Manyala – Persaingan di Piala Dunia 2026 tidak hanya tersaji di atas lapangan hijau. Di balik sengitnya perebutan tiket menuju final, dua raksasa apparel olahraga dunia, Nike dan Adidas, juga terlibat dalam pertarungan prestise melalui tim nasional, para pemain bintang, hingga strategi pemasaran yang menyasar miliaran penggemar di seluruh dunia.
Semifinal Piala Dunia 2026 mempertemukan empat negara terbaik, yakni Spanyol, Prancis, Inggris, dan Argentina. Menariknya, keempat tim tersebut terbagi rata sebagai representasi dua merek olahraga terbesar dunia.
Nike menjadi sponsor resmi Prancis dan Inggris, sedangkan Adidas membekali Spanyol dan Argentina. Dengan demikian, kedua pertandingan semifinal menghadirkan duel langsung antara tim-tim yang mengenakan jersey Nike melawan Adidas.
Tak hanya bertarung melalui performa di lapangan, kedua perusahaan juga saling beradu strategi pemasaran selama turnamen berlangsung. Mulai dari kampanye iklan bertabur bintang, peluncuran jersey terbaru, hingga berbagai aktivasi pemasaran di kota-kota tuan rumah dilakukan demi menarik perhatian penggemar sekaligus meningkatkan penjualan produk.
Nike meluncurkan kampanye bertajuk “Rip the Script” yang dibintangi sederet atlet dunia seperti Kylian Mbappe, Erling Haaland, Cristiano Ronaldo, hingga LeBron James. Di sisi lain, Adidas menghadirkan kampanye “Backyard Legends” dengan menampilkan Lamine Yamal, Jude Bellingham, Lionel Messi, Zinedine Zidane, serta versi digital berbasis kecerdasan buatan (AI) dari David Beckham.
Dalam hal jumlah tim peserta Piala Dunia 2026 yang menggunakan produknya, Adidas juga unggul tipis. Perusahaan asal Jerman itu menjadi pemasok jersey bagi 14 tim nasional, sedangkan Nike membekali 12 tim. Puma berada di posisi berikutnya dengan 11 tim, sementara beberapa merek lain seperti New Balance turut meramaikan persaingan apparel di turnamen terbesar sepak bola dunia tersebut.
Meski kalah dalam jumlah tim yang disponsori, Nike tetap memiliki kekuatan besar melalui deretan pemain bintang yang menjadi wajah utama mereknya. Prancis diperkuat Kylian Mbappe, Ousmane Dembele, hingga Michael Olise, sedangkan Inggris mengandalkan Jude Bellingham dan Harry Kane sebagai ikon utama.
Sementara itu, Adidas bertumpu pada dua tim dengan tradisi kuat di sepak bola dunia. Argentina datang sebagai juara bertahan, sedangkan Spanyol tampil impresif sepanjang turnamen hingga memastikan tiket ke final setelah menyingkirkan Prancis dengan skor 2-0.
Pengamat industri olahraga Matt Kirkham menilai tren saat ini menunjukkan banyak penggemar membeli jersey bukan hanya karena mendukung negara tertentu, tetapi juga karena mengidolakan pemain favorit mereka. Selain itu, hubungan yang semakin erat antara sepak bola dan dunia fesyen membuat jersey tim nasional kini berkembang menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari, bukan sekadar perlengkapan pertandingan.
Piala Dunia sendiri menjadi panggung pemasaran terbesar bagi industri apparel olahraga. Prestasi sebuah tim di turnamen bergengsi ini kerap berdampak langsung terhadap peningkatan penjualan jersey, popularitas pemain, hingga nilai merek secara global.
Apa pun hasil final nanti, satu hal sudah pasti: Piala Dunia 2026 bukan hanya menghadirkan persaingan para pemain terbaik dunia, tetapi juga menjadi arena pertarungan gengsi antara Nike dan Adidas. Saat para pesepak bola berjuang mengangkat trofi juara dunia, kedua merek tersebut juga berlomba memperkuat dominasi mereka sebagai penguasa industri apparel sepak bola global.

































