terjadi di pasar tradisional, tetapi juga merambat ke pasar swalayan dan minimarket. Harga di ritel modern menyesuaikan dengan pergerakan harga di pasar induk dan distribusi lapangan.
Sebagai contoh, harga minyak goreng kemasan yang sebelumnya dijual sekitar Rp18.500 per liter kini meningkat menjadi Rp21.000 per liter. Kenaikan tersebut setara dengan sekitar 13,5 persen dibandingkan harga normal sebelumnya.
Kondisi ini menambah tekanan pada daya beli masyarakat, terutama kelompok berpendapatan rendah yang mengalokasikan sebagian besar pengeluarannya untuk kebutuhan pangan. Namun, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi mengenai rencana operasi pasar atau intervensi harga dari pemerintah daerah.
Secara historis, fluktuasi harga pangan di Makassar sering terjadi pada periode awal tahun, khususnya saat curah hujan tinggi dan menjelang perayaan keagamaan. Pola ini juga sejalan dengan tren nasional, meskipun skala kenaikan dapat berbeda antarwilayah tergantung ketersediaan pasokan lokal.
Hingga Senin sore, belum ada konfirmasi resmi mengenai perkiraan durasi kenaikan harga maupun langkah stabilisasi lanjutan. Pemerintah daerah masih melakukan pemantauan harga harian di pasar tradisional dan ritel modern.
































