Manyala.co – Kementerian Perhubungan menyatakan pilot pesawat carter Pelita Air yang mengangkut bahan bakar minyak (BBM) dan jatuh di wilayah Nunukan, Kalimantan Utara, Kamis (19/2/2026), meninggal dunia dalam insiden tersebut.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Lukman F. Laisa, mengatakan informasi terakhir yang diterima pada pukul 15.16 WITA menyebutkan pilot bernama Capt. Hendrick Lodewyck Adam dinyatakan meninggal dunia.
“Informasi terakhir yang kami peroleh pada pukul 15.16 WITA pilot atas nama Capt. Hendrick Lodewyck Adam dinyatakan meninggal dunia,” kata Lukman saat dikonfirmasi di Jakarta, Kamis.
Pesawat yang mengalami kecelakaan merupakan jenis Air Tractor AT-802 dengan registrasi PK-PAA, tahun pembuatan 2013 dan nomor seri 802-0494. Pesawat tersebut dioperasikan oleh Pelita Air Service untuk layanan khusus pengangkutan BBM ke daerah terpencil.
Menurut Kemenhub, pesawat berangkat dari Bandar Udara Long Bawan pada pukul 04.10 UTC atau 12.10 WITA menuju Bandar Udara Tarakan. Pesawat membawa muatan BBM milik Pertamina dengan estimasi waktu kedatangan pukul 05.15 UTC atau 13.15 WITA.
Dalam komunikasi terakhir, pilot menyampaikan kepada petugas Air Traffic Controller (ATC) Tarakan bahwa pesawat diperkirakan melintas di atas Malinau (abeam Malinau) pada pukul 04.24 UTC atau 12.24 WITA. Namun, pada pukul 04.20 UTC atau 12.20 WITA, diterima sinyal emergency locator transmitter (ELT) dari pesawat tersebut.
Berdasarkan data awal, pesawat hanya diawaki satu orang kru, yaitu pilot. Penyebab kecelakaan masih dalam proses penyelidikan oleh otoritas berwenang.
Dari sisi kelaikudaraan, Lukman menyatakan pesawat telah menjalani pemeriksaan rutin 100 jam dan 200 jam pada 11 Februari 2026. Total waktu terbang pesawat tercatat mencapai 3.303 jam.
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara telah berkoordinasi dengan operator, otoritas bandara, dan instansi terkait untuk memastikan penanganan di lapangan berjalan sesuai prosedur. Investigasi akan dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku.
“Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menyampaikan keprihatinan mendalam atas peristiwa ini dan mengimbau semua pihak untuk menunggu informasi resmi yang terverifikasi,” ujar Lukman.
Sebelumnya, Pelita Air menegaskan pesawat yang jatuh merupakan layanan kargo pengangkut BBM, bukan penerbangan penumpang. Corporate Secretary Pelita Air, Patria Rhamadonna, menyatakan pesawat tersebut tidak membawa awak kabin maupun penumpang.
“Tanpa awak kabin maupun penumpang, dengan jenis pesawat yang digunakan yaitu Air Tractor AT-802 dengan registrasi PK-PAA,” kata Patria saat dihubungi di Jakarta.
Ia menambahkan pesawat tersebut merupakan armada khusus yang melayani program pengantaran BBM Satu Harga ke wilayah perbatasan dan daerah terpencil.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada informasi resmi mengenai lokasi pasti jatuhnya pesawat maupun temuan awal dari tim investigasi di lapangan. Otoritas penerbangan belum merilis laporan awal penyebab kecelakaan.
































