Manyala.co โ Pemerintah Amerika Serikat mengakui adanya kesalahan taktis sebelum pecahnya konflik dengan Iran setelah tidak menindaklanjuti tawaran teknologi pertahanan dari Ukraina untuk menghadapi drone serang murah jenis Shahed.
Pengakuan tersebut disampaikan seorang pejabat Amerika kepada media setelah meningkatnya serangan drone Iran terhadap pasukan dan fasilitas militer Amerika di kawasan Timur Tengah. Teknologi yang ditawarkan Ukraina sebelumnya diyakini dapat membantu menanggulangi ancaman tersebut dengan biaya lebih rendah dibandingkan sistem pertahanan udara konvensional.
Menurut laporan Axios, pejabat Ukraina pada pertengahan 2025 telah menawarkan sistem drone pencegat kepada pemerintahan Presiden Donald Trump. Tawaran tersebut disampaikan dalam pertemuan tertutup di Gedung Putih pada 18 Agustus.
Dalam pertemuan tersebut, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mempresentasikan teknologi drone pencegat yang dirancang untuk menghentikan drone serang murah seperti yang digunakan oleh Iran dan Rusia. Presentasi tersebut dilaporkan mencakup materi visual yang menjelaskan potensi ancaman drone Iran terhadap instalasi militer Amerika di Timur Tengah apabila konflik terbuka terjadi.
Laporan tersebut menyebut Trump sempat meminta timnya mempelajari tawaran tersebut. Namun dalam beberapa bulan berikutnya, proposal tersebut tidak ditindaklanjuti oleh pemerintah Amerika.
Sejumlah pejabat di dalam pemerintahan saat itu disebut meragukan urgensi tawaran Ukraina dan menilai Zelensky hanya berupaya menarik perhatian Washington. Pandangan tersebut kemudian berubah setelah meningkatnya penggunaan drone Shahed oleh Iran dalam konflik terbaru.
โJika ada kesalahan taktis atau kekeliruan yang kami buat menjelang perang dengan Iran, inilah kesalahan itu,โ kata seorang pejabat Amerika kepada Axios.
Drone Shahed buatan Iran dikenal sebagai sistem serangan berbiaya rendah yang mampu diluncurkan dalam jumlah besar. Dalam beberapa serangan terbaru di Timur Tengah, drone tersebut dilaporkan menargetkan pangkalan militer Amerika dan sekutunya.
Para pejabat militer Amerika juga telah memberi pengarahan kepada anggota parlemen mengenai tantangan yang ditimbulkan oleh drone tersebut. Dalam pengarahan tersebut disebutkan bahwa sistem pertahanan udara Amerika tidak selalu mampu mencegat seluruh drone yang diluncurkan secara bersamaan.
Sumber militer menyatakan bahwa teknologi anti-drone Ukraina dapat menjadi solusi yang lebih murah dibandingkan penggunaan sistem pertahanan udara konvensional yang bernilai jutaan dolar per unit.
Presiden Zelensky menyatakan negaranya kini telah mengirim drone pencegat dan tenaga ahli untuk membantu melindungi pangkalan militer Amerika di Yordania. Pada saat yang sama, Ukraina juga meminta negara-negara sekutu meningkatkan pasokan sistem rudal pertahanan udara Patriot missile system buatan Amerika.
Namun klaim mengenai kesalahan taktis tersebut dibantah oleh Gedung Putih. Juru bicara Gedung Putih Anna Kelly mengatakan serangan balasan Iran justru telah menurun secara signifikan dalam beberapa waktu terakhir.
โSerangan balasan Iran telah turun 90 persen karena kemampuan rudal balistik mereka sedang dihancurkan secara total,โ kata Kelly kepada media Inggris The Independent.
Kelly juga menolak kritik yang disampaikan oleh sumber anonim yang menyebut pemerintah Amerika melakukan kesalahan strategis sebelum perang.
Ia menambahkan bahwa Menteri Pertahanan Amerika Pete Hegseth bersama militer telah mempersiapkan berbagai kemungkinan respons dari Iran sebelum operasi militer dilakukan.
Menurut Kelly, keberhasilan operasi militer Amerika dalam operasi bernama Operation Epic Fury menunjukkan bahwa perencanaan tersebut berjalan efektif.
Di tengah meningkatnya ancaman drone murah, militer Amerika kini mulai mengembangkan sistem serupa untuk menandingi taktik Iran. Salah satu proyek yang sedang dikembangkan adalah drone murah bernama Lucas drone yang dirancang untuk meniru konsep drone Shahed dengan biaya produksi rendah.
Selain pengembangan militer, sektor swasta juga mulai terlibat dalam inovasi teknologi drone tersebut. Laporan media menyebut putra-putra Trump, yakni Eric Trump dan Donald Trump Jr., mendukung perusahaan drone berbasis di Florida yang berpotensi memasok teknologi tersebut kepada militer Amerika.
Meski menghadapi tantangan dari drone Iran, pemerintah Amerika menyatakan kemampuan militer Iran telah melemah secara signifikan dalam konflik yang sedang berlangsung. Namun hingga kini belum ada penjelasan resmi mengenai jadwal atau mekanisme penghentian konflik tersebut.
































