Manyala.co – Otoritas Israel menutup Masjid Al-Aqsa di Yerusalem pada Hari Raya Idul Fitri 2026 dengan alasan keamanan, memaksa ratusan jamaah Muslim melaksanakan salat di luar kompleks dan memicu kecaman internasional.
Penutupan tersebut terjadi pada Jumat (20/3) dan disebut sebagai yang pertama sejak 1967. Polisi Israel membarikade akses menuju kompleks Masjid Al-Aqsa di Kota Tua Yerusalem, sehingga jamaah tidak dapat memasuki area untuk melaksanakan salat Id.
Akibat pembatasan tersebut, ratusan warga Muslim terpaksa melaksanakan ibadah di jalanan sekitar Kota Tua. Situasi ini menciptakan ketegangan di kawasan yang selama ini menjadi titik sensitif konflik antara Israel dan Palestina.
Pemerintah Israel menyatakan langkah tersebut diambil dengan pertimbangan keamanan, menyusul meningkatnya eskalasi konflik regional, termasuk konfrontasi dengan Iran. Penutupan Masjid Al-Aqsa sendiri telah berlangsung sejak akhir Februari 2026, bersamaan dengan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Namun, warga Palestina menilai kebijakan tersebut sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk memperketat pembatasan di kompleks suci tersebut. Masjid Al-Aqsa, yang berada dalam kawasan Al-Haram Al-Sharif, merupakan salah satu situs tersuci bagi umat Islam.
Kompleks tersebut juga mencakup Kubah Batu yang dibangun pada abad ke-7. Bagi umat Yahudi, lokasi yang sama dikenal sebagai Temple Mount, yang memiliki nilai historis dan religius tinggi karena diyakini sebagai lokasi Bait Suci kuno.
Seorang warga Yerusalem, Hazen Bulbul, menggambarkan situasi tersebut sebagai momen yang sangat menyedihkan bagi umat Muslim setempat. “Hari ini adalah hari paling menyedihkan bagi para jamaah Muslim di Yerusalem,” katanya.
Ia juga mengungkapkan kekhawatiran bahwa kebijakan ini dapat menjadi preseden di masa depan. “Yang saya khawatirkan adalah ini akan menjadi preseden berbahaya. Mungkin ini pertama kalinya, tetapi mungkin bukan yang terakhir,” ujarnya.
Dalam beberapa bulan terakhir, dilaporkan terjadi peningkatan pembatasan terhadap jamaah Palestina, termasuk penangkapan di sekitar kompleks serta pembatasan akses masuk. Kondisi tersebut memperburuk ketegangan yang telah meningkat sejak konflik Gaza pada Oktober 2023.
Pada hari penutupan, suasana Kota Tua Yerusalem dilaporkan relatif sepi dibandingkan biasanya saat Idul Fitri. Aktivitas ekonomi juga terganggu, dengan sebagian besar toko milik warga Palestina tidak diizinkan beroperasi, kecuali layanan esensial seperti apotek dan toko bahan makanan.
Di tengah situasi tersebut, militer Israel menyatakan telah mencegat sebuah rudal yang diluncurkan dari Iran. Pecahan rudal dilaporkan jatuh di kawasan sekitar 400 meter dari kompleks Masjid Al-Aqsa, menyebabkan kerusakan ringan tanpa korban jiwa.
Insiden lain terjadi ketika pasukan keamanan Israel membubarkan kerumunan jamaah di sekitar Gerbang Herodes menggunakan alat kejut. Sedikitnya tujuh warga Palestina dilaporkan ditahan dalam peristiwa tersebut.
Penutupan Masjid Al-Aqsa menuai kecaman luas dari berbagai organisasi internasional. Liga Arab, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), dan Komisi Uni Afrika menyatakan tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional dan kebebasan beribadah.
Dalam pernyataan bersama, mereka menilai kebijakan tersebut melanggar status quo historis situs suci di Yerusalem serta berpotensi memicu ketegangan lebih luas di kawasan.
“Israel, sebagai kekuatan pendudukan, bertanggung jawab penuh atas konsekuensi dari tindakan ilegal dan provokatif ini,” demikian isi pernyataan tersebut.
Hingga laporan ini disusun, belum ada indikasi perubahan kebijakan terkait pembatasan akses ke kompleks Masjid Al-Aqsa dalam waktu dekat.
































