Dunia di Ambang Ketegangan Global: 10 Konflik Terbesar yang Mengguncang Tahun 2025

Dunia di Ambang Ketegangan Global: 10 Konflik Terbesar yang Mengguncang Tahun 2025 - Dunia - Gambar 949
Situasi geopolitik global tampak kian memanas, menciptakan kekhawatiran di banyak kalangan bahwa dunia tengah melangkah menuju Perang Dunia III. Manyala.co

Manyala.co – Memasuki pertengahan tahun 2025, situasi geopolitik global tampak kian memanas. Serangkaian konflik militer berskala besar, dari Eropa Timur hingga Timur Tengah, menciptakan kekhawatiran di banyak kalangan bahwa dunia tengah melangkah menuju Perang Dunia III. Meski belum ada konfrontasi global langsung, fragmentasi konflik yang terjadi secara simultan memicu kekhawatiran akan eskalasi sistemik.

Kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih, diiringi pergeseran kebijakan luar negeri Amerika Serikat, turut memperkeruh lanskap internasional. Beberapa negara besar mengambil langkah agresif, sementara dunia menyaksikan melemahnya mekanisme kolektif untuk menjaga perdamaian. Berikut adalah sepuluh konflik besar yang menandai tahun 2025 dan menciptakan risiko ketidakstabilan global:

1. Rusia-Ukraina: Konflik Berkepanjangan dengan Dampak Strategis Global

Konflik ini memasuki tahun ketiga sejak invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina pada Februari 2022. Di tengah tekanan militer yang terus berlanjut, Ukraina meluncurkan “Operasi Jaring Laba-laba” pada 1 Juni 2025—serangan drone rahasia yang melumpuhkan lebih dari 40 pesawat strategis Rusia. Rusia merespons dengan peluncuran rudal hipersonik, memperlihatkan betapa cepat perang ini berubah menjadi demonstrasi kekuatan militer modern. Ketegangan meningkat setelah Presiden Trump menyatakan dukungan AS terhadap Ukraina akan ditinjau ulang.

2. Israel-Iran: Perang Langsung Pecah di Timur Tengah

Hubungan tegang antara Israel dan Iran meledak menjadi perang terbuka. Serangan udara Israel pada 13 Juni menghancurkan fasilitas nuklir Iran dan menewaskan beberapa tokoh penting. Iran mengancam akan membalas secara “menyakitkan dan menyeluruh”. Ketegangan meningkat seiring Iran menutup wilayah udara nasional dan menggalang dukungan dari sekutu-sekutunya. AS bersikap netral secara militer, namun tetap memantau dengan ketat.

3. India-Pakistan: Krisis Kashmir Kembali Meletus

Kawasan Kashmir kembali menjadi pusat konflik setelah serangan di Pahalgam menewaskan 26 warga sipil. India membalas melalui Operasi Sindoor, sementara Pakistan meluncurkan Operasi Bunyan ul Marsous. Pertempuran udara, drone, dan serangan siber mewarnai eskalasi. Meski gencatan senjata sementara tercapai lewat mediasi AS, kekhawatiran akan perang nuklir masih menghantui Asia Selatan.

China Perkuat Ketahanan Energi Hadapi Krisis Minyak Global

4. Sudan: Perang Saudara yang Tak Berujung

Sudan kembali tenggelam dalam kekerasan setelah perundingan damai antara militer dan kelompok paramiliter RSF gagal total. Pertempuran sengit di Khartoum dan Darfur memicu pengungsian besar-besaran dan bencana kemanusiaan yang meluas. Mediasi internasional belum menunjukkan hasil konkret, memperpanjang krisis yang telah berjalan lebih dari dua tahun.

5. Kongo: Perang Mineral dan Kepentingan Regional

Kelompok M23 merebut kota Goma, memicu perang terbuka di wilayah timur Kongo. Rwanda diduga terlibat secara langsung demi kepentingan eksploitasi mineral strategis. Kekerasan terhadap warga sipil, pengungsian massal, dan munculnya pemerintahan bayangan memperburuk krisis. Masyarakat internasional menghadapi dilema antara pemberian bantuan kemanusiaan atau tindakan sanksi yang lebih tegas.

6. Myanmar: Kudeta dan Kekacauan yang Berkelanjutan

Sejak kudeta militer pada 2021, Myanmar belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Konflik antara junta militer dan kelompok etnis bersenjata terus berlangsung. Wilayah-wilayah strategis jatuh ke tangan pemberontak, sementara militer menghadapi tekanan internasional. Stabilitas politik nyaris runtuh, menjadikan negara ini salah satu kawasan paling rawan di Asia Tenggara.

7. Ethiopia: Konflik Etnis Mengancam Kehancuran Negara

Gagalnya perjanjian damai pasca-konflik Tigray memicu gelombang baru kekerasan di Ethiopia. Ketegangan etnis menyebar ke berbagai wilayah, memperparah kelaparan dan pelanggaran HAM. Ethiopia terancam terpecah dan masuk ke jurang negara gagal jika kekerasan tak segera diredam.

8. Haiti: Negara Tanpa Pemerintahan Efektif

Pasca-pembunuhan Presiden Moïse pada 2021, Haiti berubah menjadi negara yang dikendalikan geng bersenjata. Pemerintahan de facto tak berfungsi, hukum tak berlaku, dan anarki merebak di ibu kota. Upaya internasional untuk membantu stabilisasi belum menunjukkan hasil, dan eksodus warga terus berlanjut.

Israel Tutup Masjid Al-Aqsa Saat Idul Fitri 2026

9. Meksiko: Perang Narkoba Berkembang Jadi Konflik Multi-Aspek

Pertarungan antara kartel narkoba besar seperti Sinaloa dan CJNG semakin brutal. Mereka memperluas cakupan ke perdagangan manusia, senjata, dan pemerasan. Meskipun pemerintah meningkatkan operasi keamanan, kontrol kartel di berbagai daerah tetap kuat. Kekerasan sistematis terus terjadi, menelan ribuan korban setiap tahun.

10. Konflik Palestina-Israel: Jalan Buntu Solusi Dua Negara

Sejak serangan Hamas pada Oktober 2023, Israel melancarkan ofensif militer intensif ke Gaza. Blokade, krisis kemanusiaan, dan kehancuran infrastruktur sipil menjadi pemandangan harian. Dukungan Iran terhadap Hamas memicu risiko perluasan konflik ke negara-negara tetangga, memperkuat potensi perang regional yang lebih luas.


Apakah Dunia Menuju Perang Dunia III?

Menurut laporan Mira Safety dan beberapa lembaga pemantau konflik global, saat ini dunia berada dalam kondisi “ketidakstabilan terfragmentasi”. Artinya, meskipun belum ada front perang global yang terkoordinasi, potensi akumulasi konflik ini bisa menjadi titik awal bagi konfrontasi besar jika tidak dikelola secara diplomatis.

Potensi Aktor Perang Dunia III:

  • Blok Barat: Amerika Serikat, NATO, Jepang, Korea Selatan, Australia.
  • Blok Timur: Rusia, Iran, dan kemungkinan China.
  • Wildcard: Korea Utara dan negara-negara non-blok dengan kepentingan regional.

Ketidakpastian politik, konflik bersenjata, dan rivalitas kekuatan besar menjadikan tahun 2025 sebagai periode paling genting dalam dua dekade terakhir. Namun para analis sepakat bahwa dengan diplomasi yang kuat dan kerja sama global yang aktif, jalan menuju Perang Dunia III masih bisa dicegah.

Trump Belum Nyatakan Operasi Militer Iran Berakhir

Berita Terbaru

Berita Terpopuler

01

Khamenei Gugur dalam Serangan Militer AS–Israel di Teheran

02

Buka Puasa Penuh Inovasi! RT 08 Permata Hijau Lestari Resmi Luncurkan Gerakan Wanita Tani 08

03

Bareng Daeng Guard, Story Gym Makassar Bagikan 1.000 Paket Takjil Ramadhan ke Masyarakat

04

KKG PJOK Tallo Jajaki Kolaborasi Program dengan Pemerintah Kecamatan

05

Lantik Pengurus IKATSI Periode 2025-2029, DPP IKATEK Unhas: Regenerasi Kunci Keberlanjutan Organisasi

HUT Kabupaten Enrekang Ke-66
PEMKOT MAKASSAR - MANYALA.CO
Manyala.co

Olahraga

KKG PJOK KEC.TALLO Kolaborasi Dengan Fobi Makassar dan KKG UJUNG TANAH SANGKARANG

KKG PJOK Tallo, Tamalate, Panakkukang Gelar Pelatihan Deep Learning

Erick Thohir Bantah Laporkan FAM ke FIFA

PSSI: Tak Ada Naturalisasi Baru di FIFA Series

Olahraga Saat Puasa Aman dengan Penyesuaian Intensitas

KNPI Makassar Bersama KKG PJOK Tallo Gelar Kompetisi Futsal dan Voli Pelajar

Indonesia Ajukan Diri Tuan Rumah Piala Asia 2031

Indonesia ke Final Piala Asia Futsal Usai Kalahkan Jepang

Indonesia Lolos Perempat Final Piala Asia Futsal 2026

Indonesia Juara Grup A Usai Imbang Lawan Irak

Alwi Farhan Lolos Final Indonesia Masters 2026

Timnas Indonesia Hadapi Bulgaria, Solomon dan Saint Kitts di FIFA Series

Leo/Bagas Lolos Babak Kedua Indonesia Masters 2026

PSM Makassar Tambah Dua Pemain Asing Hadapi Putaran Kedua

Jonatan Christie Runner-up India Open 2026

PSM Makassar Hadirkan Bus Tim dan Rilis Jersey Khusus Suporter

Prabowo Realisasikan Bonus Atlet SEA Games 2025

Mental Juang PSM Makassar Diuji Jelang Laga Kontra Bali United

Malaysia Open 2026: Lima Wakil Indonesia Tampil di Babak 16 Besar

PSM Makassar Uji Pertahanan Hadapi Trisula Borneo FC

Kolom