Manyala.co – Dewan Energi Nasional (DEN) menambah delapan anggota dari unsur pemangku kepentingan untuk memperkuat perumusan dan pengawasan kebijakan energi nasional dalam periode lima tahun ke depan, di tengah tantangan transisi energi dan target Net Zero Emission.
Penguatan komposisi DEN tersebut dilakukan seiring meningkatnya kebutuhan harmonisasi kebijakan energi nasional, ketahanan pasokan, serta pengembangan energi berkelanjutan. Delapan anggota baru berasal dari latar belakang akademisi, industri, teknologi, lingkungan hidup, dan konsumen, sebagaimana diumumkan melalui kanal resmi DEN.
Dari unsur konsumen, DEN diisi oleh Surono, pakar geofisika dan mitigasi bencana. Ia memiliki latar belakang pendidikan doktor di Université de Chambéry, Prancis, serta pengalaman panjang di sektor geologi nasional. Surono pernah menjabat Kepala Badan Geologi, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, serta Staf Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Ia juga menjadi perwakilan Indonesia dalam forum International Association of Volcanology and Chemistry of the Earth’s Interior (IAVCEI).
Masih dari unsur konsumen, DEN turut diisi oleh Muhammad Kholid Syeirazi, akademisi Universitas Indonesia dengan keahlian kebijakan publik dan ketahanan energi. Ia memiliki pengalaman di sektor publik sebagai Tenaga Ahli Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI dan DPR RI, serta terlibat dalam Satgas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional. Selain itu, ia juga pernah menduduki posisi komisaris dan komite audit di sejumlah badan usaha milik negara.
Unsur lingkungan hidup diwakili oleh Saleh Abdurrahman, ahli pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan. Ia pernah menjabat Anggota Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi serta Staf Ahli Menteri ESDM Bidang Lingkungan Hidup dan Tata Ruang. Saleh juga memiliki pengalaman sebagai Sekretaris Jenderal DEN dan aktif dalam pengembangan energi terbarukan serta biomassa.
Dari unsur teknologi, DEN diperkuat oleh Unggul Priyanto, pakar teknologi energi dengan latar belakang riset material dan teknik kimia. Ia pernah menjabat Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan memiliki sejumlah paten nasional terkait pengembangan bahan bakar alternatif berbasis minyak nabati. Kontribusinya tercatat melalui publikasi ilmiah dan keterlibatan dalam forum teknologi energi nasional dan internasional.
Unsur industri diwakili oleh Sripeni Inten Cahyani, eksekutif senior di sektor ketenagalistrikan. Ia pernah menjabat Direktur Utama PT Indonesia Power, Pelaksana Tugas Direktur Utama PT PLN (Persero), serta Direktur Pengadaan Strategis PLN. Sripeni juga memiliki pengalaman sebagai Tenaga Ahli Menteri ESDM.
Masih dari kalangan industri, Satya Widya Yudha turut mengisi DEN. Ia memiliki pengalaman sebagai anggota DPR RI selama dua periode dan Wakil Ketua Komisi VII DPR RI yang membidangi energi, riset, dan lingkungan hidup. Selain itu, ia memiliki latar belakang sebagai eksekutif di sektor minyak dan gas bumi serta aktif dalam penelitian energi.
Unsur akademisi lainnya diwakili oleh Mohamad Fadhil Hasan, ekonom pembangunan dengan pengalaman sebagai Tim Ahli Wakil Presiden RI dan Ketua Badan Supervisi Bank Indonesia. Ia juga aktif dalam kajian ekonomi energi, agribisnis, dan kebijakan biodiesel.
Akademisi dari Indonesia Timur diwakili oleh Johni Jonatan Numberi, dosen dan mantan Dekan Fakultas Teknik Universitas Cenderawasih. Fokus risetnya berada pada energi baru terbarukan dan pengembangan sumber daya manusia, dengan perhatian khusus pada konteks pembangunan kawasan Papua dan Indonesia Timur.
Penguatan komposisi DEN ini diharapkan mendukung perumusan kebijakan energi nasional yang adaptif terhadap tantangan global, termasuk transisi energi dan ketahanan pasokan. Hingga kini, belum ada pernyataan resmi mengenai agenda kerja awal delapan anggota baru tersebut.
































