Manyala.co – Iran meluncurkan gelombang serangan rudal intensif selama lebih dari tiga jam ke wilayah Israel dan sejumlah target Amerika Serikat di Timur Tengah pada Selasa malam (10/3/2026), menurut pernyataan militer Iran.
Serangan tersebut diumumkan oleh Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) sebagai bagian dari operasi militer bersandi “Ya Ali ibn Abi Talib”. Dalam operasi itu, Iran dilaporkan menembakkan rudal balistik jenis Khorramshahr ballistic missile dalam jumlah terbesar yang pernah digunakan negara tersebut dalam satu serangan.
Menurut laporan kantor berita Iran Tasnim News Agency, penembakan rudal dilakukan secara terus-menerus selama lebih dari tiga jam. Serangan tersebut menandai salah satu eskalasi militer paling intens sejak konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat meningkat dalam beberapa pekan terakhir.
“Kami melanjutkan serangan kami yang terarah dan kuat. Selama perang berlanjut, kami hanya memikirkan penyerahan diri musuh sepenuhnya,” kata IRGC dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Rabu (11/3/2026).
IRGC menegaskan operasi militer akan terus berlangsung hingga ancaman terhadap Iran dianggap sepenuhnya berakhir.
“Kami akan mengakhiri perang ini hanya ketika bayang-bayang perang benar-benar terangkat dari negara kami,” demikian isi pernyataan tersebut.
Menurut laporan militer Iran, sejumlah lokasi strategis menjadi sasaran serangan. Salah satu target yang dilaporkan terkena dampak adalah pusat komunikasi satelit Ha’ela di selatan Tel Aviv, yang disebut diserang untuk kedua kalinya sejak konflik meningkat.
Selain itu, fasilitas militer di Be’er Ya’akov, wilayah Yerusalem Barat, dan kota pelabuhan Haifa juga dilaporkan menjadi sasaran serangan rudal.
Serangan Iran tidak hanya menargetkan wilayah Israel. Beberapa rudal juga dilaporkan diarahkan ke target Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, termasuk instalasi militer di Erbil, Irak.
Militer Iran juga menyebut Pangkalan Angkatan Laut Kelima Amerika Serikat di kawasan tersebut sebagai salah satu sasaran strategis dalam operasi militer yang sedang berlangsung.
Selain operasi militer langsung, IRGC juga mengumumkan perluasan daftar target yang dapat diserang Iran. Dalam pernyataan yang dirilis, sejumlah perusahaan teknologi Amerika disebut sebagai target potensial karena dituduh menyediakan teknologi yang digunakan dalam operasi militer Israel.
Perusahaan yang disebutkan antara lain Google, Microsoft, Palantir Technologies, IBM, Nvidia, dan Oracle Corporation.
IRGC menyatakan bahwa seiring meluasnya konflik menjadi perang infrastruktur, target yang dianggap sah juga akan bertambah.
Pernyataan tersebut juga menyebut bahwa fasilitas cloud dan infrastruktur digital yang berlokasi di Israel serta beberapa negara Teluk berpotensi menjadi sasaran.
Selain target teknologi, militer Iran juga menyatakan akan mempertimbangkan serangan terhadap pusat ekonomi dan lembaga keuangan Amerika Serikat dan Israel di kawasan tersebut.
Peringatan tersebut disampaikan oleh komando militer pusat Khatam al-Anbiya Central Headquarters melalui siaran televisi pemerintah Iran.
Menurut pernyataan tersebut, serangan terhadap target ekonomi merupakan respons terhadap serangan yang dilaporkan menghantam sebuah bank Iran pada Selasa malam dan menyebabkan korban jiwa di kalangan karyawan.
Militer Iran juga memperingatkan masyarakat sipil di kawasan tersebut agar tidak berada dalam radius satu kilometer dari fasilitas perbankan yang berpotensi menjadi sasaran.
Hingga saat ini belum ada konfirmasi independen mengenai jumlah korban maupun tingkat kerusakan akibat serangan tersebut dari pihak Israel maupun Amerika Serikat.
Konflik regional antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat meningkat setelah serangan militer gabungan Washington dan Tel Aviv yang dilaporkan menghantam sejumlah target di Iran pada awal tahun ini.
































